Tembakan confetti berjatuhan di atas kepala Jeno. Si pelaku—Donghyuck—langsung merangkul pundak Jeno sembari mengajaknya lompat-lompat kecil untuk merayakan rampungnya sidang si manis, "Wuuuu! Finally lo wisuda! Wisuda, wisuda, yey, yey, wisuda!"
Jeno tertawa kecil dan ikut meladeni kelakuan Donghycuk. Well, di sini seharusnya yang heboh itu Jeno, tapi malah Donghyuck yang mewakilkan. Jeno sudah tidak memiliki tenaga untuk jingkrak-jingkrak seperti ini sejujurnya.
"Makasih, Hyuck. Akhirnya lega bisa selesai."
Donghyuck menepuk pundak Jeno beberapa kali. "It's okay, lo udah melakukan yang terbaik. Sebagai hadiah keberhasilan lo, nih, gue kasih buket istimewa. Gue sendiri yang bikin khusus buat lo."
Jeno lagi dan lagi tertawa. Buket pemberian Donghyuck ini bukanlah buket yang isinya bunga pada umumnya, melainkan permen jelly dibentuk bunga.
"Bunga mahal, mending kreasi," ujar Donghyuck menjelaskan.
Si manis itu berdehem, tak lupa mengucapkan terima kasih. Sudah dibawakan begini pun tidak apa-apa, toh teman yang Jeno miliki hanya Donghyuck yang benar-benar dekat.
Melihat teman-temannya lain yang didampingi bestie-bestie mereka, sejujurnya bikin Jeno ada rasa iri sedikit. Lalu setelah itu mereka melakukan sesi foto bersama untuk mengabadikan kenangan. Benar-benar akan menjadi memori yang takkan pernah bisa terlupakan.
"Sini," panggil Donghyuck tiba-tiba. Menarik lembut tangan Jeno agar sedikit merapat dengannya.
Donghycuk mengeluarkan ponselnya, lalu tangannya diangkat tinggi-tinggi membuat Donghyuck dan Jeno dalam satu layar foto. "Hadap kamera lalu bilang 'Jeno cantik'!"
Jeno menoleh cepat menghadap Donghyuck dengan tatapan sengit. Baru akan melayangkan protes, suara jepretan kamera ponsel Donghyuck sudah memotret keduanya. Mata Jeno membulat lebar begitu Donghyuck menunjukkan hasil foto mereka sambil menahan tawa.
"Ih, Hyuck, jelek! Hapus nggak?!"
"Nggak mau. Ini lucu kok. Pipi lo jadi kelihatan makin gembul."
"Ihhh, Hyuck!" Jeno menarik lengan hoodie hitam Donghyuck, sedangkan tangan satunya berusaha meraih ponsel Donghycuk yang diangkat tinggi agar Jeno tidak dapat menjangkaunya.
"Tck, Hyuck! Bawa sini, aku mau hapus fotonya!"
Donghycuk tak mengindahkan rengekan Jeno. Malahan dia mentertawakan Jeno karena tidak berhasil menggapai ponselnya. Berakhirlah kedua pasang sahabat itu saling kejar-kejaran.
...
Jeno masuk ke dalam rumah sewanya sambil menenteng sepatu. Lelah mendera, sekujur tubuh pun terasa pegal. Usai meletakkan sepatunya di rak, Jeno langsung menjatuhkan badannya di sofa, memposisikan badannya berbaring untuk memulihkan sejenak energinya.
Salahkan saja ajakan Donghyuck, ia jadi keasikan bermain di timezone, sampai-sampai lupa waktu dan baru tiba di rumah sewanya pukul delapan malam. Benar-benar gila.
Dalam keheningan malam, tiba-tiba saja Jeno terpikirkan sosok Jaemin.
Selama seminggu ini Jaemin benar-benar tidak pernah muncul dan mengusik ketenangannya. Pria itu seperti hilang tanpa kabar. Jaemin punya nomor telepon Jeno, tapi terakhir kali Jaemin menghubungi Jeno pada saat diminta menjemput Jaemin yang sedang mabuk berat.
Mungkinkah Jaemin tengah menghabiskan waktunya dengan Jaehyun?
Benar, bisa jadi Jaemin sedang bersama Jaehyun. Mereka bisa bebas berduaan tanpa gangguan darinya. Untuk itulah Jaemin tidak pernah lagi muncul, pasti pria itu telah sadar jika waktunya hanya digunakan untuk mengejar Jeno, itu semua hanya akan berakhir sia-sia.
Mereka saat ini pasti sedang membahas hal random, melempar canda tawa, saling berpelukan berbagi kehangatan, lalu tanpa sadar berciuman, kemudian—
"Aih, apa-apaan sih mikirnya!" Jeno mencibir mengomeli dirinya. "Lagian bukan urusanku, ngapain juga aku pikirin."
Meskipun mulutnya berkata seperti itu, tapi kenyataannya hatinya tidak demikian.
Jeno melamun. Jikapun benar alasan Jaemin tidak mengusiknya lagi karena Jaemin memilih bersama Jaehyun, itu artinya Jeno harus segera mengurus surat perceraian, 'kan?
...
Kelopak mata Jeno perlahan terbuka. Dalam beberapa detik ia masih tetap di posisinya hanya untuk mencerna situasi saat ini.
Entah dari jam berapa Jeno ketiduran, terakhir yang ia ingat masih berbaring di sofa. Tapi sekarang Jeno sudah bergelung nyaman di kasurnya. Jangan lupakan pakaiannya juga sudah berganti piyama.
Eh?
Jeno menyingkap selimut dengan gerakan kilat. Pakaian? Pakaiannya sudah diganti, tapi siapa yang menggantikannya pakaian?
Tapi tunggu, Jeno baru sadar ada eksistensi lain di rumah sewanya. Tidak, tidak, bukan hantu, tapi seseorang yang cukup dikenalnya. Seseorang yang seminggu ini nggak pernah nongol.
"Jaemin?" gumam Jeno pelan. Memastikan jika ini bukanlah mimpi. Ia seratus persen sadar kok.
Pria itu tidur di sofa tempatnya ketiduran sebelumnya, dan juga masih mengenakan pakaian kerja. Di sandaran kursi, jas hitam milik Jaemin tersampir begitu saja.
Jeno melirik ke arah jam dinding. Baru pukul satu dini hari.
"Kenapa bangun?"
Tersentak kecil. Jeno lekas menoleh lagi pada Jaemin, di mana pria itu masih di posisi sama.
"Lo juga kenapa kok bangun?" tanyanya alih-alih memberikan jawaban.
"Saya belum mengantuk."
Jeno mencibir dalam hati. Tubuhnya menyandar ke headboard ranjang. "Lo ... kenapa ke sini?"
"Nggak boleh?"
"Iya, gak boleh! Seminggu ngilang, eh tiba-tiba muncul lagi, kayak jalangkung aja lo."
Jaemin terkekeh geli sebelum akhirnya bangkit duduk. Sorot matanya menatap lurus ke arah Jeno. "Kamu kangen saya, ya?"
"Dih, nggak ada faedahnya juga kangenin lo."
"Oh, ya?"
Jeno merotasikan matanya malas. Seminggu tidak ada kabar, muncul-muncul menyebalkan. "Lo tuh aneh tau nggak. Kenapa malah ke sini? Jaehyun pasti nyariin lo, mending besok lo langsung pulang."
"Tenang aja, dia nggak bakalan nyari saya lagi."
"Kok gitu?"
"Saya sudah menceraikan Jaehyun."
"HAHH?!?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rhapsodic
FanfictionBagaimana mungkin seorang selingkuhan malah jatuh cinta pada istri pria yang menjadi selingkuhannya? Tampak tidak masuk akal, tapi seperti inilah kenyataannya. Na Jaemin, pria cantik yang berselingkuh dengan pengusaha batu bara yang telah menikah, J...
