📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
H-2 lebaran, kami para wanita mulai di sibukkan dengan membuat berbagai kue kering. Tapi lebih rajin Mama sih sebenarya karena aku sering terdistraksi oleh Rhea sedangkan Mbak Lia karena kondisinya yang sedang hamil tua membuatnya lebih banyak beristirahat.
Di dapur, aroma mentega dan vanila sudah menyebar ke seluruh ruangan. Mama dengan cekatan menuang adonan nastar ke dalam loyang, sementara aku berusaha membantu semampuku—meskipun sering kali harus berhenti untuk menenangkan Rhea yang mulai bosan di bouncer-nya.
"Rana, kalau Rhea rewel, taruh aja di stroller, dorong-dorong sedikit, biar dia anteng," saran Mama tanpa menghentikan tangannya yang sedang membentuk adonan kue.
Aku mengangguk, lalu dengan lembut menggendong Rhea dan menidurkannya di stroller. "Dikit lagi ya, Nak. Mama bantuin Mbah bikin kue dulu," bisikku sambil menggoyang pelan stroller-nya.
Di meja makan, Mbak Lia duduk sambil memilah-milah toples kosong yang akan digunakan nanti. "Duh, maaf ya, Ma. Aku nggak bisa bantu banyak," katanya sambil mengelus perutnya yang makin besar.
Mama menoleh sekilas dan tersenyum. "Nggak apa-apa, Nak. Udah deket juga ya waktunya? Jangan kecapekan."
Mbak Lia mengangguk kecil sambil mengambil sebutir kurma dari piring camilan di meja. "Iya, Mbak Ida juga bilang kalau aku harus lebih banyak istirahat."
Aku ikut tersenyum, lalu kembali fokus pada pekerjaanku—menyusun nastar yang sudah matang ke dalam toples. Tapi baru beberapa menit, Rhea mulai merengek lagi.
"Hadeh, kayaknya anak ini nggak rela Mamanya kerja," gumamku sambil tertawa kecil.
Mama tertawa melihatku yang berusaha multitasking. "Udah, bawa aja dia ke sini. Siapa tahu dia suka lihat proses bikin kue."
Akhirnya, aku menggendong Rhea dan mendudukannya di pangkuanku, sementara aku tetap mencoba membantu Mama semampuku. Suasana dapur terasa hangat dengan suara obrolan ringan dan aroma kue yang semakin menggugah selera.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah cepat dari luar. Kanaya muncul dengan wajah antusias.
"Hei, aku bantuin, ya!" serunya sambil melepas tasnya dan langsung mendekat ke meja.
Aku tertawa melihat semangatnya. "Bantuin apa? Makan hasilnya?"
Kanaya cemberut. "Halah, nggak gitu juga kali. Aku jago bikin putri salju, lho!"
Mama terkekeh. "Bagus deh kalau ada bala bantuan tambahan. Ayo, buruan cuci tangan dulu, nanti keburu adonannya habis."
Dengan tambahan tenaga baru, dapur semakin ramai dan menyenangkan. Lebaran tinggal dua hari lagi, dan aku bisa merasakan kehangatan keluarga yang semakin terasa di setiap momen kecil seperti ini.
"Kamu sama Papa aja deh ya? Mana Papa kamu?" aku berkata ke Rhea
"Tadi di depan ada Mas Radit ngga Nay?" tanyaku ke Kanaya