Sasuke melirik ke arah kapal yang akan mereka tumpangi. Lambungnya kokoh, dengan lambang Negeri Hujan terukir samar di sisi kayu yang mulai menggelap oleh air asin.
"Hyuga, tunggu di sini. Jangan pergi jauh di dekat kapal ini. Aku akan mengurus sesuatu."
Hinata mengangguk pelan. "Mhm, Sasuke-kun."
Sementara Sasuke lalu melangkah menuju bangunan kecil di ujung dermaga, tempat para penumpang mencatatkan nama dan tujuan perjalanan mereka.
Bahunya tegak, tatapannya dingin seperti biasanya. Ia berbicara singkat dengan petugas pelabuhan, menyerahkan dokumen perjalanan dan memastikan jadwal keberangkatan mereka tidak tertunda.
Sementara itu, Hinata berdiri tenang di dekat tiang kapal. Angin laut meniup lembut rambut panjangnya, membuat ujung-ujungnya menari di udara. Tangannya menggenggam erat tas kecilnya, sementara gulungan penting yang akan ia serahkan kepada daimyo negeri hujan telah diamankan Sasuke dalam tas perjalanannya.
Beberapa lelaki pelabuhan melintas, sebagian memanggul barang, sebagian lagi hanya duduk santai memperhatikan tiap orang berlalu lalang.
Tiba-tiba, dua lelaki yang tidak Hinata kenal perlahan berjalan mendakat dari tempat Hinata berdiri. Ia sudah menyadari bahwa Hinata dipandang dalam diam oleh lelaki yang kini mendekatinya. Hinata berusaha tetap tenang.
Dua lelaki itu berjalan dengan gerakan santai namun sengaja dibuat mencolok, yang pertama bertubuh kurus dengan hidung mancung dan mata hitam seperti milik Sasuke namun yang ini terlalu lama menatap, seolah tidak mengenal sopan santun. Senyumnya miring, licik, rambut serta pakaiannya terlihat acak-acakan.
Yang kedua lebih tinggi dan kekar, rambutnya acak-acakan tertiup angin laut. Ia tertawa kecil sambil menyikut temannya, tatapannya tak kalah mengganggu.
"Wah, lihat siapa di sini," ujar yang bertubuh kurus. "Lihat dia, Takumi. Gadis yang sangat cantik berdiri sendirian di pelabuhan." lanjutnya dengan tawa menggelegar yang membuat Hinata ingin melempar tendangan padanya.
Temannya yang dipanggilnya Takumi ikut tertawa dan mendekat, langkahnya sengaja diperlambat. "Kau benar Ren, dia sangat cantik. Bukankah sangat rugi jika kau sendirian, Nona?" tanyanya dengan nada meremehkan.
Si lelaki bertubuh kurus semakin mendekati Hinata yang terpojok, "Apakah kau butuh teman, Nona? Aku siap menemanimu dalam perjalanmu." godanya.
Hinata merasakan ketidaknyamanan merayap di dadanya. Namun ia mencoba tetap tenang. "Tidak, Tuan! tolong jaga sikap kalian."
Senyum lelaki itu memudar sedikit, tapi matanya masih memandang kurang ajar kepada Hinata. "Wah, wah, Takumi. Ternyata gadis ini galak juga. Siapa namamu, nona?" tanya si bertubuh kurus sambil mendecakkan lidah. "Kau tenang saja, Nona. Kami hanya ingin bicara baik-baik dan berkenalan denganmu."
"Jangan sok suci di pelabuhan seperti ini," tambah temannya, nadanya mulai terdengar kasar dan menjijikan di telinga Hinata. "Kau tahu, Nona? Kalau berdiri sendirian, itu artinya kau siap jika ada yang mendekatimu disini."
Hinata mengangkat wajahnya perlahan. Mata lembutnya kini menunjukkan ketegasan yang jarang terlihat. Ia merasa ingin sekali mengaktifkan byakungannya dan menghajar para lelaki hidung belang tersebut. "Aku sudah meminta kalian untuk pergi."
Beberapa orang di sekitar dermaga mulai melirik, tetapi tak satu pun benar-benar peduli atau ikut campur. Suasana pelabuhan tetap riuh, karena terdapat berbagai aktivitas seperti teriakan para nelayan yang membawa ikannya, suara ombak, kayu kapal berderit, seakan kejadian kecil itu tenggelam dalam kebisingan.
Si lelaki kekar mendengus, lalu tiba-tiba meraih pergelangan tangan Hinata. "Kau terlalu lama, Ren. Kita bawa saja dia!"
Hinata terkejut. Tasnya hampir terjatuh saat tubuhnya tertarik beberapa langkah. "Lepaskan aku!" serunya, berusaha menarik tangannya dari cengkeraman lelaki kekar itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Mistake
Fanfiction[Fanon/Semi-Canon] Sasuke Uchiha, shinobi legendaris yang dikenal dingin dan pendiam, terhenyak ketika putri semata wayangnya menanyakan tentang sosok sang ibu, Hinata Hyuga. Pertanyaan yang sederhana namun menggugah kenangan mendalam yang selama in...
