Nama yang Dibakar

104 16 2
                                        





Udara di ruangan bawah tanah itu seperti mati. Cahaya redup dari lampu gantung berkedip pelan, memantulkan bayangan aneh di dinding beton yang lembab. Bau besi tua, darah, dan debu menyatu menjadi aroma busuk yang menyesakkan.

Di sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia lima tahun duduk membungkuk. Lututnya ia peluk erat, tubuh kecilnya gemetar dalam pakaian robek yang sudah tak lagi menyerupai baju. Kaki telanjangnya penuh luka gores. 

Di pelukannya tergenggam erat sebuah kain lusuh—serbet makan kecil bermotif bunga matahari, satu-satunya yang tersisa dari rumahnya yang kini hanya puing.

Matanya kosong. Tak menangis. Bahkan sudah berhenti bicara.

"Kau masih hidup. Itu artinya kau dipilih."

Suara itu mengiris keheningan. Berat. Kasar. Seorang pria tinggi bertubuh kurus namun bertenaga berdiri di depannya. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan, namun logo Eclipse tersemat jelas di dadanya.

Ia berjalan mendekat, menyisakan jejak kaki berderak di lantai beton.

"Dengar baik-baik, anak anjing. Namamu sekarang Yeonjun. Nama lama itu dibakar bersama keluargamu."

Anak itu tak menjawab. Sorot matanya tetap kosong. Tapi cengkeramannya pada serbet di pelukannya menguat.

"Kami—Eclipse—yang menyelamatkanmu dari api itu. Bukan polisi, bukan negara, bukan juga pahlawan kecil dari film super hero. Dunia tidak menyelamatkanmu." ucap pria itu sambil menunduk, suaranya berubah menjadi bisikan dingin di telinga anak itu.

"Kami yang melakukannya. Dan dunia akan membayar atas semua yang telah diambil dari kita."

Lalu pria itu berlutut. Ditariknya serbet dari pelukan Yeonjun kecil.

"Ini milik masa lalu. Masa lalu itu sudah mati."

Anak itu mencoba menarik kembali kainnya, tapi pria itu berdiri cepat, lalu merobek serbet itu tepat di depan matanya.

Suara sobekannya tajam.

"Kalau kau masih lemah, kau akan dibuang seperti sampah lainnya. Tapi jika kau bertahan... maka dunia akan mengenal namamu."

Ia melemparkan potongan serbet ke lantai, lalu membalikkan tubuh.

Pintu besi terbuka dengan desisan berkarat.

"Bawa dia ke Ruang Latihan 3. Mulai besok, ia tidak tidur di sel. Ia belajar."

Langkah kaki mendekat. Dua pria lain masuk, memegang lengan kecil anak itu, menyeretnya keluar.

Anak itu menoleh untuk terakhir kalinya pada potongan serbet yang tercabik di lantai kotor. Cahaya dari lampu di atas menyinari motif bunga matahari yang tersisa. Cahaya itu berkedip... lalu padam.

Dan nama lamanya... terkubur bersama keluarganya di tanah yang tak pernah ditandai batu nisan.


Waktu setelah malam itu mengalir seperti darah di luka terbuka—lambat, menyakitkan, dingin. Yeonjun kecil tak lagi tidur di sel. Ia dibuang ke ruangan tanpa jendela yang disebut 'latihan,' tapi lebih pantas disebut ruang pembantaian karakter.

Ia dilatih untuk membunuh tanpa ragu. Menyerang tanpa emosi. Menaati perintah tanpa bertanya.

Setiap pukulan yang ia terima karena terlambat bereaksi, setiap cambukan saat ia menahan amarah, semuanya disambut kalimat yang sama:

AGEN5 ; {D124M4}| TXTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang