Chapter 11

1.3K 183 20
                                        

Votenya lah anying!

...

Tujuh hari.

Terhitung sudah tujuh hari hidup Jeno berjalan damai. Suasana hatinya pun selama tujuh hari ini tampak lebih baik.

Dosbingnya sudah meng-acc skripsinya. Hanya perlu melakukan revisi kecil-kecilan, setelah itu ia akan mengurus segala persiapan sidangnya.

Mungkin hari ini menjadi hari terbahagia bagi Jeno. Ia sudah hampir mendekati masa kelulusannya. Perjuangannya hampir usai. Tak sia-sia dia begadang sampai sempat diinfus karena kurang istirahat dan pola makan tidak teratur. Yang terpenting ia tinggal sidang, setelah itu wisuda. Ia tidak akan dikejar-kejar oleh deadline lagi!

Jeno terkikik kecil di sela langkahnya menuju pintu keluar aula fakultasnya. Sepanjang jalan pun senyum manisnya merekah bahagia.

Tapi selama enam hari bergelut dengan skripsinya, Jeno benar-benar merasa aneh. Kedamaian yang terasa tidak wajar. Itu dimulai sejak pertemuannya terakhir kali dengan Jaemin. Istri kedua suaminya itu tidak terlihat lagi di sekitarnya, seolah lenyap ditelan bumi. Biasanya Jaemin bakal selalu muncul, entah itu sekadar membuatnya kesal tiap kali melihat kemunculannya yang memang tak diharapkan.

"Bagaimana kalau saya bilang, saya suka kamu?"

Jeno duduk di taman kampus dengan wajah masam. Ingatannya kembali berputar oleh perkataaan Jaemin waktu pria itu menginap di rumah sewanya. Pada saat itu Jeno mengira suka yang Jaemin maksud itu suka sebagai istri kedua, dia menyukai wibawa Jeno sebagai istri pertama yang tegar dimadu. Maka dari itu Jeno cuma menanggapinya dengan galak. Mengatai Jaemin tidak waras dan terakhir memberinya umpatan.

Lagipula Jaemin itu pria yang aneh—menurut Jeno. Dibanding dekat dengan Jaehyun, Jaemin justru menempelinya. Itu tidak wajar bagi seorang istri kedua yang beralasan ingin dekat dengan istri pertama. Kedekatan yang Jaemin tunjukan itu tidak seperti ingin menjalin hubungan baik karena keduanya adalah istri Jaehyun.

Jaemin terlalu terang-terangan mendekatinya—sebagai seseorang yang menyukainya, bukan seorang istri kedua yang ingin berhubungan baik dengan istri pertama.

Jaemin juga posesif, sok melarang-larangnya seolah dialah yang menjadi peran sebagai suami Jeno. Seperti waktu itu Jeno menginap di apartemen Donghyuck.

Jeno menghela napas panjang. Memikirkan sikap Jaemin yang sulit ditebak seakan tidak ada habisnya. Pasalnya, Jaemin itu tidak bisa diprediksi. Banyak banget kejutan-kejutan aneh yang pria itu lakukan sampai bikin Jeno berakhir memikirkannya. Itu lebih berat dari tugas-tugas kuliahnya.

Tapi tunggu, kenapa Jeno jadi mikirin Jaemin coba?!

"Ewh, najis, najis!"

...

"Kapan sidangnya?" Donghyuck bertanya. Tangannya sibuk mengetik di papan keyboard, sementara fokusnya ada pada layar laptop di depannya.

"Minggu depan. Takut banget, Hyuck. Takut dibantai pas aku nge-blank huhuhu."

Donghyuck berhenti ngetik. Kini sorotnya beralih pada sosok cantik di depannya. Ia terkekeh pelan sebelum kemudian tangannya yang sempat merogoh saku jaket hitamnya itu menyodorkan dua buah tiket konser. Sontak hal itu berhasil bikin Jeno membelalak.

"Hyuck!" Jeno menjerit tak percaya. "Kamu dapet tiketnya? Bagaimana bisa?"

Donghyuck menaik-turunkan alisnya dengan senyuman tengil khasnya. "Dandan yang cantik, nanti malem gue jemput."

Jeno mengernyit galak, lantas mencubit main-main punggung tangan Donghyuck. "Udah, deh, mending kamu selesaiin itu skripsimu. Yang lain udah pada mau sidang, kamu sendiri masih betah nyusun skripsi. Padahal dosbing kamu gak banyak gaya, tapi kamunya yang kebanyakan gaya."

"Loh? Justru gue meneliti dengan tujuan skripsi gue bisa berguna di masa mendatang. Walau memakan banyak waktu, gue juga gak masalah. Gue 'kan calon Albert Einstein versi moderen dan gaul."

"Hilih, banyak gaya banget!"

...

Jeno manyun. Sedih dia tuh karena rencananya gagal, sebab hujan badai angin ribut, padahal dia kepengen banget dateng ke konser yang diselenggarakan UKM musik di kampusnya. Tiket sudah di tangan, tapi cuaca yang tidak mendukung.

Donghyuck sudah mengabari kalau lebih baik tidak usah datang. Dia nggak mau ambil risiko yang bisa mencelakai Jeno dan dirinya kalau nekat menerobos badai hujan. Alhasil Jeno cuma bisa duduk memandang jendela kamar rumah sewanya, menatap bagaimana air dari langit berjatuhan begitu deras, bersamaan dengan angin yang menggoyangkan daun-daun pohon dengan begitu kencang.

Langit beberapa kali memancarkan cahaya kilat halilintar. Membunyikan gema mengerikan yang bikin Jeno buru-buru menutup gorden lalu naik ke kasur. Ia meringkuk, menyembunyikan badannya di balik selimut sambil menutup kedua telinga. Menghalau suara-suara mencekam dari petir-petir berkilat itu.

Badan Jeno menegang hebat pada saat bunyi petir tak diundang menggelegar sangat keras. Memekakkan telinga sekaligus mampu memadamkan lampu yang semula terang.

Hanya kegelapan yang saat ini dapat Jeno lihat. Sumber cahaya kilatan-kilatan di luar yang berhasil masuk melalui celah ventilasi, masuk ke dalam kamar Jeno dan membuat suasana menjadi semakin mencekam.

Sekali lagi, Jeno tidak berani jika berhadapan dengan situasi gelap mati lampu, ditambah guntur dan hujan deras seperti ini. Dia hanya bisa meringkuk lemah, menutup seluruh tubuhnya di balik selimut guna menyembunyikan rasa takutnya.

Kegelapan membawa pikiran buruk di benak Jeno. Bayangan hantu pun turut singgah di pikirannya. Mata cantiknya yang sudah basah air mata dipejamkan erat. Ia terisak tanpa ada seorangpun tahu. Tubuhnya bergetar hebat.

Bolehkah jika saat ini Jeno mengharap kedatangan Jaemin?

Tapi dirinya bahkan tidak tahu Jaemin saat ini sedang apa. Apa mungkin pria itu sudi datang di tengah badai hujan petir ini hanya untuk menjadi pahlawan seperti saat itu?

Jaemin tidak mungkin datang. Dia pasti sudah muak oleh kalimat-kalimat jahatnya, makanya seminggu ini Jaemin tidak terlihat.

"Jaemin ...." Jeno hanya bisa menyebut namanya dengan suara lirih, tapi pada kenyataannya raga Jaemin tidak ada bersamanya saat ini.

....

Info aja, mau gue tamatin ini booknya. Kemungkinan antara chapter 14 atau 15 dah selese ni book. Thanks yg udh ninggalin jejak kalian.

RhapsodicTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang