9. Menyelinap

1.2K 98 3
                                        

"Lo yakin ini alamatnya?" Tanya Carlos.

"Kalau dari data yang gue ambil, bener ini rumahnya" Davin berucap dengan yakin.

"Jadi apa rencananya?" Kini Zein yang bertanya, Ia dan Davin menatap Carlos secara bersamaan, sementara itu Carlos terkekeh pelan sambil menatap gugup kedua sahabatnya.

"Anu, gue lupa bikin strategi"

"Lo!" Zein sudah menodongkan pisau lipat miliknya dengan wajah yang suram.

"Sabar woyyy, Vin tolongin guee!!!" Carlos menatap Davin penuh harap.

"Gue gak mau ikut campur kalau Zein udah kek gini" Davin bergidik ngeri.

"Zeinn...., turunin okeyyy, 5 menit, kasih waktu gue 5 menit buat mikir, okeyyyy" Zein menurunkan pisaunya dengan santai.

"Gue selamat" Carlos berucap dengan lega.

"Waktu Lo tinggal 4 setengah menit lagi" Zein berucap santai.

"Sialan!" Carlos segera memutar otaknya untuk menemukan cela penjagaan supaya mereka bisa menyelinap masuk.

"3 menit lagi" Carlos menatap Zein yang terus menghitung waktu dengan kesal.

"Diam sialan!" Zein menatap Carlos dengan malas, dan terus menghitung waktu tanpa memperdulikan peringatan Carlos.

"Dua-"

"Stop!, gue udah punya strategi" Carlos berucap dengan bangga. Sementara Davin dan Zein menatap malas kearahnya.

"Jadi apa rencananya?" Tanya Davin.

"Jadi gini-" Carlos menjelaskan dengan rinci rencana yang sudah ia buat dengan matang.

"Motor kita tinggal di sini aja biar gak ketauan"

"Okey, kita mulai sekarang?" Davin menatap kedua temannya dan dibalas anggukan oleh mereka.

Mereka bertiga mulai menyelinap mencari pagar belakang mansion yang diyakini milik keluarga Gerentland, setelah melihatnya Carlos bersiap melempar batu untuk mengecoh para penjaga.

PRANG!

"Suara apa itu ayo kita cek" ucap salah satu penjaga yang di setujui oleh rekannya.

"Aman, ayo masuk sekarang" Mereka bertiga memanjat pagar belakang dengan mudah lalu bersembunyi menghindari penjaga.

"Kamar Nevan kan diatas, gimana caranya kita naik?" Carlos berucap dengan bingung.

"Bodoh!, jadi dari tadi Lo gak mikirin itu" Davin menatap Carlos tak percaya.

"Lagian kalian tadi gak mau bantuin gue mikir, mana ngancem gue lagi, jadi jangan salahin gue kalau lupa sesuatu" Ucap Carlos yang berusaha membela dirinya.

"Pohon" Zein berucap singkat membuat mereka berdua menatapnya dengan bingung.

"Gimana, gimana gue gak paham maksud ucapan Lo" Zein memutar bola matanya dengan malas, kemudian menunjuk pohon yang tak jauh dari mereka.

"Kita bisa naik pohon ini buat ke balkon kamar Nevan" Zein menunjuk batang pohon yang lumayan besar itu mengarah pada balkon kamar milik Nevan.

"Niceee, Lo emang sahabat gue yang paling pinter" Davin berucap dengan bangga.

"Wait, jadi maksudnya gue bodoh gitu!" Carlos berseru tak terima.

"Bukan gue yang bilang gitu yaa" Davin berucap dengan santai.

"Brisik!" Zein menatap tajam keduanya.

"Kita diem!" Mereka berdua berseru dengan kompak.

"Naik cepet!" Ia mendorong Carlos untuk naik terlebih dahulu.

DAVINDRA ALARICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang