Yeya balik kampung?

5K 276 1
                                        


Besok adalah hari dimana kami-- aku, Mas Radit, dan Rhea akan mudik ke kampung halaman ku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Besok adalah hari dimana kami-- aku, Mas Radit, dan Rhea akan mudik ke kampung halaman ku. Jika tahun kemarin kami lebaran di rumah Ibu, tahun ini gantian kami merayakan lebaran di kampung ku atau di rumah keluarga ku. 

Sejak pagi, aku sudah sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk perjalanan besok. Mas Radit masih di rumah sakit, jadi aku yang lebih banyak mengurus packing. Sementara Rhea, seperti biasa, sibuk mengeksplor barang-barang yang aku keluarkan dari lemari, bukannya membantu, malah membuat pekerjaan jadi sedikit lebih lama.

"Nak, itu bukan mainan..." ucapku saat melihat Rhea menarik-narik jilbab yang sudah aku lipat rapi. Dia hanya menoleh dengan senyum jahilnya sebelum kembali mencengkeram kain itu dengan tangannya yang mungil.

Aku menghela napas dan mengambil kembali jilbab itu, lalu memberikan boneka gajahnya. "Main sama Elif aja, ya? Mama mau beresin barang dulu."

Perjalanan ke kampungku bukan perjalanan yang dekat. Kami harus naik mobil dahulu kurang lebih selama 5-6 jam untuk sampai ke rumah orang tuaku. Sebenarnya bisa saja kami menaiki kereta yang lebih cepat, tetapi untuk mendapatkan tiket bolak balik di hari besar seperti lebaran ini sangat lah susah, jadi kami memilih menaiki mobil saja toh bisa beristirahat semau kami juga nanti.  Ini pertama kalinya kami mudik bertiga dengan membawa bayi. Tahun lalu, Rhea masih dalam kandungan, jadi aku tidak perlu khawatir soal barang bawaan sebanyak sekarang.

Aku memeriksa isi koper:
✔️ Baju lebaran kami bertiga
✔️ Baju harian untuk seminggu
✔️ Peralatan mandi
✔️ Keperluan Rhea (popok, botol susu, baju ganti, perlengkapan MPASI)
✔️ Oleh-oleh untuk keluarga di kampung

"Kayaknya udah cukup, deh," gumamku sambil menutup koper besar berwarna cokelat muda itu.

Tepat saat aku selesai, suara pintu depan terbuka. Mas Radit pulang. Aku bangkit dan berjalan ke arahnya yang masih melepas sepatu di pintu. "Udah beres packingnya?" tanyanya sambil tersenyum.

"Udah, tinggal besok aja berangkat."

Dia mengangguk lalu mendekati Rhea yang duduk di lantai dengan boneka di tangannya. "Halo anak Papa, hari ini bantu Mama beres-beres nggak?" tanyanya sambil menggendong Rhea dan mencium pipinya.

Aku terkekeh. "Nggak bantu, malah bikin tambah berantakan."

Mas Radit tertawa kecil. "Ya udah, besok Papa yang bawain mobil deh. Kamu tinggal bawa Rhea aja."

Aku mengangguk pelan. "Iya, memang harus kalau itu, Mas."

Malam ini, aku merasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Mungkin karena kami sudah saling memahami, atau mungkin juga karena aku tahu, besok aku akan bertemu dengan orang tuaku, dan untuk sementara waktu, aku bisa melepas beban dan menikmati suasana kampung halaman yang selalu kurindukan.

....

Kesibukan Mas Radit kemarin ternyata memang sebuah kesengajaan. Katanya biar puas dan tenang cuti lebaran di kampung tanpa di ganggu kerjaan. Memang sih, aku sudah lama sekali tidak pulang kampung makanya aku sangat menantikan momen mudik kali ini. 

Ramadhan Tale [ Revisi ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang