25. Makasih

88 13 0
                                        

Keheningan kembali merajai ruangan. Revano terhanyut dalam alam bawah sadar, sebuah tidur dangkal yang bukan untuk memulihkan raga, melainkan sekadar jeda singkat dari keletihan yang kian menumpuk. Deru napasnya terdengar halus, sesekali terputus, seolah benaknya masih berkelana mencari jawaban meski kelopak matanya terkatup rapat.

Juani melirik sahabatnya itu sekilas, sebelum mengalihkan atensi pada Bima dan Cania. Keduanya masih mematung di sisi ranjang, menjaga Roseline yang tak kunjung siuman. Paras gadis itu tampak lebih tenang, walaupun rona pucat belum sepenuhnya enyah dari kulitnya yang pias.

Cania mengulurkan jemari, mengusap lengan Roseline dengan gerakan yang teramat lembut, nyaris tak menyentuh.

"Seline..." bisiknya lirih.

Jujur, rongga dada Cania terasa sesak melihat kondisi karibnya. Kristal bening yang sedari tadi membendung di pelupuk mata nyaris tumpah. Ia ingin terisak, meluapkan segala ketakutan dan murka yang bergejolak, namun sekuat tenaga ia mencoba tegar.

Bima mengangguk pelan sembari mendekat. "Sabar, Can," ujarnya lembut. "Biarin Seline istirahat dulu, ya." Ia mencoba menuntun Cania untuk bergeser sejenak dari tepian tempat tidur.

Cania akhirnya menurut. Ia mendaratkan tubuh di samping Juani, menyandarkan punggung dengan napas yang masih terasa berat.

"Kasihan banget Seline," gumamnya dengan suara yang bergetar hebat.

Juani menoleh, lalu menepuk punggung Cania dengan gerakan menenangkan. "Sabar."

"Anjing sialan Jeriko, Bangsat," umpat Cania lirih. Kata-kata kasar itu meluncur penuh amarah yang tertahan di kerongkongan.

"Eh, mulut lo," tegur Juani refleks sembari menjepit bibir Cania dengan jemarinya. Meski menegur, sorot mata Juani menyiratkan kepedihan yang serupa.

"Gue nggak terima, Ju," ujar Cania dengan mata yang kian berkaca-kaca. "Kasihan Seline."

"Iya, sayang. Iya," jawab Juani lembut guna meredam emosi gadis itu. "Sabar. Yang kesel sama Jeriko bukan cuma lo doang."

"Masuk penjara tuh iblis, biar mampus sekalian nanti disana," tukas Cania penuh dendam.

"Iya, pasti," sahut Juani pendek. "Revano juga nggak bakal tinggal diam." Tatapannya melirik ke arah Revano di sebelah kiri yang masih bergelut dengan lelahnya.

"Kita doa aja," lanjut Juani nyaris tak terdengar. "Minta sama Tuhan semoga semuanya cepet selesai."

Cania mengangguk lemah. Di dalam benaknya, amurka dan kekecewaan melebur jadi satu. Tindakan Jeriko benar-benar nirmoral. Ia tak menyangka pria yang selama ini bertopeng manis itu ternyata menyimpan busuk kemunafikan yang mengerikan.

Tak berselang lama, daun pintu berderit terbuka. Sena melangkah masuk membawa beberapa kantong plastik. Seketika, aroma hidangan hangat menyerbak, bersaing dengan bau antiseptik yang sedari tadi mendominasi indra penciuman.

Juani berdiri lebih dahulu menyambutnya. "Bunda."

Sena menyunggingkan senyum tipis. "Ayo, dimakan dulu. Jangan bandel semuanya," pesannya sembari menata makanan di atas meja nakas. Pandangannya otomatis terjatuh pada sang putra yang masih terlelap di sofa.

"Iya, Bunda. Terima kasih," ucap Bima sopan.

"Makasih, Bun," sahut Juani.

"Makasih, Tante," tambah Cania pelan.

Sena menghampiri putranya, lalu sedikit merunduk agar wajah mereka sejajar. "Eno," panggilnya selembut sutra.

Revano terjaga perlahan. Kelopak matanya terasa seberat timah. Begitu kesadarannya terkumpul, sosok pertama yang ia cari adalah Roseline. Netranya langsung melesat ke arah ranjang, memastikan sang kekasih masih ada di sana.

STOLEN GIRLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang