Bab 20

943 133 17
                                        

Ve berlari menyusuri lorong rumah sakit. Senyuman sedari tadi tak pernah luntur dari bibirnya ketika mendapat kabar dari sang anak bahwa, stempel milik Gita sudah berhasil di dapatkan oleh Adit.

Sean sebelumnya sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Yona sewaktu dia mengambil stempel Gita pada Adit, yang kebetulan saat itu tengah berada di panti asuhan.

Yona memberi izin. Walaupun wanita paruh baya itu sempat kaget saat mengetahui ternyata feeling Sean dan Ve menuju pada Gita, tapi Yona tetap mendukung nya.

Melakukan tes DNA memang tindakan yang terlalu cepat, tapi. Menurut Yona, sudah tidak ada lagi hal yang harus di sembunyikan.

Jika takdirnya sekarang, Yona pun sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Akan menjadi sangat kejam jika ia memisahkan Gita dengan keluarga 'Kandungnya' sendiri.

Yap, Gita memang anak dari seorang Jessica Veranda Tanumihardja. Tapi, bukan berarti masalah akan berakhir sampai disini. Benar yang dikatakan Yona, jika takdir sudah berkehendak memang tidak ada yang bisa melawan nya.

Namun, kita tidak tahu, kemana takdir itu akan menuntun kita. Ke suatu jalan yang membuat kita bahagia, atau sebaliknya, ke suatu jalan yang membuat kita sengsara.

*

“Bang gimana?” Tanya Ve. Sean baru saja keluar dari ruang dokter untuk memberikan stempel Rambut milik Ve dan Gita.

Sean tersenyum.“Aman bund. Kita tunggu hasilnya satu Minggu lagi” Ujarnya.

Hal itu membuat Ve tersenyum lega.“Semoga hasilnya sesuai ekspektasi ya bang” Katanya penuh harap.

Sean mengangguk.“Semuanya ada di tangan Tuhan bund. Kita ga bisa lagi berbuat banyak, tapi Abang juga sama kok. Berharap banget kalo Gita itu anaknya Bunda, Adiknya Abang.” Balasnya kemudian tersenyum kembali.

________

30 Juni

Sudah 1 Minggu ini Gita dan Gracia tidak bertegur sapa. Gita menepati janjinya untuk menjauhi Gracia. Dan Gracia menepati ucapannya untuk tidak akan pernah perduli lagi pada Gita.

Padahal, mereka masih berada dalam satu atap yang sama. Setiap hari bertemu, dan kalaupun mereka berinteraksi. Pasti pada saat rapat saja. Selebihnya hanya saling diam satu sama lain.

Dan hari ini juga, Selesainya pengecekan stempel Gita dan Ve. Dan tentunya hari yang berharga bagi Gita. Besoknya, hari dimana pertunangan Sean dan Gracia.

Gracia yang awalnya tengah sibuk dengan pekerjaannya, harus berhenti karena saat ini Sean datang mengunjunginya. Sendiri.

“Kenapa?” Tanya Gracia membuka percakapan, tetapi matanya sedari tadi hanya fokus melihat laporan yang kini berada di tangannya.

Sean berhenti menyesap kopinya, kemudian menatap Gracia.“Lo serius mau lanjutin pertunangan ini?” Tanyanya.

Gracia menghela nafasnya. Meletakkan laporan yang sedari tadi ia baca ke atas meja.“Gue ga mau sebenernya. Tapi mau ngelak gimana lagi?” Desahnya frustasi.

Sean mengangguk. Netranya menangkap sebuah foto yang ada di atas meja Gracia.“Gita” Batinnya.

Sean berhenti menyesap kopinya. Meletakkan kopi itu di atas meja, kemudian menatap Gracia dengan tatapan serius nya.“Lo bukannya benci Gita ya?” Tanyanya. Ia ingat sekali bagaimana pertemuan awal perempuan itu dengan Gita yang sempat berdebat argumen.

Gracia menatap heran Sean yang tiba-tiba bertanya mengenai Gita.“Nggak” Jawabnya singkat.

Sean mengerutkan keningnya.“Terus, kenapa lo kemarin ga mau nerima dia kerja disini? Apalagi sampe ngehina dia kaya gitu.” Tanyanya lagi.

Can I Have You? (Gregit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang