Hari Kemenangan

5.5K 246 11
                                        

Kami mulai berkeliling ke rumah para tetangga, berjalan beriringan bersama keluarga besar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kami mulai berkeliling ke rumah para tetangga, berjalan beriringan bersama keluarga besar. Suasana di kampung benar-benar hidup hari ini. Anak-anak berlarian dengan baju baru mereka, suara takbir masih terdengar dari berbagai sudut, dan aroma masakan khas Lebaran tercium di setiap rumah yang kami lewati.

Seperti yang sudah kuduga, Rhea langsung menjadi pusat perhatian di setiap rumah yang kami kunjungi.

"Masya Allah, ini cucu baru, ya?" seru seorang Ibu-Ibu tetangga Mama begitu melihat Rhea di gendongan Mas Radit.

Mas Radit terkekeh, mengusap kepala Rhea dengan bangga. "Iya, Bu. Namanya Rhea."

"Eh, cantiknya! Ini anaknya Lia, bukan?"

Aku refleks menoleh, hampir tersedak ludah sendiri. Astaga, kejadiannya terulang lagi.

Mas Radit sudah cengengesan di sampingku, sedangkan Mbak Lia hanya bisa nyengir kuda.

"Bukan, Bu," jawabku cepat sebelum kesalahpahaman makin melebar. "Ini anakku."

"Astaga, kirain anaknya Lia! Soalnya Lia kan lagi hamil, eh ternyata belum lahiran. Kok bisa mirip sama Lia, ya?"

Aku melirik Mbak Lia sekilas yang tampak sedang menahan tawa.

"Ya gimana, kan keponakannya," jawabku sambil tersenyum tipis.

Kami pun melanjutkan perjalanan, mampir ke lebih banyak rumah. Di mana pun kami singgah, Rhea selalu jadi pusat perhatian. Dari yang mencubit pipinya, mengajaknya bermain, sampai yang rela menyuapi kue padahal Rhea sudah kenyang.

Saat hampir selesai berkeliling, aku tiba-tiba mendengar seseorang memanggil namaku.

"Rana? Serius ini kamu, kan?"

Aku menoleh dan langsung disambut oleh wajah yang sangat familiar. "Astaga, Maya?"

Seketika aku merasa seperti ditarik kembali ke masa sekolah dulu. Maya adalah salah satu teman dekatku di SMA, tapi kami lama tak bertemu sejak aku menikah dan pindah ke luar kota.

"Kamu masih di sini, May?" tanyaku sambil tersenyum lebar.

Maya mengangguk antusias. "Iya, masih di sini. Eh, ini suamimu?" Dia melirik ke arah Mas Radit yang berdiri di sampingku, masih menggendong Rhea yang sibuk menggigit jari kecilnya.

Aku mengangguk bangga. "Iya, ini Mas Radit. Dan ini putri kecilku, Rhea."

Mata Maya membulat. "Ya ampun, Rana! Aku masih inget dulu kamu yang paling sering ketiduran di kelas, sekarang udah jadi ibu?"

Mas Radit langsung tergelak mendengarnya. "Ketiduran di kelas? Wah, boleh juga nih ceritanya," godanya sambil melirikku penuh arti.

Aku melotot ke arahnya. "Mas, kita bisa bahas itu nanti aja?"

Maya tertawa. "Duh, aku senang banget lihat kamu sekarang. Bahagia, ya?"

Aku terdiam sejenak, menatap Rhea yang masih di gendongan Mas Radit, lalu ke arah suamiku yang kini menatapku dengan penuh kelembutan.

Ramadhan Tale [ Revisi ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang