H-1 Lebaran

4.5K 257 2
                                        

Taqabalallahu Minna Wa Minkum, mohon maaf lahir batin semuaa!! udah makan opor berapa piring hari ini? timbangan aman kan? HAHA

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Taqabalallahu Minna Wa Minkum, mohon maaf lahir batin semuaa!! udah makan opor berapa piring hari ini? timbangan aman kan? HAHA

Jika biasanya setelah sahur aku akan mencuri-curi waktu untuk kembali tidur, maka hari ini tidak. Selepas sholat Subuh tadi, aku langsung bersiap untuk pergi ke pasar bersama Mama. Udara pagi masih sejuk, dan jalanan masih cukup lengang, hanya ada beberapa pengendara motor dan pedagang yang mulai menggelar dagangannya di pinggir jalan. Perjalanan dari rumah ke pasar hanya memakan waktu sekitar lima belas menit.

Sesampainya di pasar, aroma rempah, daging segar, dan sayur-mayur langsung memenuhi udara. Suara para pedagang yang menawarkan dagangannya bercampur dengan obrolan ibu-ibu yang sibuk memilih bahan masakan. Mama melangkah dengan cekatan menuju lapak langganannya, sementara aku mengikuti di belakang, mencoba menyesuaikan diri dengan keramaian.

"Kita beli daging dulu, nanti takutnya keburu habis," ujar Mama sambil menunjuk lapak daging yang sudah dikerumuni pembeli.

Aku mengangguk dan membantu Mama memilih potongan daging yang bagus. Beberapa kali aku harus menahan napas karena bau amis yang cukup menyengat, tapi aku tetap bertahan di samping Mama.

"Setelah ini beli apa lagi, Ma?" tanyaku setelah daging kami dapatkan.

"Sayuran, bumbu dapur, terus nanti terakhir beli ketupat," jawab Mama sambil berjalan ke arah pedagang sayur.

Aku mengikuti dari belakang, sesekali melirik ibu-ibu lain yang tampak sibuk dengan belanjaannya. Momen seperti ini selalu mengingatkanku pada masa kecil, saat aku sering ikut Mama ke pasar sebelum Lebaran. Dulu, aku hanya ikut-ikutan dan merengek minta jajanan. Sekarang, aku ikut berbelanja untuk rumah tanggaku sendiri.

Setelah semua belanjaan selesai, kami berjalan menuju tempat penjual ketupat. Antrian cukup panjang, tapi Mama tampak sabar menunggu. Aku berdiri di sampingnya, mengamati sekeliling sambil menghirup dalam-dalam aroma khas pasar yang campur aduk—rempah-rempah, daun pisang, dan minyak goreng.

"Nggak nyangka ya, besok udah Lebaran," ucapku pelan.

Mama tersenyum sambil merapikan kantong belanja di tangannya. "Iya, waktu rasanya cepat banget berlalu. Tahun ini kamu sudah merasakan sibuknya jadi ibu rumah tangga menjelang Lebaran."

Aku terkekeh kecil. "Iya, ternyata capek juga. Tapi seru."

Mama menatapku dengan lembut. "Capeknya nanti terbayar pas kita bisa kumpul sekeluarga, makan bareng, dan merayakan Lebaran bersama. Itu yang paling penting."

Tak terasa, dua jam sudah kami habiskan berkeliling pasar, memilih bahan makanan untuk persiapan Lebaran. Pulang dengan tangan penuh tentengan, aku menghela napas lega saat akhirnya sampai di rumah. Begitu selesai memarkirkan motor di depan, suara tangisan Rhea yang cukup melengking langsung menyambut kedatangan kami.

Tak lama kemudian, Mas Radit keluar dari dalam rumah dengan Rhea di gendongannya. Wajahnya masih sedikit mengantuk, sementara si kecil masih mengenakan piyama tidurnya, terlihat sedikit rewel.

Ramadhan Tale [ Revisi ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang