Suasana sore di kampung seperti memberikan ketenangan jiwa tersendiri. Udara yang sejuk, bunyi hewan yang saling bersautan, belum lagi gelak tawa keluarga yang sepertinya menjadi kombinasi yang sangat membahagiakan.
Selesai mandi sore, aku berjalan ke luar rumah menghampiri Mas Radit dan Rhea yang sudah di luar terlebih dahulu. Saat tiba di luar, suara sorak sepupu dan Mas Radit yang sedang membicarakan ikan hias yang berada di kolam depan rumah menyambut ku.
Aku mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Rhea. Tak menemukannya, aku pun menghampiri Mas Radit dan mencolek lengannya yang berbalut hoodie charcoal. Aku menilik sekilas outfit Mas Radit sore ini, hoodie charcoal dengan bawahan sarung hitam dan juga sandal jepit. Lengkap sudah vibes bapak-bapaknya. Tapi tetap ganteng kok, hehe.
"Yeya mana, Mas?" tanyaku, sedikit penasaran.
"Sama Mama tadi, diajak beli takjil di depan," jawabnya santai, tangannya terulur merangkul pundakku dengan lembut.
"Ih, pasti rame, ya, di depan? Mau nyusulin nggak?" Aku menatapnya dengan antusias. Jujur, aku kangen banget suasana Ramadan di rumah, terutama dengan deretan pedagang yang berjejer di sepanjang jalan depan kompleks.
Mas Radit melirikku sambil tersenyum tipis. "Mau banget, ya?" godanya.
Aku mengangguk cepat. "Banget! Udah lama nggak ngerasain vibes beli takjil di kampung sendiri."
Dia tertawa kecil sebelum menggenggam tanganku. "Ya udah, ayo nyusul. Siapa tahu ada cilok favoritmu."
Aku hampir bersorak kegirangan. Segera setelah itu, kami keluar rumah, menyusuri jalan kecil menuju area depan kompleks. Begitu mendekati lokasi para penjual takjil, aroma gorengan, kolak, dan aneka makanan khas Ramadan langsung menyambut kami. Jalanan ramai oleh warga yang berburu hidangan berbuka, menciptakan suasana khas yang selalu kurindukan setiap tahunnya.
Aku menoleh ke sana kemari, mencari sosok Mama dan Rhea di antara kerumunan. Tak butuh waktu lama, aku menemukan mereka di depan lapak penjual es buah. Mama tampak sibuk memilih isian es buah, sementara Rhea—yang digendong di pinggang Mama—sibuk mengamati sekeliling dengan mata berbinar.
"Yeya!" panggilku sambil melambai.
Mata Rhea langsung mencari sumber suara dan begitu melihatku, dia menggerak-gerakkan tangannya dengan semangat. Aku segera menghampirinya dan mencubit gemas pipinya yang montok karena ketekan jilbab pinknya itu. Ah gemasnya anakku!
"Kok nggak ajak Mama beli takjil, hmm?" godaku.
Mama terkekeh. "Tadi Yeya heboh banget lihat warna-warni es buah, ya udah kita langsung ke sini dulu."
Mas Radit yang berdiri di sebelahku tersenyum. "Udah dapet apa aja, Ma?"
Mama menunjuk beberapa plastik di tangannya. "Ini ada es buah, risoles, sama pisang coklat. Mau cari apa lagi?"
Aku berpikir sejenak, lalu mataku berbinar saat melihat gerobak cilok di ujung jalan. "Cilok!" seruku spontan.
Mas Radit hanya bisa geleng-geleng kepala melihat reaksiku, tapi tetap menuntunku ke arah gerobak cilok favoritku. Aku mengambil alih Rhea dari gendongan Mama begitu melihatnya mulai menggerakkan tangan, seolah ingin meraihku.
"Sini, Mama gendong," ujarku sambil meraih tubuh mungilnya. Rhea langsung menyenderkan kepalanya ke bahuku, jari-jarinya mencengkram ujung jilbabku sambil menggumam pelan. Aku tersenyum, mengusap punggungnya dengan lembut. "Habis keliling beli takjil jadi capek, ya, Nak?"
Mama tersenyum melihat kami, lalu menyerahkan plastik belanjaan pada Mas Radit. "Udah cukup kan? Atau mau beli yang lain lagi?"
Aku baru mau menjawab ketika suara lain menyelak dari belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhan Tale [ Revisi ]
Literatura Feminina📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio). [marriage life series 1] Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
![Ramadhan Tale [ Revisi ]](https://img.wattpad.com/cover/337769177-64-k763443.jpg)