33

1.8K 106 25
                                        

Happy reading🚬🍓





Ditemani gelapnya malam dan angin sepoi-sepoi, taehyung duduk di bangku yang terletak di belakang rumahnya sembari memegang segelas kopi hitam. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, jungkook dan rae hoon tentunya sudah berada di alam mimpinya masing-masing, sedangkan ia justru membuat kopi yang pastinya akan membuat ia lebih susah tertidur.

Beberapa hari ini, tepatnya setelah ia tau jungkook terkena leukimia, ia sulit sekali untuk tidur. Kepalanya penuh, sepanjang hari ia terus memikirkan hal yang sama. Ia berharap ini adalah mimpi, dan jika memang benar, ia ingin segera terbangun dari mimpi buruknya ini.

Suara helaan nafas panjang lagi-lagi terdengar, siapa lagi jika bukan berasal dari pria bermarga kim itu. Ia menyesap kopinya lalu meletakkan gelas tersebut di sisi kosong sebelahnya, ia mendongakkan kepalanya, menatap indahnya langit di malam hari yang dipenuhi bintang-bintang. Pikirannya melayang ke masa lalu, beberapa moment indah dirinya bersama jungkook terbayang di benaknya.

Namun, moment indah itu seketika tergantikan oleh ucapan dokter tempo hari, ia berkata kemungkinan jungkook hidup hanya sekitar 1-3 bulan lagi. Jelas itu waktu yang singkat untuknya, ia hanya bisa berdoa dan berharap jungkook bisa hidup lebih dari itu.

Setiap hari, mereka bertiga selalu menghabiskan waktu bersama. Walaupun yang bisa mereka lakukan hanyalah menghabiskan waktu di dalam kamar, namun ketiganya tetap merasakan kebahagiaan dan kehangatan di antara mereka. Taehyung bahkan membeli handphone baru khusus untuk menyimpan kenangan-kenangan mereka, ia selalu merekam dan memfoto apa saja yang mereka lakukan. Ia harap, semua itu bisa meredakan rasa rindunya pada jungkook ketika cintanya itu sudah pergi dari hidupnya, selamanya.

Ketika taehyung sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, samar-samar ia mendengar suara tangisan anak kecil. Ia semakin mempertajam telinganya dan hanya berfokus pada suara tersebut.

"DADDYYYYY~"

Taehyung sontak mengalihkan pandangannya ke sumber suara, di sana ia melihat buah hatinya berdiri dengan air mata bercucuran dari mata indahnya. Ia segera menghampiri rae hoon lalu menggendongnya dan menenangkannya.

"Shttt kenapa sayang?"

Pertanyaan dari daddynya itu tidak dijawab, ia masih terus menangis. Taehyung pun akhirnya membawa rae hoon ke tempat ia semula, ia duduk di bangku itu dengan memangku sang anak. Rae hoon dipeluk sembari punggungnya dielus lembut oleh taehyung, setidaknya rae hoon harus ditenangkan terlebih dahulu sekarang, baru setelah tenang, ia akan mencoba mengobrol dengan rae hoon tentang penyebab anaknya itu menangis.

"It's okay, sayang. Nangis dulu gapapa, nanti klo udah tenang bicara sama daddy ya, nak?"

Disela-sela tangisannya, rae hoon menganggukkan kepalanya. Sungguh menggemaskan.

Setelah beberapa saat, rae hoon sudah berhenti menangis dan sudah lebih tenang dari sebelumnya. Taehyung melonggarkan pelukannya untuk melihat tampang anaknya, diusapnya air mata sang anak lalu ia mencium di keningnya.

"Udah tenang? Daddy boleh tanya?" Ucap taehyung lembut sembari mengelus kepala rae hoon, rae hoon yang mendengarnya pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan.

"Hoonie kenapa nangis? Hm?"

"Daddy hilang, hoonie cali-cali. Daddy~ daddy~ tapi daddy hilang" jelas rae hoon dengan masih sesenggukan.

Taehyung berusaha memahami kata demi kata yang rae hoon ucapkan lalu ia terkekeh pelan.

"Ohhh anak daddy ini kebangun terus cari-cari daddy ya? Hoonie panggil daddy~ daddy~ gitu, tapi daddynya gak ada. Iya sayang?" Rae hoon menganggukkan kepalanya tanda membenarkan apa yang daddynya ucapkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 23, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Baby [kth + jjk]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang