📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi ini terasa lebih ringan. Meskipun semalam kami belum sepenuhnya membahas semuanya, setidaknya perasaan di antara kami sudah jauh lebih baik. Tidak ada lagi dingin yang menusuk seperti kemarin.
Aku bangun lebih awal dari biasanya. Setelah sahur, aku langsung melanjutkan mencuci piring yang semalam masih tersisa di wastafel. Rhea dan Mas Radit masih tidur di kamar kami setelah sahur tadi dia kembali tidur. Aku memutuskan untuk tidak membangunkannya dulu, biar dia istirahat lebih lama setelah hari-hari sibuknya di rumah sakit.
Sambil menunggu cucian selesai diputar di mesin, aku duduk di meja makan, membuka laptop untuk sekadar mengecek revisian skripsi. Aku baru saja mulai membaca ketika suara langkah kaki terdengar dari arah kamar.
"Udah bangun?" tanyaku ketika melihat Mas Radit berjalan ke dapur, masih dengan mata sedikit bengkak karena baru saja bangun.
"Hmm," gumamnya kecil sambil menggaruk belakang kepalanya.
Aku tersenyum kecil. "Hari ini jadwal kamu gimana?"
"Masuk siang, tapi pulangnya agak malem. Kayaknya bakal ada pasien yang harus ditangani."
Aku mengangguk paham. "Ya udah, nanti buka di rumah sakit kan berarti?."
Dia menatapku sejenak, lalu berjalan mendekat dan mencium puncak kepalaku. "Iya, Sayang."
Aku terdiam sesaat, merasakan kehangatan yang sempat menghilang selama beberapa hari terakhir.
"Tumben manis pagi-pagi," godaku, berusaha mencairkan suasana.
Mas Radit tertawa kecil, lalu mengacak rambutku. "Kan biar istri aku nggak marah-marah lagi."
Aku pura-pura mendengus, tapi di dalam hati aku merasa lebih tenang.
Kami memang belum menyelesaikan semuanya, tapi setidaknya hari ini terasa lebih baik. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Setelah obrolan kecil tadi, aku kembali melanjutkan pekerjaanku di meja makan, sementara Mas Radit menuju ke taman samping untuk menyiram bonsai bonsai kesayangannya. Pagi ini terasa jauh lebih tenang dibanding kemarin. Setidaknya, perang dingin di antara kami sudah mencair sedikit.
Tak lama, suara tangisan kecil terdengar dari kamar Rhea. Aku segera bangkit dan berjalan ke sana, mendapati Rhea yang masih setengah sadar, mengusap matanya dengan tangan mungilnya.
Rhea hanya merengek kecil, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku tersenyum, mencium pelipisnya dengan lembut sebelum membawanya ke ruang tamu.
Mas Radit yang baru saja selesai mencuci tangan di wastafel, melihat kami dengan tatapan lembut. "Pagi, anak Papa."
Rhea menoleh dengan mata sayu, masih belum sepenuhnya terjaga. Aku menyerahkan Rhea ke gendongan Mas Radit, membiarkan mereka punya momen kecil bersama sementara aku bersiap mengeluarkan pakaian yang sudah selesai di giling.
....
Karena Mas Radit berbuka di rumah sakit, jadi sore ini aku hanya memasak sedikit makanan. Hanya untuk berjaga jaga saja siapa tahu nanti malam Mas Radit kembali lapar jadi aku tidak perlu repot repot masak lagi.
Aku sedang menyulangi Rhea makan sore di jalan depan rumah yang sore ini ramai oleh anak anak warga komplek yang sedang bermain. Aku duduk di kursi kecil dekat pagar, sambil menyendokkan sesendok demi sesendok nasi ke mulut kecil Rhea. Sesekali, dia menoleh ke arah anak-anak yang berlarian sambil tertawa riang, lalu kembali mengunyah makanannya dengan tenang.
"Enak, sayang?" tanyaku, mengusap sudut bibirnya yang belepotan kuah.
Rhea mengangguk, lalu menunjuk ke arah anak-anak yang sedang bermain sepeda. "Haaah, uwaaaww!" katanya dengan antusias.
Aku menoleh sekilas dan tersenyum. "Iya, kakak-kakaknya lagi main."
Rhea tampak ingin ikut bermain, tapi mana mungkin di saat dia belum bisa berjalan. Jadi, aku tetap menyuapinya pelan-pelan, sambil menikmati suasana sore yang hangat..
Di seberang pagar, Rania berdiri sambil mengawasi putranya, Kino, yang ikut bermain dengan anak-anak lain. Dia sesekali memanggil namanya jika bocah itu terlalu jauh berlari.
"Seru ya, Na, kalau lihat mereka main kayak gitu," kata Rania sambil tersenyum ke arahku.
Aku ikut menoleh, memperhatikan sekelompok anak yang tertawa riang sambil berkejaran dengan sepeda mereka. Beberapa yang lebih kecil bermain bola plastik, sesekali tertawa cekikikan saat bola itu bergulir terlalu jauh.
"Iya," jawabku pelan, menyendokkan lagi bubur ke mulut Rhea yang mulai sibuk mengamati Kino. "Kadang aku mikir, nanti kalau Rhea udah gede bakal kayak gitu juga nggak ya?"
Rania tertawa kecil. "Pasti, lah. Apalagi kalau udah punya teman sebaya. Kalau Kino sih dari dulu udah aktif, nggak bisa diem."
Aku tersenyum kecil, membayangkan Rhea yang beberapa tahun lagi mungkin bakal ikut berlarian di antara anak-anak kompleks.
"Kadang aku iri sama mereka," lanjutku, masih menatap anak-anak itu. "Rasanya masa kecil mereka tuh bebas banget. Nggak ada beban, nggak ada yang perlu dipikirin."
Rania tertawa lagi, kali ini lebih pelan. "Ya iyalah, Na. Mereka kan masih anak-anak."
Aku menghela napas kecil. "Iya, cuma... rasanya baru kemarin aku yang main kayak gitu. Sekarang aku yang duduk di sini, nyuapin anak."
Rania menoleh ke arahku, ekspresinya lebih lembut. "Berat ya, Na?"
Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Nggak nyangka aja kalau kehidupan bakal berubah secepat ini."
Rania duduk di pagar, tangannya masih sesekali melambai ke Kino. "Aku juga dulu ngerasain hal yang sama. Kayak, tiba-tiba dari yang biasanya cuma mikirin diri sendiri, sekarang harus mikirin rumah, anak, suami... semuanya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ini kan yang kita pilih, ya?"
Aku mengangguk pelan, meski dalam hati aku masih meraba-raba jawabannya. Aku mencintai keluarga kecilku, tapi di sisi lain, aku juga sering merasa lelah.
"Mungkin karena kita terlalu sibuk ya, Ran?" tanyaku, menatapnya. "Sampai nggak sadar kalau hidup kita juga berjalan terus."
Rania tersenyum. "Iya, dan di balik semua ini, tetap ada hal yang bisa kita syukuri."
Aku menoleh ke arah Rhea yang kini tengah berusaha menggenggam sendok sendiri. Senyum kecil muncul di wajahku.