Siapa?

126 15 3
                                        





Lorong sempit itu berderit di bawah langkah kaki gemetar Soobin dan Kairo. Lampu remang-remang berkedip, melemparkan bayangan besar di dinding beton basah. Pintu besi yang tadi mengurung mereka kini hanya setengah terkunci—penjaga lengah, teralihkan oleh pesan palsu di radio.

"Soobin, cepat!" bisik Kairo, menarik lengan Soobin menunduk di balik tiang pipa. Jantung Soobin berdegup kencang, peluh dingin menetes di pelipisnya. Salah satu anggota Eclipse berambut putih baru saja lewat, menepuk bahu teman seangkatannya, lalu berlalu sambil tertawa.

"Bagaimana kita bisa buka pintu itu?" gumam Soobin, suaranya tercekat. Dia sudah hampir kehilangan akal, ingat akan kelemahannya—mudah panik.

Kairo mengeluarkan potongan kawat kecil dari saku celananya. "Gunakan ini." ujarnya sambil meraba lubang gembok, "Ini harusnya bisa bekerja. Tapi kau harus tenang."

Soobin menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam getaran tangannya. "O-ke..." suaranya gemetar, lalu ia menajamkan mata pada kunci.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti abad, klik halus terdengar—gemboknya terbuka. Pintu bergesekan pelan, memperlihatkan lorong lantai atas.

Mereka menyelinap keluar—hampir saja terjangkit lampu gerak otomatis, namun Kairo menarik Soobin ke balik sudut, secepat kilat. Alarm hampir berbunyi, tapi lampu timbul kembali setelah deteksi berakhir.

Sampai di tangga darurat, dua penjaga muncul dari belakang, senjata diulur. Soobin terperanjat, lututnya mendadak lemas. Kairo segera bertindak: satu tamparan memekakkan tulang membuyarkan keseimbangan penjaga pertama, lalu tendangan cepat menghantam tangan penjaga kedua, membuat senjatanya terlepas.

"Ayo!" Kairo menuntun Soobin turun tangga. Deburan napas mereka beradu dengan gema ribuan langkah kaki anggota Eclipse yang mungkin sudah dibangunkan.

Di lantai dasar, mereka menemukan pintu yang menuju lorong belakang—cuma satu penghalang lagi. Kairo memaksa Soobin menempelkan telapak tangan di dinding, menenangkan diri. "Ingat," katanya lirih. "Kau kuat."

Soobin mencondong, menelusup di belakang Kairo. Ketika keduanya menendang pintu besi itu, tiba-tiba lampu kilat dari luar menerobos, sekawanan anggota Eclipse menanti di ujung lorong.

Soobin terhuyung, detak jantungnya seperti ingin meledak. "Tidak... tidak bisa berhenti!" gumamnya.

Kairo menarik Soobin kembali ke kegelapan samping dinding—melemparkan potongan bambu kecil ke layar kamera pengintai, memancing mereka berbalik sejenak. Sementara cahaya monitor berkedip, Kairo menggasak pistol kecil dari kantong, menenangkan jalan satu per satu dengan tembakan terarah.

Soobin mematung, lalu mengumpulkan sisa keberanian untuk terus berlari. Mereka menembus pintu keluar menuju halaman belakang gudang Eclipse—di sanalah mobil Kairo diparkir, mesin menyala dalam keremangan.

Hujan mulai turun deras, menyamarkan suara mereka. Kairo memeriksa kursi penumpang, "Ayo, masuk—dan jangan lihat ke belakang."

Soobin melompat ke dalam, menutup pintu dengan cepat. Mereka melaju menembus pekat malam, ranting pohon berdenting di kaca mobil. Jantung Soobin masih berdetak liar, namun di setiap kilometer yang meninggalkan markas Eclipse, rasa lega perlahan menjalar.


Rintik hujan masih menari di kaca depan ketika Kairo mengalihkan pandangannya dari jalan ke Soobin, matanya terpantul lampu jalan yang samar. "Ingat waktu pertama kali kau dan aku ditempatkan di satu tim, Soobin?" tanyanya pelan.

AGEN5 ; {D124M4}| TXTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang