Hadiah

145 16 7
                                        








Gelap. Itulah satu-satunya hal yang Soobin rasakan sepanjang perjalanan.

Matanya ditutup dengan kain tebal, sementara kedua telinganya tersumbat benda keras yang meredam hampir semua suara. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah merasakan getaran langkah kaki orang-orang di sekitarnya.

Udara di ruangan yang membawanya terasa lembab, dan setiap hentakan kecil yang terasa di tubuhnya memberitahu bahwa ia sedang melewati lorong yang panjang. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia dibawa pergi, tetapi tubuhnya mulai terasa pegal karena terus-menerus dituntun tanpa tahu ke mana ia akan dibawa.

Tiba-tiba, langkah kaki berhenti. Kedua tangan Soobin yang terikat ditarik dengan kasar sebelum tubuhnya didorong ke sebuah kursi. Suara rantai bergemerincing saat kakinya juga diikat ke kaki kursi.

Beberapa detik kemudian, penutup matanya dilepas, membuat Soobin harus menyipitkan mata karena cahaya terang yang menyilaukan. Butuh beberapa detik baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Ia berada di sebuah ruangan beton yang kosong, kecuali meja besi di depannya dan dua pria berpakaian hitam yang berdiri mengawasinya. Lampu putih terang menyala tepat di atas kepalanya, membuat bayangan mereka terlihat samar di sekeliling ruangan.

Seorang pria duduk di kursi seberang meja, menatapnya dengan tatapan dingin. Wajahnya tidak begitu jelas karena sebagian tertutup masker hitam, tetapi matanya menunjukkan ketajaman yang membuat Soobin merasakan ancaman besar.

"Jadi, ini dia salah satu anggota AGEN5 yang selama ini membuat kami kerepotan." ujar pria itu, suaranya datar tapi mengandung nada mengejek.

Soobin tetap diam, tatapannya penuh dengan kewaspadaan.

Pria itu menghela napas pendek sebelum menatap Soobin lebih tajam. "Aku akan langsung ke intinya. Beritahu kami semua yang kau tahu tentang AGEN5. Nama lengkap, spesialisasi, sistem operasi, dan akses ke markas besar TSSI."

Soobin tidak menanggapi. Ia hanya menatap pria itu tanpa ekspresi, meskipun di dalam dirinya, rasa panik mulai merayap perlahan.

Melihat Soobin yang tetap diam, pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi dan tersenyum kecil. "Kau tidak akan bicara, ya?"

Soobin tetap tidak bereaksi.

Tanpa peringatan, pria di belakangnya menendang kursi yang didudukinya dengan kasar, membuat tubuh Soobin sedikit terhempas ke depan. Lengan kursi yang keras menghantam tulang rusuknya, membuatnya meringis kesakitan.

"Aku tidak suka membuang waktu." pria itu berkata, kali ini dengan nada yang lebih dingin.

"Kau bisa membuat ini mudah, atau kau bisa memilih cara sulit."

Soobin menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Jangan panik, tenangkan dirimu, Soobin."

Namun, ketika pria di belakangnya mencengkeram rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang, rasa takut mulai menjalar lebih kuat di tubuhnya.

"Ayo, katakan sesuatu." suara pria itu terdengar semakin dekat di telinganya.

Soobin menggigit bibirnya, menahan rasa sakit.

Setelah beberapa menit tanpa jawaban, pria di depannya tertawa kecil. "Baiklah. Jika kau tidak mau bicara, biar aku saja yang memberi jawaban."

Soobin mengerutkan kening.

AGEN5 ; {D124M4}| TXTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang