📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selepas sholat Maghrib, kami bertiga berkumpul di ruang tengah. Hari ketiga puasa, semangatku untuk memasak menu berbuka dan sahur masih membara. Nggak tahu nanti kalau sudah lewat 15 hari bakal gimana, hehe.
"Kuliah masuk lagi kapan?" tanya Mas Radit sambil tetap memegangi badan Rhea agar tidak roboh.
"Lusa sih harusnya, tapi aku cuma bimbingan, abis itu pulang," jawabku santai. Lusa memang aku ada jadwal ketemuan sama dosen pembimbingku.
"Rhea titip di rumah Ibu aja, biar kamu nggak was-was ninggalinnya," kata Mas Radit. Memang biasanya kami bergantian menjaga Rhea. Kalau aku harus ke kampus, Mas Radit akan bertukar shift untuk menjaga Rhea.
"Ya udah, aku berangkat pagi. Jam 12 siang udah di rumah kok. Nanti sekalian jemput Rhea di rumah Ibu aja," ujarku.
Saat sedang berbincang, Rhea sibuk memasukkan mainan ring plastik berbentuk donat ke dalam mulutnya.
"Eh, nggak boleh dimakan, cantik! Ini bukan makanan," aku menarik mainan dari mulut Rhea.
"Laper kali anaknya," Mas Radit terkekeh.
"Ih, emang kamu nggak ada kenyangnya, ya? Rhea baru makan tadi," aku mengambilkan biskuit kesukaannya.
"Nih, Mam, ini aja ya. Mainan nggak boleh dimakan, oke?" Rhea mengambil biskuit dari tanganku lalu menggigitnya.
"Gaya banget sih bayi, emang punya gigi kamu?" ucap Mas Radit, gemas melihat anaknya sendiri. Habis pipi anaknya diciumin mulu, kan mamanya juga mau, eh hehe.
"Ini tangan udah kayak roti sobek gini, Papa makan boleh?" godanya. Lengan Rhea memang berlipat-lipat macam roti sobek. Kadang kalau lagi gemas, aku iseng menggigitnya sampai dia merengek kesal. Yang digodain asik dengan biskuitnya yang udah bercampur air liur. Aku mengambil tisu lalu mengelap mulutnya yang basah.
Ngeliatin bayi itu rutinitas yang asik juga, ya. Bahkan kalau dia cuma tiduran doang aja udah bikin hati senang. Sejak punya Rhea, aku jadi kayak punya mainan baru. Tahu kan anak kecil kalau abis dapet mainan baru kayak gimana? Ninggalin sebentar aja nggak rela, padahal cuma buat mandi misalnya. Apalagi ini bayi lipat-lipat, ada aja tingkahnya yang bikin mengelus dada tapi juga gemas di saat yang sama.
Kayak sekarang, setelah biskuitnya habis, dia malah mukulin muka bapaknya. Bukan mukul beneran sih, cuma kayak ngegaplokin wajah Mas Radit, dan si Papa pura-pura kesakitan. Eh, si bayi malah ketawa cekikikan.
"Kok Papa dipukul lagi?" tanya Mas Radit berpura-pura mengeluh.
"Nggak bisa bayangin gimana nanti dia kalau udah bisa jalan, pasti nggak mau diem."
"Apanya yang enggak? Coba bilang 'Papa' gitu," ujar Mas Radit penuh harap, tapi yang disuruh malah bengong sambil mengulurkan tangan ke arahku.
"Kenapa? Haus ya? Mau nen?" Aku memposisikan Rhea di pangkuanku agar nyaman saat menyusui. Begitu berada di posisi yang pas, dia langsung nyerobot ke arah gentongnya, sementara satu tangannya sibuk memainkan kalungku. Untung aja bandulnya sudah aku balik ke belakang. Trauma pas nyusuin terus Rhea mainin bandul kalungku, yang ujung-ujungnya masuk ke mulut.
"Minggu depan aku ada ngisi seminar, Yang," kata Mas Radit tiba-tiba.
Aku menoleh. "Di mana?"
"Di universitas di Bandung."
Kalau sudah dapet kabar Mas Radit harus keluar kota, tuh, moodku langsung anjlok. Walaupun Jakarta–Bandung deket, tetap aja rasanya jauh.
"Berapa hari? Mas nginep?" tanyaku sambil mengambil bantal sofa untuk menyanggah punggung. Lama-lama pegal juga nyusuin dalam posisi duduk tanpa penyangga.
"Sehari doang, pagi berangkat, sore pulang ke sini."
Alhamdulillah. Nggak bisa bayangin kalau harus ditinggal berdua doang sama bayi ini. Ya, walaupun aku juga sering ditinggal berdua sama Rhea selama Mas Radit kerja, tapi kan itu dalam kondisi siang hari.
Waktu Rhea masih di dalam perut, aku sering ditinggal Mas Radit ke luar kota entah untuk seminar atau dinas. Itu pun kadang aku ditemani Briana—adik kedua Mas Radit—atau dititipin di rumah ibu mertuaku yang cuma beda komplek. Tapi sejak Rhea lahir, aku belum pernah dan belum mau ditinggal Mas Radit ke luar kota, apalagi sampai menginap.
"Beneran ya nggak nginep? Aku belum sanggup kayaknya harus ditinggal berdua doang sama Rhea."
"Ya kan biasanya juga aku tinggal dinas malam atau kalau ada cito."
"Ya memang sih, tapi kalau ke luar kota kan jauh, Mas. Beda aja rasanya."
Aku melongok ke Rhea. Ternyata dia sudah tepar, tapi isapannya masih terasa, jadi nggak aku lepas dulu. Takut belum terlalu lelap, nanti malah nangis lagi.
"Kalaupun aku tinggal juga kan nggak mungkin berdua doang, Yang. Pasti Bri atau Ibu aku minta nemenin kamu di sini."
Mas Radit merebahkan kepalanya di pahaku, tepat di samping pantat Rhea. Ampun deh, ini aja udah pegel, ditambah satu beban lagi. Tapi aku suka, hehe. Tangan jahilnya menggelitik kaki Rhea, sontak saja si bayi menggeliat nggak nyaman.
"Tanganmu deh, Mas! Anaknya bangun nanti!" Aku memutar bola mataku. Sebel banget nggak sih? Udah susah-susah nidurin anak, eh, pas udah tidur malah dibangunin bapaknya. Ntar kalau nangis, yang disuruh nenangin pasti aku lagi, huh!
"Lucu banget ini kakinya, Ran. Kecil, tapi montok!" baru sadar ini si bapak kalau kaki anaknya segemesin itu.
"Iya, tapi ya nggak pake digelitikin! Ntar anaknya bangun nangis, emang kamu mau nidurin lagi?" sentakku, kesel.
"Ya kan ada kamu," jawabnya enteng.
Aku mendengus. "Kamu yang bangunin, ya kamu yang tanggung jawab lah."
Tiba-tiba, Mas Radit bangun dari posisinya dan mengambil Rhea dengan hati-hati, lalu berjalan ke kamar. Ternyata dia mau mindahin Rhea ke tempat tidur. Setelah itu, dia balik lagi ke ruang tengah.
"Pijitin kepala aku, Yang. Pusing banget," rengeknya sambil merebahkan kepalanya lagi di pahaku dan membenamkan wajahnya di perutku. Hmm, ada maunya ternyata bapak satu ini sampai anaknya dipindahin ke kamar.
"Masa baru berapa hari puasa udah keok, Mas?" godaku.