Chapter 7

1.7K 171 9
                                        

Sepiring nasi dengan omelette yang dihias emotikon senyum menggunakan saus tersaji di depan Jeno. Di samping piringnya, terdapat segelas susu cokelat sebagai pelengkap.

"Terima kasih, Bi."

Bibi Darmi tersenyum hangat. "Sama-sama. Selamat menikmati sarapannya, Nak Jeno."

Jeno melahap pelan-pelan makanannya. Hari ini ia sudi makan di rumah karena bi Darmi mengatakan kalau Jaehyun ada kerjaan di pertambangan. Sementara Jaemin ... ah, pelakor itu, Jeno menghela mengingat sosok yang semalam menjadi pahlawan kemalaman yang tiba-tiba datang membantu, menenangkan, sampai menemaninya hingga ia tidur dan melupakan rasa takut mati lampu bersama hujan badai di luar rumah.

Jaemin mengunjungi restorannya. Ada masalah yang membuat pria itu segera pergi meski hari masih gelap, menjelang fajar lebih tepatnya.

Rumah jadi sepi, hanya ada bi Darmi yang berkutat di dapur membuatkan Jeno sarapan ketika si manis itu bangun.

Kebetulan hari ini Jeno tidak ada kelas. Jeno berencana mengepak beberapa barangnya untuk dipindahkan ke rumah sewa miliknya, mumpung dua orang yang menjadi alasannya ingin pergi sedang tidak ada di rumah. Jeno bisa mengelabuhi bi Darmi, sehingga wanita paruh baya itu takkan bisa melaporkannya kepada Jaehyun atau Jaemin.

Tentunya Jeno minta dijemput oleh Donghyuck. Tidak mungkin ia meminta tolong kepada supir pribadi untuk membantu, sama saja keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang singa.

Usai sarapan, mandi, lalu berbenah sedikit-sedikit, kini Jeno sudah siap dengan tas ransel berisi sebagian pakaiannya dan sebuah tas jinjing agak besar yang berisi sisa pakaian dan juga barang penting lainnya.

Ketika melewati ruang tamu, ia sempat ditanya oleh bi Darmi, tapi Jeno menjawab dengan alasan ingin pergi keluar untuk kerja kelompok bersama Donghyuck. Wanita itu sama sekali tak menaruh rasa curiga, hanya mengiyakan lalu mengucap selamat tinggal setelahnya.

Saat ini Jeno sudah berada di dalam mobil Donghyuck-walaupun mobil pinjaman sih. Melaju menuju rumah sewa yang cukup jauh dari lokasi rumahnya bersama Jaehyun.

"Jujur, Je, gue takut lo kena masalah."

Jeno melirik Donghyuck dengan bibir manyun. Merasa jengah oleh kekhawatiran Donghyuck sampai mengatakan kalimat "takut dirinya terkena masalah" berulang-ulang. Ia saja tak merasa takut, sahabatnya itu yang terlalu berlebihan.

"Nggak usah khawatir. Aku pergi pun pasti Jaehyun bodoamat. Paling cuma si pelakor itu," tuturnya diakhiri helaan napas lelah. "Dia berlagak seolah-olah paling peduli, padahal dia duluan yang nyari gara-gara."

"Gue nggak mau berprasangka, tapi dilihat dari perlakuan dia ke elo, kemungkinan dia suka sama lo, Je."

Kening Jeno mengernyit tak suka oleh ucapan Donghyuck. "Ngaco deh kamu! Dia itu bertingkah sok peduli karena pengen nyari muka ke Jaehyun. Sebenernya dia nggak perlu bersusah-susah pake caper segala, aku juga udah muak, pengen cepet-cepet pergi sejauh mungkin dari neraka itu," balasnya uring-uringan.

Hal itu mengingatkan Donghyuck pada kejadian kemarin, saat dirinya bertanya tapi mendapat respons menyakiti hatinya. "Kamu adalah sahabatku satu-satunya, aku ingin kamu dapat pasangan yang bukan bekas orang lain, Hyuck", itu adalah kalimat dari Jeno yang masih dengan jelas terekam di benaknya.

"Justru lo yang nggak peka situasi," gumamnya pelan. Saking pelannya cuma terdengar samar di telinga, apalagi juga terendam suara mesin mobil.

"Kamu ngomong apa?"

"Nggak papa. Btw, habis ini lo mau ngapain?"

Si manis terlihat berpikir. Benar juga, selain beberes barangnya yang sedikit, kemungkinan tidak ada kegiatan lagi.

"Kamu sendiri mau ke mana, Hyuck?"

Donghyuck terkekeh. Ia menanyai malah berakhir ditanya. "Gue mau nongkrong bareng Sunwoo, Soobin, Hyunjin sama Sunghoon."

"Aku ikut boleh?"

"Ngapain ikut? Mereka pada nyebat, bayi kayak lo nggak boleh hirup asep rokok."

Jeno menampilkan raut julid. "Pasti kamu juga ikutan ngerokok, 'kan? Udah aku bilangin jangan ngerokok, kok masih ngerokok sih, Hyuck!"

"Mana ada. Gue udah berhenti jadi perokok aktif. Temen-temen gue doang yang ngerokok, paling gue ngopi."

"Bagus, deh. Awas kalo ketahuan ngerokok, aku gamau bicara sama kamu selamanya!"

Sudut bibir Donghyuck berkedut menahan senyum. Lihat, siapa yang nggak makin jatuh cinta sama seorang Lee Jeno kalau orangnya sendiri selucu dan seperhatian ini?

....

"Mark, apa yang kamu lakukan untuk menaklukkan seseorang yang benci padamu?"

Sosok pemuda bersurai honey brown itu seketika menghentikan kegiatan menulisnya. Terlihat sebelah alis camarnya terangkat, mencerna maksud sang atasan yang tiba-tiba bertanya demikian.

"Justru saya nggak bisa ngasih jawaban karena saya sendiri nggak merasa punya orang yang benci saya. Kenapa kamu bertanya seperti itu, Bos?"

"Kira-kira saja jawabnya. Saya butuh pendapat."

Mark berkedip beberapa kali dengan mulut terbuka. Ini bosnya sedang berusaha menaklukkan musuhnya kah? Tapi tidak mungkin, Jaemin bukan tipe orang yang meladeni musuh. Kalau mereka benci, ya, silakan benci, Jaemin tidak peduli. Asal tidak menyenggol duluan, Jaemin tetap bersikap bodoamat. Namun, sekarang Jaemin meminta pendapat cara menaklukkan orang yang benci padanya menggunakan Mark sebagai perumpaan.

Mencurigakan.

"Mungkin saya bakal menjauh. Saya sih nggak mau ngejar duluan, capek, mending tidur. Kalo kenyataannya dia nggak mau didekati, sama aja usaha menghianati hasil, 'kan? Daripada repot ngejar, lebih baik mundur duluan."

Terdengar helaan napas dari Jaemin. "Tidak seharusnya saya minta pendapat sama submisif," ujarnya putus asa. Jawaban Mark tadi membuatnya semakin tak bisa berpikir jernih.

"Kan bos sendiri yang minta pendapat saya, bukannya berterima kasih!" Pemuda manis itu mengomel. Jaemin menggaruk ujung hidungnya berpura-pura tuli.

Di antara pekerja lain, memang hanya Mark yang paling berani. Tak melihat siapa atasan di sini, selagi Mark benar, tidak ada alasan bagi pemuda manis itu takuti.

"Saranku, kamu bisa bersikap lebih lembut, jangan terlalu memperlihatkan sikap kalau kamu ingin dekat. Semisal dia menunjukkan perlawanan, kamu bisa lebih ngontrol emosi. Yakin deh perlahan-lahan egonya bakal kebanting sama perlakuan lembutmu. Orang yang kelihatan benci sama kita kadang perlu waktu juga untuk menerima, kalau terlalu gegabah, jangan harap kamu bisa mendekatinya."

Dicatat. Jaemin menoleh pada sosok suara yang memberinya saran. Memberi senyuman penuh rasa terima kasih pada gerangan bername tag Sakuya Fujinaga pada seragam sekolahnya. Seperti pahlawan kesiangan, datangnya pelajar berbadan bongsor itu ternyata sangat membantu.

"Ck ck ck, kamu kalah sama bocah SMA, Bos."

"Diem kamu."

RhapsodicTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang