Sasuke dan Hinata terus melangkah beriringan di jalan berbatu itu. Matahari perlahan bergeser ke barat, memanjangkan bayangan tubuh mereka di tanah kering. Udara mulai menghangat, tetapi angin dari lembah masih membawa kesejukan yang membuat kulit pucat mereka menggigil.
Sasuke menatap lurus ke depan, mencoba fokus pada jalan di hadapannya, namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Ia masih mendengar gema lembut suara Hinata beberapa menit lalu, dan entah kenapa suara itu seakan mengulang lama di telinganya.
"Berhenti sebentar," katanya tiba-tiba, menghentikan langkahnya di bawah sebuah pohon kecil di pinggir jalan.
Hinata ikut berhenti, menatap bingung Sasuke yang kini membuka tasnya dan mengambil botol air. "Apa kau lelah, Uchiha-san?" tanyanya hati-hati.
Sasuke tidak menjawab langsung. Ia menegak sedikit air, lalu menatap Hinata sekilas. "Tidak. Tapi kupikir kau sepertinya mulai kelelahan."
Hinata menggeleng cepat, tapi napasnya memang sedikit terengah-engah. "A-aku baik-baik saja," ujarnya, meski keringat halus mulai membasahi pelipisnya.
Sasuke menyeringai. "Hyuga selalu bilang mereka baik-baik saja, bahkan ketika mereka telah melebihi kapasitas kemampuan mereka, eh?"
Nada suaranya datar, tapi ada guratan kehangatan samar di dalamnya. Hinata hanya tersenyum malu, lalu menunduk, menatap ujung sepatunya.
"Aku berharap aku tidak selemah itu, Uchiha-san," jawabnya pelan, nyaris berbisik.
Sasuke menyilangkan tangan, memandangnya dalam diam sejenak. Menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia harus mengatakannya atau tidak, tapi kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. "Kau tidak."
Satu kalimat itu cukup untuk membuat Hinata menegakkan kepala, matanya sedikit membesar. Namun Sasuke sudah melangkah lagi, melewatinya tanpa menoleh, sehingga Hinata tidak dapat memperhatikan ekspresinya.
"Ayo. Kita harus sampai ke desa sebelum gelap. Jalannya akan semakin curam setelah ini."
Hinata segera mengikutinya, rasa senang menghinggapi relung hatinya. Ia pikir pria uchiha yang terkenal dingin itu akan melontarkan kata-kata yang sudah siap Hinata terima, namun nyatanya itu menenangkannya. Langkahnya terasa lebih ringan, seolah satu kalimat singkat tadi menjadi tenaga tambahan baginya.
Mereka kembali berjalan tanpa suara, hanya ditemani bunyi langkah di atas batu dan desir angin yang melintas di antara dedaunan kering. Sesekali Sasuke menoleh untuk memastikan Hinata tidak tertinggal, dan setiap kali ia melihat gadis itu masih beriringan di belakangnya, ada sesuatu yang menyerupai ketegangan aneh di dadanya.
Menjelang malam, warna langit mulai berubah menjadi ungu lembut, yang jika Sasuke perhatikan warnanya hampir sama dengan warna surai gadis yang tengah berjalan disampingnya. Dari kejauhan, terlihat kabut tipis menyelimuti perbukitan yang menjadi perbatasan Negeri Tanah.
Hinata berhenti sejenak, menatap pemandangan itu dengan kagum. "Indah sekali…" ucapnya lirih.
Sasuke juga berhenti, mengikuti arah pandangnya. Cahaya kuning keemasan memantul di mata lavender pucat milik Hinata, membuatnya tampak berkilau. Ia tidak tahu mengapa, tapi tiba-tiba saja Sasuke merasa dadanya menghangat. Ia cepat-cepat memalingkan pandangannya lagi.
"Kau terlalu sering berhenti untuk mengagumi hal-hal kecil," gumam Sasuke.
Hinata tersenyum kecil, tanpa menatapnya. "Menghargai hal-hal kecil yang masih bisa kita nikmati keindahannya adalah hal yang penting Uchiha-san."
Sasuke menatapnya sekilas, bibirnya bergerak tapi tak jadi bicara.
Jadi aku bisa menikmati keindahanmu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Mistake
Fanfiction[Fanon/Semi-Canon] Sasuke Uchiha, shinobi legendaris yang dikenal dingin dan pendiam, terhenyak ketika putri semata wayangnya menanyakan tentang sosok sang ibu, Hinata Hyuga. Pertanyaan yang sederhana namun menggugah kenangan mendalam yang selama in...
