Suara debur ombak jadi latar belakang paling indah pagi itu. Langit cerah, angin pantai mengibaskan jilbab Rana yang duduk bersila di atas tikar, memegangi topi kecil milik Rhea yang terus saja berlarian di pasir.
"Mah! Maamaaah! Ikan! Rhea liat ikan!"
Rhea menunjuk ke arah air, meski yang dia lihat sebenarnya cuma bayangan dedaunan kelapa yang jatuh ke air laut.
Rana tertawa. "Itu bukan ikan, Sayang. Itu daun."
Rhea cemberut, lalu menoleh ke arah Radit yang tengah membawa sepotong semangka dari cooler box.
"Papa! Itu ikan! Kata Mama daun!" protesnya sambil berlari kecil, menyeret celana renangnya yang sedikit longgar.
Radit jongkok sambil menyerahkan semangkanya. "Iya, itu ikan daun."
Rhea menyipitkan mata, pura-pura mikir. "Ikan daun... kayak dinosaurus, ya?"
Rana menahan tawa. "Kok bisa?"
Rhea menjawab sambil mengunyah semangkanya dengan penuh semangat, "Soalnya gede! Terus... jalan pelan. Terus diem!" Dia menirukan gerakan dedaunan yang terombang-ambing.
"Wah, keren banget logikanya," kata Radit sambil mengusap kepala Rhea yang basah karena keringat dan air laut.
Rhea lalu duduk di pangkuan Rana, sambil menepuk-nepuk perut ibunya. "Itu adek, ya?"
"Iya," Rana menjawab lembut. "Ada adek di dalam perut Mama."
"Namanya siapa, Ma?" tanyanya dengan polos.
"Kita belum tahu. Rhea mau kasih nama?"
Rhea terlihat berpikir keras. "Hmm... Ikan."
"Ikan?" Radit terkekeh. "Masa adeknya namanya Ikan?"
"Iyaa... kan adek di air juga," jawab Rhea mantap. "Kayak Rhea tadi renang!"
Rana mencubit pipinya pelan. "Nanti adeknya lahir langsung nyemplung laut, dong?"
Rhea tertawa keras, lalu memeluk Rana dan mencium perutnya. "Jangan nyemplung, ya, Dek. Nanti becek!"
Radit dan Rana saling pandang, tertawa pelan melihat celoteh Rhea yang seperti nggak habis-habis.
"Papa, papa, nanti Rhea mau ajak adek main pasir. Tapi adek kecil ya, nggak bisa ambil sekop. Gapapa, Rhea ambilin. Terus Rhea bangunin rumah, adek tidur. Tapi jangan pipis di pasir, ya, kayak kemaren..." gumamnya panjang.
"Hmm... kemarin siapa yang pipis di pasir, ya?" tanya Radit pura-pura lupa.
Rhea langsung menutup mulutnya, "Bukan Rhea!"
Tapi Rana dan Radit sudah tertawa lebih dulu.
Hari itu terasa begitu hangat. Bukan cuma karena matahari atau pasir pantai, tapi karena suara tawa mereka bertiga yang saling mengisi. Celoteh Rhea mungkin tidak selalu masuk akal, tapi selalu berhasil membuat dunia mereka terasa lebih ringan. Lebih utuh. Lebih penuh cinta.
....
Setelah puas bermain pasir, Rhea berlari lagi ke arah ombak kecil di pinggir pantai, tangannya sibuk menggenggam ember mainannya yang kini penuh dengan kerang, pasir, dan... satu sendok plastik warna pink.
"Papaaa! Rhea nemu harta karun!" serunya bangga.
Radit yang lagi membantu Rana berdiri dari duduk langsung menoleh. "Wah, serius? Harta karun?"
"Iya! Ini nih!" Rhea menyodorkan embernya. "Ini ada cangkang kura-kura, ada sendok bayi, sama ini..." Dia mengangkat sebutir batu kecil yang agak mengkilap. "Ini permata. Tapi Rhea kasih buat adek aja ya. Biar adek punya perhiasan!"
Rana tertawa kecil sambil mengelus rambut anaknya yang mulai lepek karena keringat dan pasir. "Baik banget si kakak."
"Iya dong, Rhea sayang adek. Tapi Rhea tetep kakak paling cantik, ya, Papa?" matanya menatap Radit, nunggu validasi.
Radit cepat-cepat mengangguk. "Iya, dong. Kakak paling cantik sejagat raya."
"Bukan sejakat, Papa..." Rhea mengoreksi serius. "Sejakak raya!"
"Sejakak raya... noted!" Radit memberi hormat pura-pura, bikin Rhea tertawa geli.
Setelah itu mereka berjalan menyusuri pantai, Radit menggandeng tangan Rana, sementara tangan lainnya sesekali menahan punggung istrinya yang perutnya mulai membuncit.
Rhea berjalan di depan, kadang lompat-lompat, kadang berhenti dan jongkok buat mengamati kepiting kecil yang buru-buru masuk ke lubangnya.
"Ma, Papa... Rhea mau tanya," katanya tiba-tiba, menoleh dengan wajah serius.
"Apa, Sayang?" Rana membalas lembut.
"Nanti adek bisa ngomong juga kayak Rhea?"
Rana mengangguk. "Iya, nanti. Tapi harus nunggu dulu. Adek belajar pelan-pelan."
"Terus Rhea bisa ajarin ngomong?" tanyanya antusias.
"Tentu!" kata Radit.
Rhea terlihat berpikir sebentar, lalu mengangguk mantap. "Oke, nanti Rhea ajarin adek ngomong 'mama', 'papa', 'susu', sama... 'es krim'!"
Rana terkekeh. "Es krim duluan ya?"
"Harus! Itu penting banget!" Rhea menekankan dengan alis berkerut.
Mereka akhirnya berhenti di bawah pohon kelapa yang rindang. Radit membentangkan tikar, lalu membantu Rana duduk sambil mengelus perlahan perut istrinya. Rhea duduk di tengah-tengah mereka, sambil memainkan jari-jari kakinya yang belepotan pasir.
"Papa," katanya tiba-tiba, pelan, sambil bersandar di bahu Radit.
"Hm?"
"Rhea seneng punya Papa. Sama Mama. Sama adek. Rhea sayang semuanya."
Radit memejamkan mata sesaat, senyum kecil terbit di bibirnya. Tangannya refleks membelai rambut anak kecil itu sambil membisik, "Papa juga sayang Rhea... banyak banget. Nggak bisa diukur."
Rana menatap keduanya dengan mata berkaca. Bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang begitu penuh. Hidup mereka mungkin belum sempurna, kadang masih ribut, kadang masih lelah... tapi momen seperti ini membuat semuanya terasa worth it.
Dan sore itu, di tepi laut yang perlahan menyambut matahari terbenam, mereka bertiga duduk saling bersandar—dalam diam yang hangat, dalam tawa yang ringan, dalam cinta yang nggak perlu dijelaskan terlalu banyak.
Rhea mendongak ke langit, lalu berkata, "Langitnya warnanya kayak jus mangga, ya?"
Radit dan Rana nyaris tertawa, tapi menahan karena... ya, dia ada benarnya juga.
"Warnanya cantik banget," bisik Rana sambil menyandarkan kepala ke pundak Radit.
Radit meraih tangannya pelan, menggenggam erat.
Dan waktu seolah melambat.
Untuk sesaat, dunia mereka terasa sempurna.
Terima kasih sudah berkenan membaca cerita ini. Sampai jumpa di cerita cerita ku yang lain. Salam Chesee!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhan Tale [ Revisi ]
ChickLit📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio). [marriage life series 1] Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
![Ramadhan Tale [ Revisi ]](https://img.wattpad.com/cover/337769177-64-k763443.jpg)