Yeya mudik beneran (1)

4.7K 313 0
                                        


Kami start dari rumah Ibu setelah berbuka bersama tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kami start dari rumah Ibu setelah berbuka bersama tadi. Dan momen paling mengharukan terjadi sekarang, dimana kami berpamitan untuk mulai perjalanan malam ini. Di depan rumah, Ayah dan Ibu Mas Radit berdiri di teras, menatap kami dengan ekspresi campuran antara haru dan khawatir. Mas Radit menggandeng tanganku erat, sementara Rhea tertidur pulas dalam gendongan.

"Hati-hati di jalan, Mbak," ujar Ibu dengan suara lembut. Tatapannya berpindah ke Rhea yang tidur dengan tenang. "Jangan lupa kabari kalau sudah sampai, ya. Kasihan Rhea perjalanan jauh, pastikan dia nyaman."

"Iya, Bu. InsyaAllah kita hati-hati," jawabku sambil tersenyum kecil.

Ayah Mas Radit, yang biasanya pendiam, akhirnya ikut bicara. "Kalau capek, istirahat dulu. Jangan dipaksakan. Terutama kamu, Dit. Jangan cuma mikirin sampai cepat, keselamatan lebih penting."

Mas Radit mengangguk mantap. "Siap, Yah. Nanti kalau butuh istirahat, kita berhenti dulu."

Di sebelah mereka, ada Mas Zayn, Briana, dan Kiara. Mas Zayn tersenyum lembut ke arahku. "Jangan lupa bawain oleh-oleh dari kampung, ya, Rana," candanya.

Aku tertawa kecil. "Beres, thr jalan oleh oleh aman Om." jawab ku sambil menjulurkan jempol tangan

Sementara itu, Briana hanya bersedekap di samping pintu dengan ekspresi malas-malasan. "Kenapa sih nggak lebaran di sini aja? Males banget mudik jauh-jauh," gumamnya.

Aku terkekeh. "Kan gantian, Bri. Tahun lalu udah di sini."

Dia mendesah dan akhirnya mengangkat tangan sedikit. "Yaudah, hati-hati deh di jalan."

Aku tersenyum dan menoleh lagi ke Ayah dan Ibu Mas Radit. "Kami pamit dulu, ya, Bu, Yah."

Ibu Mas Radit mengelus lenganku sebentar. "Jaga diri baik-baik, Nak. Dan jaga Rhea juga."

Aku mengangguk, lalu beralih ke Mas Radit yang sudah membuka pintu mobil. Setelah satu kali lagi berpamitan, akhirnya kami masuk ke dalam mobil.

Saat jendela diturunkan, Ibu masih melambaikan tangan, sementara Ayah mengangguk pelan. Mas Zayn tersenyum, dan Kiara sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu.

"Assalamu'alaikum," ucap Mas Radit sebelum mobil mulai bergerak.

"Wa'alaikumussalam," jawab mereka hampir bersamaan.

Mobil mulai melaju perlahan, meninggalkan rumah keluarga Mas Radit. Aku menoleh ke belakang sebentar, melihat mereka masih berdiri di teras. Ada rasa haru yang menggumpal di dada.

Perjalanan ini panjang, tapi aku tahu, di ujungnya, ada keluarga lain yang menanti dengan rindu yang sama.

....

Pukul 19.30 kami sudah memasuki tol dalam kota, perjalanan ini mungkin akan sedikit memakan waktu lebih lama karena kami mudik di h-4 lebaran jadi sudah pasti lalu lintas juga sudah mulai dipadati oleh para pemudik lainnya.

Ramadhan Tale [ Revisi ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang