Collections of prompt that might be upload soon or later, all the ideas might be from hailjiminjeong only or ayangie would be filled up the idea.
Only for WINRINA.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
Nirnyata, UNEDITED; beware of typos and etc etc.
MJ as Maul (G!P) JM as Jani
.
.
.
Lokal (very short; mostly like drabbles) porn; reverse woman on top sex, squirting, missionary, tits play, blow jobs, also bit of bahasa jorok.
Tolong hargai penulis dengan memberikan jejak! Selamat membaca, sayangku!
…
WARTEG, Oneshoot.
…
BIASANYA sih pelanggan tetapnya Jani itu akan datang sebelum jam 9 malam.
Tapi daritadi, sosok janda kembang dari desanya ini tak sama sekali melihat batang hidungnya supir truk langganannya yang sering pesan nasi dengan usus dan sayur asemnya itu.
Kemana ya?
Oh, katakanlah ia naksir dengan sosok supir bertubuh kecil namun kelihatan jelas kalau ototnya banyak tersembunyi dalam baju yang selalu kebesaran itu.
Sosoknya yang selalu terlihat sebagai orang yang ramah dan rendah hati itu sudah lama sebenarnya diincar oleh Jani.
Mungkin sudah nyaris 7 bulan, Jani memendam rasa sukanya—apalagi setelah tau kalau sosok satu itu memiliki penis yang ukurannya diatas rata-rata.
Tapi sepertinya.
Jani harus kecewa, sebab jam sudah menunjukkan angka ke 10 namun sosok yang ia tunggu masih tidak terlihat.
Membuat bahunya turun dan wajahnya yang sesekali dipoles makeup tipis itu menjadi sia-sia sekali kelihatannya sekarang, dan ya, ia jadi menghela nafas panjang.
Dirinya yang baru akan beranjak untuk menutup warung makannya itu jadi terhenti saat melihat sosok yang dirinya tunggu-tunggu kelihatan ragu untuk masuk ke dalam, “Mbak? Masih buka?” Tanyanya pelan.
Itu membuat Jani tersenyum lebar dan menganggukan kepalanya.
“Masih kok,” katanya dengan semangat, “Tapi bentar ya! Saya tutup itu pintunya nanti kamu keluar lewat belakang aja, soalnya mau beberes.”
Sosok yang kali ini mengenakan kaus tanpa lengan tampak mengerjapkan matanya.
“.. Tapi ini gapapa, mbak?”
Jani tertawa pelan dan menganggukan kepalanya, “Gapapa, kebetulan saya juga udah nyiapin kesukaan kamu kok. Nasi pake usus trus sayur asem ‘kan?”
Maul—sosok yang mengenakan kaus tanpa lengan dan celana abu-abu itu jadi meringis pelan.
Tapi memamerkan cengiran, “Waduh, jadi gak enak ternyata udah disiapin.”
Sengaja atau tidak.
Arah pandangannya Jani justru mengarah ke selangkangannya sosok satu ini, mungkin yang ditatap justru tidak sadar.
Karna malah ikut membantu Jani untuk membereskan warungnya.
Meski kelaparan, ia masih ingin kelihatan berguna apalagi dirinya sudah menjadi langganan disini—diwarteg milik Jani yang menjadi kesukaannya usai mengantarkan barang dari pabrik es tempatnya bekerja menuju ke tempat kostumernya itu.
Dan agaknya itu membuat Jani jadi kaget sendiri, bukankah ia sudah menyuruhnya duduk saja?
Kenapa jadi malah membantu Jani untuk membereskan semua bangku-bangku yang berantakan dalam warung makannya ini?
Perasaannya ia tak sama sekali menyuruh sosok satu ini untuk membantunya, deh?
“Duduk aja ih! Gausah ngebantuin aku, Ul,” Jani menggelengkan kepalanya tapi tetap menggerakan tubuhnya itu untuk merapihkan bangku yang sudah harusnya dinaikkan ke atas.
Itu mempermudah pekerjaannya saat membuka warung, dalam menyapu atau mengepel lantai besok pagi—soalnya ia bekerja hanya berdua.
Pun, jika sang adik tengah libur sekolah bisa membantunya tapi kalau tidak ya paling hanya dirinya sendiri saja.
“Maul. Duduk aja.”
Jani kembali melayangkan teguran karna yang pertama justru diabaikan oleh sosok satu ini, malahan, Maul mengambil gagang sapu.
Seolah sangat bersemangat dalam membantunya merapihkan warung.
Yang dinasehati malah cengengesan.
“Gak mbak, biar cepet. Biar sayanya juga gak ganggu mbak Jani kelamaan, mbak mau pulang juga ‘kan?”
Itu tuh yang bikin Jani naksir dengan sosok satu ini, habis, jarang ada yang seperti Maul—adiknya saja kadang minta bayaran yang lebih mahal daripada uang sakunya ketika membantunya?
Tapi sosok satu ini?
Pengertian, mana wajahnya menawan dan tampak begitu resik (bersih)—berbeda dengan kebanyakan supir lainnya; Maul tidak.
Jani sendiri yakin kalau sosok satu ini punya satu set skincare, soalnya wajahnya sangat mulus.
Sangat cocok untuk dirinya duduki.
“Ul, udah! Sana duduk, gausah disapu gitu. Ini saya mau ambilin kamu nasinya,”
“Tanggung, mbak!”
Mendengar itu Jani jadi menahan diri untuk tak tersenyum, dirinya merasa kalau Maul harus diapresiasi.
Namun dengan apa ya?
Tapi sebelum dirinya bisa memikirkan sesuatu, Jani kembali memperhatikan sosok Maul yang tampak semangat menyapu secara telaten.
Kemudian, pandangannya kembali mengarah ke selangkangannya Maul yang tercetak jelas itu.
Oh.
Agaknya ia tau harus memberikan apa sebagai ucapan terima kasih kepada Maul.
. . .
Full on ; OS : Warteg https://privatter.net/p/11483227