Chapter 9

1.9K 199 20
                                        

Dahi Jaemin mengernyit. Kedua matanya yang terpejam pun perlahan terbuka. Sedikit mengerjap guna mengembalikan pandangan sebelum oniksnya berakhir memandang sosok dalam dekapannya.

Lengan Jaemin sejujurnya mati rasa. Mungkin karena dijadikan bantal oleh Jeno. Namun, Jaemin diam membiarkan. Asik menyelami paras ayu Jeno yang tenang bak bayi saat terpejam cantik begini.

Berbeda ketika si manis membuka mata. Galak. Tapi Jaemin tetap suka apapun yang ada dalam diri Jeno.

Rencananya berhasil. Malah tak menyangka akan berakhir memeluk Jeno secara langsung.

Semalam Jaemin memang benar-benar mabuk, tapi sebelum permainan drama dimulai, Jaemin telah bekerja sama dengan pelayan bar untuk menghubungi kontak dengan nama "Calon Istri" ketika dirinya mulai tak sadarkan diri. Itu karena Jaemin ingin tahu, ke mana Jeno pergi sampai tidak pulang, ternyata si cantik ini memiliki rumah sendiri.

Dipandanginya tanpa bosan sosok di sampingnya. Hingga bermenit-menit lamanya, mata si manis itu bergerak tipis-tipis. Kelopak yang tertutup tersebut terbuka perlahan dibersamai tangannya yang reflek hendak mengusap mata. Namun, dengan sigap Jaemin menahan niat Jeno.

"Jangan, nanti bisa iritasi."

Dapat dilihatnya keterdiaman si manis yang menatapnya penuh kebingungan. Apalagi posisi keduanya yang begitu dekat. Jeno terlihat sedang memindai keberadaan Jaemin.

Dan benar saja, tidak sampai semenit, Jeno langsung menjerit bak perawan yang hendak diperkosa. Dia juga tak segan menendang Jaemin hingga jatuh terjerembab mencium lantai. Posisi Jaemin menghadap ke sandaran kursi, jadi sekali didorong pun Jaemin bisa langsung terjatuh.

"Anjing, enak banget lo meluk-meluk gue. Najis. Pergi lo sekarang!"

"Tangan saya mati rasa karena kamu tindih, kamu malah aniaya saya seperti ini."

"Ya ... itu salah lo kenapa narik gue terus ngekep kenceng banget! Nggak usah playing victim lo. Nggak heran jadi istri kesayangan, curiga kalo lo udah banyak ngefitnah gue di depan Jaehyun."

Jaemin lantas mendatarkan ekspresinya mendengar hal tersebut. Jaemin mendadak tidak suka setiap kali mereka bersama tapi Jeno selalu mengungkit Jaehyun, Jaehyun, Jaehyun, dan menuduh dirinya berkata macam-macam kepada Jaehyun. Padahal aslinya Jaemin malah tidak pernah membicarakan Jeno ketika sedang bersama Jaehyun.

"Tidak bisakah jangan membahas Jaehyun saat kita sedang berdua?"

"Kenapa? Gak terima lo? Tenang aja, gue juga udah gak peduli lagi sama kalian. Gue lagi berusaha ngurus surat cerai. Setelah gue sama Jaehyun resmi, gue nggak bakalan nampakin diri di hidup kalian. Kalian bebas mau ngentot di manapun, terserah, gak bakalan ada yang—"

"Saya bilang jangan pernah membahas Jaehyun ketika kita sedang berdua, kamu ngerti bahasa manusia, 'kan?!" sela Jaemin emosi. Rautnya menunjukkan ketidaksukaan. Sorotnya pun berubah, menatap dengan tajam.

Jeno membisu, tak bisa berkata-kata sepatah kata pun. Mengapa Jaemin semarah itu ketika dirinya membawa-bawa Jaehyun ke dalam pembahasan mereka? Berarti benar 'kan kalau pria itu suka membicarakan Jeno kepada Jaehyun yang tidak-tidak.

Begitulah kesimpulan Jeno.

Tapi merasakan aura di sekitar Jaemin yang tampak berubah drastis—mencekam—membuat nyali Jeno langsung menciut. Jaemin terlihat tidak seperti biasanya.

"Laper."

Kelopak cantik Jeno berkedip beberapa kali. Ia mengernyit heran lantaran apa yang diucapkan Jaemin tak sesuai dengan emosinya barusan yang membuat Jeno ketakutan.

"Laper?" Pada akhirnya ia bertanya, walaupun dengan suara pelan, memastikan bahwasanya pendengarannya sedang tidak bermasalah.

"Saya laper, Jeno."

RhapsodicTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang