Malam sebelum hari H, di balkon rumah Nevan.
Langit sudah gelap, angin malam berembus pelan. Nevan duduk di balkon rumah sambil memainkan kaleng soda di tangannya. Lukas berdiri tak jauh, tetap siaga seperti biasa.
"Lo gak capek ya berdiri terus?" tanya Nevan tanpa menoleh.
"Ada kursi. Tapi tugas saya berdiri," jawab Lukas dengan datar.
Nevan nyengir kecil. "Gue serius nih. Santai dikit, kita bukan di tengah baku tembak mafia internasional."
Lukas diam.
Nevan menarik napas panjang, lalu berdiri dan menghadap Lukas. "Gue ada permintaan dan butuh bantuan Lo sedikit"
Lukas menaikkan satu alis. Itu sudah kemajuan besar. Biasanya mukanya gak berekspresi sama sekali.
"Ada yang mau gue lakuin besok. Dan... gue butuh lo ikut main peran sedikit."
Lukas menyipitkan mata. "Main peran?"
Nevan mengangguk, serius. "Leo, sahabat gue, bakal pulang dari Jerman. Kita mau kasih prank buat nyambut dia. Tapi prank-nya agak... ekstrim. Dan peran lo penting."
"Peran saya?"
"Lo pura-pura jadi orang suruhan bokap Leo. Ngaku di kirim buat bawa Leo ke tempat aman. Lo gak usah ngapa-ngapain. Cuma ngomong beberapa kalimat dengan muka datar lo yang kayak marmer itu. Udah cukup buat bikin Leo panik," jelas Nevan dengan semangat.
Lukas menatapnya lama. Lalu akhirnya bicara, datar.
"Saya bukan aktor."
Nevan mengangkat tangan. "Gak butuh akting. Lo cukup jadi diri lo sendiri. Serius, kaku, tanpa ekspresi. Itu justru bikin prank-nya makin hidup."
Lukas terdiam sebentar, sementara Nevan menatapnya penuh harap.
"Saya tidak bisa, saya harus tetap berada di samping anda"
"Kali ini aja pliss" Nevan kembali membujuk Lukas.
Lukas menghela nafas pelan melihat kegigihan sang tuan mudanya yang masih bersikeras. " Baiklah saya akan bantu anda, tapi anda harus tetap aman dan selalu hubungi saya jika ada sesuatu"
Nevan tersenyum senang saat Lukas akhirnya setuju, ia langsung mencari kontak temannya untuk menghubungi mereka.
……………
Besok paginya di Bandara Soekarno-Hatta, pukul 16.45
Papan kedatangan internasional menunjukkan pesawat dari Jerman telah mendarat.
Di area kedatangan, seorang pemuda berjaket hitam, kacamata, dan koper besar melangkah keluar dengan langkah yakin dialah Leonard Adrison, si jenius yang baru pulang dari program pertukaran pelajar di Jerman selama 3 bulan.
Leo menoleh kanan-kiri, alisnya terangkat. "Gue beneran pulang sendiri" Leo menghela nafasnya pelan.
Ia mengeluarkan ponsel, membuka chat dari temannya yang memberitau jika mereka tidak bisa menjemput Leo.
Jackson dan Arkan saling pandang saat melihat wajah muram milik Leo, kemudian Jackson menepuk pundak Leo pelan.
"Gak mau bareng sama gue aja?" Jackson kembali menawarkan tumpangan pada sang sepupu.
"Enggak, kalian duluan aja"
Kali ini Arkan yang coba menawarkan tumpangan. "Yakin?, atau bereng gue aja gimana?" Namun Leo kembali menggeleng kan kepalanya pelan.
Akhirnya Jackson dan Arkan pamit karna jemputan mereka sudah sampai.
Leo mematung di tengah kerumunan, Bibirnya menekuk.
"Gue beneran dijemput angin?"
Beberapa menit kemudian, seorang pria tinggi berpakaian jas hitam dengan kacamata gelap dan ekspresi tanpa emosi mendekatinya.
"Tuan Leonard Adrison?"
Leo mengerutkan kening. "Iya?"
Pria itu membungkuk singkat. "Saya Lukas. Dikirim oleh ayah anda. Saya di tugaskan menjemput Anda dan mengantarkan ke tempat yang aman."
Leo langsung pasang mode waspada. "Tempat yang aman? Maksudnya?"
"Saya tidak bisa menjelaskan sekarang. Mohon ikuti saya. Cepat."
Leo menatap sekeliling, ragu. Tapi akhirnya menarik kopernya, masih curiga.
"Oke, ini pasti salah paham."
Mereka naik ke dalam mobil hitam dengan kaca gelap. Leo duduk tegang, memperhatikan Lukas yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun selama perjalanan.
"Ehem. Jadi anda bodyguard baru papa?" tanya Leo akhirnya.
Lukas hanya melirik lewat spion. "Tidak juga."
Leo makin panik. "Oke. Gue diculik."
Leo buru-buru mengeluarkan ponselnya namun ternyata tidak ada sinyal sehingga Leo tidak bisa menelpon siapapun.
"Damn! Di sini gak ada sinyal, gue harus pikirin cara buat kabur" Leo merutuki kebodohannya karna terlalu percaya pada orang.
"Turunin Gue!" Leo berbicara dengan nada tegas. Namun Lukas tetap diam.
Beberapa kilometer kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gudang kosong.
Leo langsung duduk tegak.
"Ini apa? Gue gak main peran thriller dulu ya waktu di Jerman."
Lukas turun, membuka pintu untuknya. "Silakan masuk."
Leo menolak keluar. "Gak! Gue di sini aja."
Tiba-tiba pintu gudang terbuka perlahan. Di dalamnya gelap. Tapi beberapa detik kemudian…
"SURPRISEEEEEEE!!!"
Lampu menyala, Confetti berhamburan, Musik keras terdengar, sementara itu Leo menatap kaget temannya yang ternyata dalang dari semua ini.
Davin, Carlos, Zein, dan Nevan berdiri di dalam dengan spanduk besar bertuliskan:
"WELCOME BACK, LEONARD!!"
Leo melongo. "Lo semua… SERIUSAN???"
Carlos nyengir. "Selamat datang di negara yang isinya orang iseng, Bro."
Nevan tertawa sambil mengangkat tangan. "Maaf ya, bro. Tapi kita gak mau lo pulang biasa-biasa aja. Harus ada drama dikit."
Leo masih bengong, lalu menggeleng perlahan sambil tertawa kecil.
"Gue benci kalian... tapi gue juga kangen banget."
Zein yang biasanya datar bahkan tersenyum. "Welcome home."
Suasana berubah hangat. Mereka tertawa, saling pukul pundak, lalu ramai-ramai makan snack yang sudah disiapkan Jeck dan Arkan di meja. Lukas? Duduk di sudut sambil makan roti tawar dengan ekspresi tetap datar.
Tapi saat Leo menatap Lukas lagi, pria itu meliriknya dan ngedip pelan.
Leo langsung berdiri, teriak, “JANGAN BILANG DIA JUGA KERJA SAMA KALIAN?!?!”
Tawa mereka pecah serempak.
Hari itu jadi momen tak terlupakan mereka bukan cuma sahabat, tapi keluarga. Dan prank itu? Akan jadi legenda di antara mereka selamanya.
Halooo semuanyaaa, maaf yaa kali ini sedikit pendek dari biasanya dan sekali lagi aku minta maaf karna udah lama gak update, aku bakal usahain buat update lebih cepet nantinya.
Selamat membacaa, jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaaa biar aku juga semangat buat nulis nya
KAMU SEDANG MEMBACA
DAVINDRA ALARIC
FantasíaDI LARANG PLAGIATTTTT!!!!!! BUKAN LAPAK BXB!! Reynald Danadiaksa seorang pemuda yang sedang menikmati hari liburnya dengan bersantai dan membaca sebuah Novel. Namun bagaimana jika Reynald malah masuk kedalam tubuh seorang pemuda bernama Davindra Ala...
