suasana ruang tunggu rumah sakit dipenuhi ketegangan. aroma antiseptik bercampur dengan hawa kecemasan yang menyesakkan dada. omma terduduk lemas di kursi, wajahnya basah oleh air mata. cucu kesayangannya kini terbaring di ruang ICU, tubuhnya penuh luka.
di seberang ruangan, Rasya berdiri kaku, wajahnya tertunduk. sementara Dika duduk di sudut, lengan dan kakinya sudah di obati diperban, darah adara masih terlihat di telapak tangannya. nafasnya berat, bukan hanya karena luka yang dideritanya, tapi juga karena beban di hatinya.
Reynand, orang kepercayaan omma yang sudah seperti cucunya sendiri ikut panik, nafasnya menderu, ia merasa gagal menjaga adiknya. Rey menghampiri Rasya, langkahnya cepat, matanya dipenuhi api kemarahan. tanpa peringatan, dia menarik kerah baju Rasya dengan kasar, membuat pemuda itu sedikit tersentak.
"SURUH JAGAIN ADEK SATU AJA, GA BECUS LO!!" suara Reynand meledak di ruangan itu, membuat semua orang terdiam.
"Rey... sudah, jangan bertengkar di sini," suara omma bergetar, mencoba menenangkan.
tapi Rey tak peduli. tatapannya penuh amarah, kecewa, dan kepedihan yang membara. nafasnya memburu.
"LO KE MANA AJA?! KENAPA ADARA SAMPE KAYAK GINI?!" bentaknya.
Rasya mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. "gue tau gue salah. gue telat nyelamatin Adara," katanya lirih, penuh penyesalan.
Rey tertawa sinis, tapi matanya memerah. "bukan cuma lo! KALIAN semua di mana?!" tatapannya menyapu cowok-cowok lain di ruangan itu. "geng motor lo itu kan banyak anggotanya?! kenapa ga ada satu pun yang cukup cepat?! kenapa Adara harus ngalamin semua ini?!"
Keheningan menelan mereka. Semua yang ada di ruangan itu sama-sama dihantui perasaan bersalah.
Gibran, yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. "lo pikir gue nggak nyesel, kak?" suaranya serak. "gue ini sepupunya. orang yang seharusnya bisa lebih ngerti dan jaga dia. harusnya gue bisa ngelindungin dia, bukan malah ngebiarin semuanya sampai jadi begini."
Rey melirik Gibran tajam. "terus kenapa lo engga?! Rasya aja gagal jagain adiknya! lo pikir rasa nyesel lo bisa bikin semua ini baik baik aja?! bisa bikin Adara balik kayak dulu?!"
Gibran mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan emosi. "engga bisa. dan itu yang paling nyakitin."
Rey melirik ke arah Dika yang masih duduk diam. nafasnya semakin berat saat melihat perban di lengan cowok itu. Darah yang mengering di telapak tangannya seperti pengingat bahwa Dika juga bagian dari kegagalan ini.
"dan lo!" kini kemarahan Rey beralih ke Dika. "gue udah nitipin Adara ke lo! lo pacarnya, lo janji buat jagain dia! tapi apa yang terjadi?! dia malah masuk rumah sakit gara-gara lo!!"
Dika akhirnya mengangkat wajahnya. matanya lelah, tapi tetap menatap Rey dengan tenang. "gue udah berusaha nyelamatin dia," ucapnya, suaranya serak.
"tapi lo gagal!" Rey mendengus sinis. "Adara ketusuk waktu nyelamatin lo, Dika! dia yang harusnya lo lindungin, malah berakhir di ranjang rumah sakit! lo pikir itu cukup buat jadi alasan?!"
Dika mengepalkan tangannya. rasa sakit di tubuhnya seolah tak ada artinya dibandingkan rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. dia ingat saat Adara melindunginya, tubuh gadis itu gemetar, matanya ketakutan-tapi dia tetap berdiri di depannya. dan pada akhirnya, dia yang terluka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ini Kisah Dika Adara [DIRA] - end
Roman pour Adolescents"lo sentuh dia artinya lo siap mati di tangan gua"ucap dika penuh penekanan - "kak pengin peluk"ucap Adara merentangkan tangannya - "I LOVE YOU ADARAAA"teriak dika memberi tau seluruh dunia bahwa ia sangat mencintai gadisnya penasaran dengan kisah m...
![Ini Kisah Dika Adara [DIRA] - end](https://img.wattpad.com/cover/376819827-64-k586054.jpg)