Chapter 6

1.6K 170 11
                                        

"Lo yakin? Kalo kata gue mah, mending nggak usah ngadi-ngadi deh lo."

"Aku nggak peduli. Aku tetep yakin sama keputusanku. Lagipula aku bakal pergi diem-diem. Jadi, entah Jaehyun atau si pelakor itu nggak bakalan tahu."

Donghyuck menghela napas. Pasalnya, sahabat manisnya ini nekat menyewa rumah tanpa sepengetahuan suaminya sendiri.

Tadi Jeno datang ke apartemennya, tiba-tiba minta rekomendasi rumah sewa, eh taunya dia berniat menyewa rumah.

Donghyuck takut Jeno terkena masalah lagi oleh Jaehyun, atau mungkin malah istri kedua Jaehyun yang dilihat-lihat juga 'sok ikut campur' itu. Mungkin mau cari muka biar dikira istri yang baik dan peduli supaya Jeno terlihat semakin buruk di mata Jaehyun. Mengingat Jeno adalah tipikal orang yang keras kepala.

"Tapi kalau lo pergi dari rumah, pasti Jaehyun bakal nyari lo ke kampus. Paling enggak ya dia diem-diem buntutin lo sampai ke sini buat tau di mana lo tinggal."

Jeno terdiam di tempat.

Benar juga. Jeno sama sekali tidak memikirkan soal itu. Emosi di hatinya membuat ia tak bisa berpikir rasional.

"Biarin. Biarin dia tau, terus muak, akhirnya dia ceraiin aku. Lagian kalau aku pergi dari rumah juga dia pasti bakal seneng-seneng sama si pelakor, nggak ada yang ganggu, nggak perlu mikir tanggung jawab dari ayahku. Aku sendiri yang mutusin buat pergi, jelas pasti dia seneng bangetlah, hahaha."

Jeno tertawa miris—lebih tepatnya mentertawakan nasibnya. Ia tak mengharap apapun dari Jaehyun. Ia sadar kalau Jaehyun hanya mencintai Jaemin. Jeno hanya sebatas tanggung jawab pria itu, maka tak sepantasnya bukan ia menaruh perasaan apalagi berharap dicintai balik oleh Jaehyun?

"Je, kalau suatu hari nanti lo sama Jaehyun beneran cerai, boleh nggak lo izin gue buat jadi pengganti Jaehyun?"

....

Jeno pulang ke rumah tepat pukul tujuh malam. Di luar sedang hujan gerimis, sisa hujan tadi sore dan baru reda ketika gelap menjemput. Bajunya sedikit basah karena dirinya berlari dari halte menuju rumah.

Pemuda manis itu usai menaruh sepatunya ke rak sepatu, berjalan menaiki tangga. Ia berhenti di tengah-tengah anakan tangga, memandang suasana rumah besarnya—ah ralat, maksudnya rumah besar Jaehyun yang terasa senyap. Seperti tak ada tanda-tanda aktivitas dari asisten rumah tangga dan si pelakor.

"Positif thinking aja, mungkin si bangsat sama pelakor lagi dinner, makanya ini rumah sepi. Bi Darmi juga paling diminta pulang," gumamnya pelan.

Usai mandi, Jeno turun ke bawah. Di ruang makan sama sekali tak mendapati satupun makanan. Bahkan di rak tempat menyimpan makanan juga kosong.

Jeno mendecih penuh ejekan. "Saking senengnya dinner berdua, sampai ngusir bi Darmi pulang, bahkan nggak ngebiarin bi Darmi masak dulu, hahaha."

Mungkin karena hari ini Jeno sedang emosional, dia jadi gampang mewek. Hanya memikirkan Jaehyun dan Jaemin makan malam berdua di tempat yang indah, membuat Jeno semakin menitikkan air mata.

Tiba-tiba bunyi guntur menggelegar keras dari langit mendung. Suaranya yang menakutkan sukses memadamkan lampu dalam sekejap mata.

Di tengah kegelapan mendera, Jeno berjongkok sembari memeluk tubuhnya sendiri. Telapaknya menutup kuat-kuat kedua telinga tatkala melihat kilatan-kilatan petir saling bermunculan memamerkan eksistensi masing-masing, pun diakhiri bersama gema mengerikan di langit yang kini telah menjatuhkan jutaan air dengan deras.

"A-Ayah ... Ayah ...." Suaranya terdengar bergetar ketakutan.

Ia benci petir. Ia benci kegelapan. Ia takut, sangat takut.

Di tengah rasa takutnya, Jeno merasakan sebuah pelukan merengkuh tubuhnya. Terasa hangat dan nyaman. Harum dari gerangan ini pun masuk ke indera penciumannya. Terasa familiar.

"Tunggu sebentar, saya cari lilin du—"

"Enggak, jangan pergi!" Jeno menarik kaos Jaemin; sosok yang memeluknya barusan. Menahan pria itu supaya tidak meninggalkannya.

Jaemin mengelus surai belakang si manis. Bermaksud menenangkannya. "Sebentar aja. Cuma ambil ke laci pantry doang, oke?" tuturnya lembut.

Merasakan tidak ada penolakan, Jaemin bergegas berdiri. Langkah lebarnya membawa Jaemin ke dapur, mengambil satu buah lilin dan piring kecil sekaligus pematiknya. Selesai menemukan apa yang dicari, Jaemin kembali ke tempat Jeno. Menyalakan lilin yang kemudian ditaruhnya di meja makan.

Jaemin berjongkok lagi menyamakan tingginya dengan si manis. Tanpa sepatah kata, membantu Jeno berdiri lalu didudukkannya di kursi. Ia ikut duduk di samping sambil menggenggam sebelah tangan Jeno yang masih terasa gemetar.

"Kamu sudah makan belum?"

Jeno melirik sekilas, kembali memandang meja sembari menggeleng lemah.

Mungkin kalau hari normal, Jeno sudah memukul Jaemin karena berani-beraninya dia berinteraksi dengannya. Sok lemah lembut pula. Tapi untuk saat ini Jeno sedang dalam ketakutan. Jadi, dua membiarkan Jaemin menyentuhnya sesuka hati.

"Saya minta bi Darmi pulang duluan karena hujan hari ini pasti bikin orang-orang terjebak nggak bisa pulang. Jadi, beliau tidak sempat masak untuk makan malam. Tapi untunglah ada saya di sini," ujarnya berbangga diri. "Tunggu sebentar, nggak sampai dua puluh menit saya buatin makan malamnya."

Jeno tidak menjawab. Pemuda manis itu hanya memerhatikan dalam diam ketika Jaemin mengambil dua cup mie ramen instan dari almari gantung.

Bener sih nggak sampai dua puluh menit, lawong yang dia buat aja mie instan.

Jaemin menaruh mie ramen milik Jeno di depan pemuda manis itu. "Maaf, lagi malas berurusan dengan peralatan dapur, jadinya hari ini kita makan mie aja ya."

"Uhm, terima kasih," seru Jeno pelan.

"Huh? Apa?"

"Makasih."

Jaemin dengar, tapi ia masih ingin mengerjai Jeno. Dengan tampang watados (wajah tanpa dosa), Jaemin menyeru, "Apa?"

Membuat si manis menatapnya datar. Tanpa berucap apa-apa, Jeno langsung memakan ramennya. Tak menghiraukan kekehan renyah berasal dari orang di sebelahnya ini.

Biarin aja, biarin!

....

Wah, ternyata udah ganti bulan, yahahaha.

Gimana Januarinya? Aman?

RhapsodicTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang