10. Rencana Kejutan

918 68 0
                                        

Nevan membalikan badanya dengan cepat ketika mendengar suara seseorang kini berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Bukan apa-apa" Nevan berucap dengan cepat. Namun hal itu membuat Nevan mendapat tatapan menyelidik dari orang itu.

"Benarkah?, sepertinya saya mendengar anda berbicara dengan orang lain" Orang itu mendekati Nevan dengan perlahan.

"Lukas apa yang kamu lakukan di sini?" Nevan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, Lukas adalah salah satu bodyguard yang ditugaskan untuk mengawasi Nevan oleh orang tuanya.

Lukas mengabaikan pertanyaan Nevan Ia berjalan ke arah balkon kamar milik Tuan Mudanya.

Nevan menghela nafas lega karena teman-temannya telah keluar dari mansion.

"Tuan muda apa anda yakin tidak menyembunyikan sesuatu?" Nevan menggeleng dengan kuat.

"Tidak, memang apa yang bisa aku sembunyikan" Lukas menatap Nevan dengan penuh selidik.

"Baiklah, kalau begitu saya akan mengganti perban anda sekarang" Lukas duduk di sofa kamar dan mulai membuka kotak medis yang ia bawa.

Nevan duduk di samping Lukas, setelahnya Lukas mengganti perban di kepala Nevan secara perlahan.

"Tuan memerintahkan saya untuk tetap di samping anda mulai besok"

"Apa!, mengapa begitu?" Nevan menatap tak percaya.

"Ada masalah dengan perusahaan dan kemungkinan mereka juga mengincar keluarga anda Tuan muda, sebagai pewaris tentu beresiko membiarkan anda sendirian saat ini, jadi mulai besok saya akan menemai anda kemanapun termasuk sekolah" Lukas menjelaskan.

"Jadi karna aku pewaris yaa, aku terlalu berharap" Nevan terkekeh pelan.

"Tapi Lukas sepertinya kamu tidak perlu menemaniku di sekolah"

"Maaf tuan muda tapi saya tidak bisa melakukannya" Nevan menghela nafasnya pelan, Lukas memang bawahan sang ayah yang sangat setia.

Nevan menghela napasnya pelan, Lukas memang bawahan sang ayah yang sangat setia.

"Kalau begitu, aku minta jangan terlalu mencolok, jangan bikin teman-temanku curiga." pintanya setengah memohon.

"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Tuan Muda" jawab Lukas kalem sambil merapikan perban di kepala Nevan.

Nevan menatap langit-langit kamar, hatinya terasa makin berat. Besok Nevan rasa harus siap di interogasi oleh ketiga sahabatnya.

Namun, sebelum pikirannya berlarut-larut, Lukas menutup kotak medis dan berdiri.

"Saya pamit ke dapur sebentar, Tuan Muda. Jangan keluar kamar," ujarnya singkat.

Nevan hanya mengangguk. Begitu Lukas keluar, ia menghela napas dalam-dalam.

"Yah... besok bakal ribet deh..."

Sementara itu, di balik pepohonan belakang mansion...

"Gila! Hampir ketauan, nyaris jantungan gue!" bisik Carlos sembari menepuk dadanya.

"Lebay." balas Zein ketus, walau nadanya lebih pelan kali ini.

"Udah, fokus keluar dulu. Jangan sampai ada yang lihat." potong Davin, matanya awas mengawasi pergerakan para penjaga.

Ketiganya bergerak cekatan, melompati pagar belakang seperti semula. Setelah memastikan benar-benar aman, mereka lari kecil ke arah motor yang tadi mereka sembunyikan.

BRMMM!

"Fuhhh! Selamat sampai sini." Carlos menarik napas panjang sambil mengusap keringat.

"Tapi parah sih... gue gak nyangka bokapnya Nevan kayak gitu." ucap Davin, wajahnya murung.

DAVINDRA ALARICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang