"Ini untukmu."
Sebuah buket bunga mawar dan satu paper bag berukuran sedang disodorkan kepada Jeno. Si manis itu tampak mengernyit, merasa janggal oleh tindakan tiba-tiba tersebut.
"Kejutan saya kelewat satu hari tidak apa, 'kan?" ujarnya lagi begitu menyadari raut kebingungan Jeno. "Selamat atas sidangnya. Maaf karena saya nggak hadir saat kamu selesai. Kamu sudah berhasil melakukannya, saya sangat bangga."
Jeno tak berkata apa-apa, hanya menerima bawaan yang Jaemin berikan lalu mengucap terima kasih dengan suara seperti gumaman.
Sorotnya kini mencuri-curi pandang pada isi di dalam paper bag. Kurang dari tiga detik, kelopak cantik Jeno langsung terbelalak menyadari apa isi di dalamnya.
"Anjir, apaan ini maksudnya?!" Dengan tangan yang dibuat gemetar dramatis, ia mengangkat kotak beludru kecil berwarna hitam yang isinya adalah sebuah cincin emas bermata tiga berlian merah di tengah. "Berapaan ini, gila. Ini asli apa boongan?" Jemari lentiknya memutar-mutar cincin tersebut untuk memindai keautentikan benda yang tampak sangat mahal itu.
"Itu asli, edisi terbatas. Dibuat khusus hanya untuk kamu."
Jeno seketika membisu. Wajahnya menampilkan raut keterkejutan tak berujung. "Gue nggak bisa ambil, ini terlalu berlebihan." Jeno lekas memasukkan kembali cincin indah itu ke dalam kotaknya. Ia berniat mengembalikannya pada Jaemin.
Keluarga Jeno memang punya penghasilan yang cukup, tapi mau dikata kaya banget juga enggak. Harta peninggalan mendiang orang tuanya tidak sampai angka dua belas nolnya. Disuguhi benda mahal, yo jelas ndak sanggup Jeno. Apalagi yang memberi adalah saingannya sendiri—alias si istri kedua suaminya.
Harga diri sebagai seorang istri pertama yang bahkan berpenghasilan aja belum, merasa tercoreng dan diinjak habis-habisan.
"Itu sekarang jadi milikmu. Hadiah menjelang kelulusan sekaligus sebagai bentuk saya mau melamar kamu."
"HAH?!"
Jangan tanya bagaimana reaksi Jeno. Dia sudah nggak karuan.
"Lo ... kalo jadi komedian kayaknya bakal kena koreksi mulu deh dari juri, karena nggak lucu jokes-nya."
"Saya serius, Jeno."
Untuk kesekian kalinya Jeno berhasil dibuat sulit untuk sekadar merespons. Dia diam berkutik dengan ekspresi bingung campur heran. Memang kesannya bukan seperti sesuatu yang rumit, tapi percayalah saat ini Jeno tengah kesulitan mencerna setiap apa yang Jaemin serukan.
Ungkapan Jaemin membingungkan, apalagi kalau dikilas balik saat pertama kali pria itu datang ke dalam kehidupan pernikahannya bersama Jaehyun. Namun, sekarang dengan mudahnya Jaemin dan Jaehyun berpisah, padahal dari awal mereka berdua tampak saling mencintai.
Ini membingungkan. Disaat Jeno sudah yakin ingin jauh dari dua orang yang membuatnya sakit hati, tiba-tiba saja satu di antara dua orang itu—alias si istri kedua suaminya—datang lagi ke kehidupan Jeno, memberitahu bahwa dia hendak melamarnya.
Ini gila, tidak masuk akal!
"Terus buat apa lo nikah sama suami gue kalo pada akhirnya kalian pisah? Pernikahan bukan buat dimainin. Gue udah kehilangan muka dan dicap kurang ajar sama suami gue sendiri, itu semua karena lo. Lo kalo emang dari awal nggak niat nikah, nggak usah nikah. Gue bilang gini karena gue cuma mau pertahanin pernikahan gue, tapi lo dateng dan ngerusak semuanya. Sekarang Jaehyun bahkan benci sama gue," sentak Jeno tak tertahankan. Ia tak peduli, Jeno cuma mengeluarkan apa yang dirasakannya selama ini.
"Terus, gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba lo dateng dan ngomong pengen ngelamar gue. Lo ... Lo tolol banget tau gak, bajingan! Lo kalau nggak terima gue kata-katain selama masih jadi istri Jaehyun, ngomong aja sekarang depan gue. Gue tau lo cuma mau bales dendam, lo pikir gue goblok bisa lo tipu?"
"Lo bajingan! Berengsek! Gak ada otak lo! Lo pelakor, gue benci banget sama lo, Na Jaemin!" Jeno berteriak putus asa sembari memukul-mukul pundak Jaemin. Ingatan saat melihat orang di depannya ini bersanding dengan suaminya, disaksikan secara langsung oleh banyak orang yang menyanjung kedua orang itu karena tampak serasi dan seperti pasangan impian setiap orang. Itu amat sangat menyakiti perasaan Jeno dikala mengingatnya.
Jaemin tak bereaksi banyak. Dia diam dan membiarkan Jeno mengamuknya. Mau bagaimanapun ini juga kesalahannya sendiri.
Jaemin salah karena baru mengenal Jeno sebelum Jaehyun. Ia patut disalahkan oleh seseorang yang dirinya sakiti, sekaligus seseorang yang membuat hatinya bisa berpaling dari Jaehyun.
Sial, sungguh rumit sekali.
...
Slurp!
Jaemin mengambil sehelai tisu dari tempatnya. Ia gunakan untuk menyeka noda kuah di sudut bibir Jeno dengan gerakan lembut.
"Pelan-pelan, nanti kamu tersedak."
Jeno tidak menggubris. Hanya menatap sekilas dengan pandangan sinis tak suka, lalu melanjutkan menyeruput ramyeon yang sedang ia santap.
Kejadian dramatis beberapa menit lalu mau tidak mau dipaksa tuntas sebelum waktunya. Itu karena tiba-tiba perut Jeno bergemuruh riuh di tengah dirinya sedang mengamuk. Jujur saja, amat sangat memalukan.
Apalagi menyaksikan ekspresi Jaemin yang berusaha menahan tawanya. Berakhirlah sekarang keduanya singgah di kedai ramyeon tak jauh dari kost Jeno.
Awalnya Jaemin ingin mengajak Jeno makan di restoran, tapi si manis itu menolak dan mengajaknya makan di kedai. Kalau kata Jeno, biarin aja Jaemin ngerasain rasanya jadi rakyat biasa, biar mengerti rasanya saat tidak memiliki uang.
"Serius lo kagak mau ikut makan?" tanya Jeno dengan nada judes.
"Kamu aja yang makan."
"Halah, bilang aja lo gak sudi makan di pinggir jalan begini, 'kan? Belagu amat lo!"
Jaemin diam sejenak menyaksikan kemanisan Jeno yang sedang mengunyah dan bikin pipinya menggembung lucu. Kalau berkenan, Jaemin ingin sekali menggigit pipi gembul itu. Namun, sayangnya tidak mungkin.
"Ya sudah," ujar Jaemin setelahnya. "Pak, tolong satu mangkuk ramyeon."
"Siap!"
Jaemin menaik-turunkan alisnya saat Jeno menatapnya dengan raut julid. "Mau makan di mana saja, asal ada kamu, saya nggak masalah."
"Huek, najis, najis," cibir Jeno sangsi.
Jaemin cuma bisa tersenyum sabar. "Lalu, apa jawaban kamu?"
"Jawaban apa? Gue nggak lagi ngerjain ujian pake segala punya jawaban."
"Tentang ... apa kamu mau jadi istri saya?"
Detik selanjutnya kuah ramyeon yang sedang Jeno seruput tiba-tiba menyembur bebas mengenai Jaemin yang pada dasarnya posisi pria itu ada di depan Jeno.
"Gue punya pertanyaan."
"Apa itu?" balas Jaemin masih mempertahankan senyumnya.
"Lo mau ke RSJ atau ke psikolog?"
....
🙂
KAMU SEDANG MEMBACA
Rhapsodic
FanfictionBagaimana mungkin seorang selingkuhan malah jatuh cinta pada istri pria yang menjadi selingkuhannya? Tampak tidak masuk akal, tapi seperti inilah kenyataannya. Na Jaemin, pria cantik yang berselingkuh dengan pengusaha batu bara yang telah menikah, J...
