Chapter 5

2K 206 28
                                        

"Jeno, Bibi bawain makan malam, nih. Bibi izin masuk, ya, Nak."

Hening. Tak ada tanggapan dari si pemilik kamar.

Dengan perlahan, bibi Darmi membuka sedikit pintu kamar Jeno. Dia mengintip suasana di kamar yang ternyata gelap gulita.

Bi' Darmi melangkah masuk sembari tangan satunya yang tidak digunakan memegang nampan, mencari saklar lampu. "Nak, Bibi izin nyalain lampu, ya. Bibi nggak bisa lihat kamu kalau gelap begini," tuturnya lembut. Jemarinya kemudian menekan saklar, menimbulkan bunyi 'ctak' singkat, mengisi suasana kamar yang sunyi tersebut, hingga kamar yang tadinya gelap kini menjadi terang.

Dilihatlah gumpalan besar dibalik selimut, membuat bi' Darmi tersenyum maklum setelahnya. Wanita paruh baya itu menaruh nampan makanan dengan segelas susu yang dibawanya di meja samping tempat tidur. Tangan kanannya menyingkirkan selimut yang menutup seluruh tubuh Jeno dengan gerakan hati-hati.

"Jeno, makan dulu, yuk. Sejak pulang tadi kamu belum makan, 'kan? Sekarang makan, yuk," bujuknya lemah lembut. Dia tak ingin semakin mengacaukan suasana hati sang tuan yang sedang bermuram ini.

"Aku nggak laper, Bi. Bibi makan aja nggak papa, biar nggak kebuang."

"Ini makanannya 'kan khusus buat Nak Jeno, masa Bibi makan, sih. Makan dikit aja deh kalau nggak nafsu. Seenggaknya perut kamu keisi."

"Enggak, Bi, terima kasih." Setelah berkata demikian, Jeno membalik posisinya memunggungi bi' Darmi. Matanya terpejam mencoba untuk tidur.

Wanita paruh baya itu menghela napas. Melihat kondisi Jeno saat ini, ia tidak bisa memaksa sang tuan, karena tugasnya sedari awal hanya mengantar makan malam kepada Jeno atas perintah Jaemin.

Pada akhirnya bi' Darmi keluar dari kamar Jeno bersama nampan di tangannya.

"Kenapa makanannya masih utuh?"

Bi' Darmi menoleh kaget ke arah Jaemin yang sudah berdiri di belakangnya. Mengejutkan sekali. Wanita itu kemudian menggeleng, mengisyaratkan melalui pergerakan bahwasanya Ia tidak bisa membujuk Jeno untuk makan.

"Nak Jeno bilangnya tidak lapar, Tuan. Maaf."

Jaemin menepuk pundak bi' Darmi pelan. "Yaudah, Bi, dibawa ke dapur aja. Saya bakal coba ngomong sama dia."

"Uhm, maafkan saya sebelumnya, Tuan. Apa tidak sebaiknya Anda memberikan waktu kepada Nak Jeno untuk sendiri? Saya kasihan melihat Nak Jeno, apalagi perihal masalah kalian ... urm—"

"Ya, saya tahu. Baiklah kalau gitu, Bibi duluan, saya mau kembali ke kamar setelah ini."

"Baik, Tuan. Selamat malam."

Jaemin memandang pintu kamar Jeno dengan ekspresi muka yang tak bisa dijelaskan. Pria itu dengan tidak membuat suara membuka pintu kamar Jeno. Ditatapnya sosok yang terbaring itu selama beberapa detik, badannya setengah menunduk, rupanya tangan kirinya menaruh sebuah salap di atas meja samping tempat tidur.

Usai menegakkan badan, pria itu kembali melirik sosok istri pertama Jaehyun. Benar-benar tak melakukan apapun, hanya sekadar memandang.

Ingin sekali rasanya Jaemin membelai pipi tirus itu. Namun, Jaemin masih tahu batasannya.

....

"Habis dari mana, Sayang?"

Jaemin melirik sekilas ke arah Jaehyun yang berada di atas kasur, tengah bersandar pada headboard ranjang. "Menengok keadaan Jeno," jawabnya singkat. Ia mendudukkan dirinya di samping Jaehyun sembari memangku laptop yang menyala.

"Kamu nggak perlu terlalu memerhatikan Jeno. Dia udah besar dan seharusnya mengerti. Lebih baik kamu memerhatikanku. Apakah boleh aku minta itu malam ini?"

RhapsodicTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang