Happy New Year, Oll!!
Semoga, di tahun ini semua hal hal yang tertunda di tahun sebelumnya bisa terwujud.
Semoga, semakin banyak hal hal baik mengelilingi kalian.
Dan semoga, kebahagiaan selalu berteman baik dengan kalian!
Sesuai janji ku di instagram, nii... aku kasih bonus tahun baruan. Awas aja nggak pada vote ya (emot marah) *ku pukul nanti. Candaaa
Notes: 600 votes, aku lanjutin.
Rana sempat mengira, hidupnya telah benar-benar utuh dengan kehadiran Rhea. Tawa kecil itu, langkah mungil yang berlarian di sudut rumah, sudah lebih dari cukup untuk mengisi hari-harinya. Namun rupanya, Allah masih menyimpan kelembutan lain untuknya.
Rana kembali dititipi sebuah amanah.
Sebuah kebahagiaan baru.
Sebuah buku kosong yang kembali harus ia isi—dengan bait-bait kebaikan, doa, dan cinta yang tak pernah habis.
Kalaya Naudrey.
Peri kecil yang lahir dari doa-doa baik, dari sabar yang dipanjatkan diam-diam, dari syukur yang tak selalu terucap. Putri kecil yang pelan-pelan kembali meramaikan rumah Rana dan Radit.
Pagi itu, sinar matahari masuk malu-malu melalui sela gorden. Rana bersandar di kepala ranjang, menggendong Kalaya yang baru berusia empat bulan. Rhea duduk di sampingnya, kaki kecilnya mengayun pelan, tangan mungilnya menggenggam botol susu ungu kesayangannya.
"Mama," Rhea menoleh, alisnya sedikit berkerut penasaran. "Memang kalau adeknya masih kecil, minumnya harus dari situ ya?" tanyanya, matanya menatap Kalaya yang tengah menyusu dengan penuh perhatian.
"Iya dong," jawab Rana lembut. "Eya juga dulu begitu."
"Oh iya?" Rhea langsung membulatkan mata, wajahnya berbinar seolah menemukan fakta besar dalam hidupnya.
"Iya," Rana tersenyum. "Dulu Eya kecil banget. Tidurnya juga di dada Mama, sama kayak adek sekarang."
Rhea mendekat sedikit, lalu menunduk memperhatikan wajah Kalaya.
"Berarti... Eya dulu juga sering nangis ya?"
Rana terkekeh pelan. "Sering banget."
"Hihihi..." Rhea terkikik geli, seolah tak menyangka dirinya pernah berada di posisi itu.
"Eya kakak ya, Ma?" tanyanya lagi.
Rana mengangguk. Tangan kirinya yang bebas mengusap pelan rambut Rhea yang masih berantakan, sisa bangun tidur.
"Iya, Kakak Rhea," jawabnya lembut. "Papa mana, Kak?"
"Belakang. Susu Rhea bikin Papa," ucapnya polos. Usianya yang baru empat tahun membuat susunan katanya masih terbalik-balik.
"Oh... susunya Rhea dibikinin sama Papa?" ulang Rana memastikan.
Rhea mengangguk mantap. "Hu'uh."
"Abis adek mimik, Eya mandi ya," ujar Rana sambil membersihkan belek yang menyempil di sudut mata kanan Rhea.
Rhea mengangguk patuh, lalu menjatuhkan tubuh kecilnya berbaring melintang di paha Rana. Botol susu ungu kembali berada di tangannya, diminum dengan tenang, matanya setengah terpejam.
Rana menurunkan pandangannya pada Kalaya yang masih asyik menyusu. Kini, telinganya kembali ditemani suara tarikan napas kecil itu—ritme halus yang dulu sempat ia rindukan, candu yang kembali mengisi ruang dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhan Tale [ Revisi ]
ChickLit📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio). [marriage life series 1] Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
![Ramadhan Tale [ Revisi ]](https://img.wattpad.com/cover/337769177-64-k763443.jpg)