"Lo ngerasa ada yang aneh gak sama Nevan?" Carlos membuka percakapan lebih dulu dan menatap kedua sahabat nya, mereka kini sedang berada di kelas.
"Maksud Lo?" Davin menyeryit heran.
"Kalian sadar gak si, setiap kita ngomong pengen kerumah dia, Nevan selalu ngeles." Davin mengangguk mendengar ucapan Carlos. Ia juga merasa aneh tentang hal itu, apalagi latar belakang Nevan tidak pernah di sebutkan di Novel.
"Terus gimana?" Tanya Zein.
"Gimana kalau kita pergi ke rumah Nevan diem diem?" Usul Carlos.
"Lo yakin?, gimana kalau Nevan marah?" Davin berucap dengan ragu.
"Itu kita pikirin belakangan, yang penting kita mastiin Nevan gak kenapa-napa dulu gimana?" Ucap Carlos.
Davin dan Zein terdiam sejenak namun kemudian mengangguk menyetujui ide gila yang baru saja Carlos katakan.
Mereka menghentikan percakapannya ketika melihat seorang guru yang masuk ke kelas dan memulai pembelajarannya.
Bel istirahat yang ditunggu akhirnya berbunyi, memanggil para manusia yang sedang kelaparan termasuk Davin dan sahabatnya, namun semua tidak berjalan lancar tepat ketika mereka sampai di pintu kantin terlihat sebuah drama yang dimainkan oleh para tokoh novel.
"Kapan kita bisa makan dengan tenang" Carlos berucap dengan lirih.
"Entahlah, rasanya gue mau pura-pura gak lihat" balas Davin. Mereka bertiga menatap malas pemandangan di depannya.
"HARUS BERAPA KALI GUE BILANG BUKAN GUE YANG BULLY DIA!!" Clarissa berteriak sambil menunjuk Jessica yang saat ini berada disamping Kaivan.
PLAK!
"BERHENTI BERBOHONG SIALAN!" Kaivan menampar pipi Clarissa dengan keras, membuat seluruh atensi kantin berpusat pada mereka.
"KAIVAN!" Suara tegas Davin menghentikan pertengkaran yang sempat memanas.
"Apa tanganmu terasa sangat ringan sehingga terus digunakan untuk memukul saudaramu sendiri!" Davin kembali berucap dengan tegas.
"Gawat, Davin udah mode senggol bacok, abis nih anak" Carlos berbisik pelan pada Zein yang masih mempertahankan wajah datarnya.
"Lo gak usah ikut campur Ka, harusnya sebagai ketua OSIS Lo harus ngebela korban bully!!" Davin mengepalkan tangan nya dengan kuat saat mendengar perkataan Kaivan.
"Lo tau apa yang barusan Lo ucapin!"
Davin kini sudah berwajah gelab.
"Mati nih anak, Zein lakuin sesuatu" Carlos berucap panik.
Zein menepuk pundak Davin bermaksud untuk menenangkannya.
"Biar gue yang urus" Davin menghela nafasnya pelan, kemudian mengangguk.
"Dimana dia bully Lo" Zein menatap Jessica dengan tajam.
"Di gudang ka." Jessica menjawab dengan suara yang bergetar sambil menundukan kepalanya tak berani melihat Zein yang saat ini sangat menyeramkan.
Sementara itu Zein menyeryit heran mendengar ucapan Jesicca, kemudian tersenyum sinis.
"Bodoh" serkasnya.
"APA LO BILANG!!" Kaivan berteriak dengan marah, namun itu tak berakhir baik karna Zein menodongkan pisau lipat miliknya.
"Diam, atau Lo habis ditangan gue" Zein berucap dengan tenang, namun hal itu membuat seluruh penghuni kantin menelan ludah dengan kasar.
"Ini lebih parah dari Davin bjirr" Batin Carlos berucap dengan frustasi.
"Zein..., turunin, turunin biar gue aja yang urus okeyyy" Carlos mencoba membujuk sang sahabat yang tampaknya siap membunuh orang di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAVINDRA ALARIC
FantasíaDI LARANG PLAGIATTTTT!!!!!! BUKAN LAPAK BXB!! Reynald Danadiaksa seorang pemuda yang sedang menikmati hari liburnya dengan bersantai dan membaca sebuah Novel. Namun bagaimana jika Reynald malah masuk kedalam tubuh seorang pemuda bernama Davindra Ala...
