26. Kecelakaan?!

129 15 6
                                        

"Apa?!" serunya dengan nada meninggi yang sarat akan keterkejutan. "Kecelakaan?!"

Satu kata itu cukup untuk membuat seluruh penghuni ruangan terdiam kaku. Revano yang tadinya memeluk Roseline kini menegang, sementara Bima dan Cania kehilangan cengirannya dalam sekejap. Udara di kamar tersebut mendadak terasa berat, seolah oksigen ditarik paksa dari sana seiring dengan detak jantung mereka yang mulai berpacu liar menanti penjelasan lebih lanjut.

"Milo kenapa, Ju?!" tanya Bima dengan nada panik yang tak tertahan.

Juani tidak segera menjawab. Ia masih terpaku, menempelkan ponsel ke telinga dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha mencerna setiap kata dari seberang sana. "Terus sekarang gimana?" tanyanya tertahan. "Lo di mana sekarang?"

Hening sejenak sebelum Juani menyahut lagi, "Oke, oke, gue ke sana sekarang."

Juani menurunkan ponselnya, lalu menatap teman-temannya dengan pandangan kosong, seolah nyawanya baru saja ditarik paksa. "Dia... dia di IGD rumah sakit ini. Katanya baru masuk."

"Dia bisa kecelakaan? Gimana ceritanya?" Cania spontan menutup mulut dengan telapak tangan, nyaris tak percaya dengan kesialan yang bertubi-tubi ini.

"Katanya dia tadi mau buru-buru ke sini, terus ditabrak lari sama motor dari arah berlawanan pas mau masuk gerbang rumah sakit," jelas Juani cepat sembari menyambar jaketnya yang tergeletak di kursi.

Roseline, yang baru saja siuman, tampak sangat syok. Wajahnya yang semula pucat kini kian pasi, nyaris tanpa darah. "Milo... kecelakaan pas mau ke sini?" bisiknya dengan suara bergetar hebat. Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya; ia merasa seolah rentetan petaka ini adalah dampak buruk dari keberadaannya di tengah-tengah mereka.

Revano mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, menciptakan sensasi perih yang tak sebanding dengan gejolak di dadanya. Amarah, kesedihan, dan kelelahan melebur menjadi satu badai yang siap meledak. Ia menatap langit-langit kamar rawat itu dengan pandangan nanar. Ujian apalagi ini, Tuhan? batinnya menjerit pedih. Roseline belum pulih benar, dan kini sahabat yang paling ia percayai justru harus bertaruh nyawa di lantai bawah.

"Ju, lo, gue, sama Bima ke bawah sekarang. Cek kondisinya," perintah Revano. Suaranya rendah, namun sarat akan penekanan yang tak terbantah.

"Can, lo di sini saja jaga Seline," cegah Revano saat melihat Cania hendak beranjak. "Biar gue, Juani, sama Bima yang urus Milo."

Tanpa menunggu komando kedua dari Revano, Juani dan Bima segera berlari keluar ruangan terlebih dahulu, meninggalkan keheningan mencekam yang menyelimuti kamar tersebut. Revano sempat berbalik, menatap Roseline dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu di sini dulu ya sama Cania," pamitnya lembut namun tegas.

Setelah mendapat anggukan lemah dari Roseline, Revano segera menyusul langkah kedua sahabatnya. Sepanjang koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam itu, langkah kakinya terasa berat. Ada kekhawatiran besar yang menghimpit dadanya—bukan hanya soal keselamatan nyawa Milo, tapi juga tentang nasib rekaman CCTV yang dibawa sahabatnya itu.

Jika Milo ditabrak tepat sebelum sampai ke tangannya, mungkinkah itu sekadar kebetulan? Ataukah ini bagian dari rencana biadab Jeriko untuk melenyapkan barang bukti?

Revano tahu betul siapa yang ia lawan. Sejak insiden di sekolah pagi tadi, ia sadar Jeriko tidak akan tinggal diam. Revano cukup mengenal latar belakang keluarga keparat itu. Ayah Jeriko bukan orang sembarangan; ia memiliki koneksi luas di jajaran petinggi dan kekuasaan yang bisa dengan mudah membelokkan hukum.

Bagi orang seperti Jeriko, aturan hanyalah deretan kalimat yang bisa dibeli. Dengan pengaruh ayahnya, ia bisa mengubah hitam menjadi putih, atau membuat saksi kunci menghilang dalam semalam. Kecelakaan Milo ini terasa terlalu "rapi" untuk disebut musibah tak sengaja. Revano menggeram rendah; ia bersumpah, jika benar ini adalah ulah Jeriko, maka kekuasaan sebesar apa pun tidak akan bisa melindungi iblis itu dari kemarahannya.

STOLEN GIRLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang