Ketika hasrat rindu mengebu-gebu menginginkan sesuatu yang telah hilang. Perasaan kehilangan ataupun kesedihan akan sesuatu yang hilang.
Pertemuan yang tidak diinginkan berakhir dengan perpisahan yang begitu menyakitkan.
Starting: 24-09-2023
End:...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[ Di bawah rintik hujan tersemat indahnya kenangan yang telah kita ukir bersama ]
Sudah 1 minggu lamanya Revan berada disini, dan selama itulah mereka sering menghabiskan waktu bersama. Revan benar-benar memanfaatkan waktu 1 bulannya bersama dengan Fawnie.
Kini, mereka berdua tengah duduk di taman. Mereka larut dalam pikiran masing-masing, Fawnie sangat menikmati angin sepoi-sepoi dimalam hari, sedangkan Revan sibuk mengamati gadisnya itu. Sampai akhirnya Fawnie sadar bahwa sedaritadi Revan terus mengamatinya.
"Kenapa?" Tanya Fawnie pada laki-laki itu, Revan malah menggeleng tetapi pandangannya tidak teralihkan tetap fokus menatap Fawnie, membuat Fawnie gugup bukan main.
"Btw, apa kakak bakal selalu bawa kamera itu setiap bareng sama aku?" Revan hanya mengangguk. Ia berniat untuk selalu mengabadikan momennya dengan Fawnie, Jika kalian lihat kameranya itu berisikan video dan foto-foto Fawnie.
"Aku merasa beruntung banget bisa bertemu dengan Ka Revan, dan bahkan sekarang kita berpacaran. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini, jadi ini adalah kali pertama bagi aku." Revan menautkan alisnya, "Merasakan hal apa?"
"Merasakan rasanya dicintai, karena aku selalu yang mencintai jadi aku berharap ingin rasanya dicintai seperti yang orang lain rasakan. Dan yap, tuhan mengabulkan doaku. Mungkin jika pada saat itu aku tidak mengiyakan permintaan dari Reva, kita tidak akan pernah bertemu." Revan membawa Fawnie dalam dekapannya, mengelus perlahan surai panjang Fawnie.
"Kita memang ditakdirkan untuk bersama, Fawnie." Fawnie membalas pelukan Revan, dan merasakan hangatnya dekapan dari laki-laki itu. Nona Hujan sangat menyukai pelukan dari Tuan Hujan ini.
Tiba-tiba saja petir bergemuruh, langit terlihat gelap sekali tidak seperti biasanya. "Sepertinya akan hujan" ujar Revan, dan dibalas anggukan oleh Fawnie.
Benar saja, tak lama kemudian rintikan hujan turun membasahi kota. Bukannya malah berteduh atau kembali pulang, Fawnie malah berdiri dari tempat duduk lalu menikmati tetesan air hujan yang mulai membasahi dirinya. Melihat hal itu, Revan pun mengikutinya.
Fawnie menggenggam tangan Revan lalu membawanya ke tengah taman agar bisa lebih leluasa menikmati hujan. "Aku suka sekali dengan hujan!" ujar Fawnie, "Aku lebih suka dirimu." batin Revan.
Mereka menari dibawah rintikkan hujan, menikmati tiap tetesan air hujan yang terus membasahi tubuhnya. Revan merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Fawnie, tetapi di sisi lain, ada kerinduan yang mendalam untuk lebih dekat dengannya. Ia ingin merasakan kehangatan Fawnie, ia ingin mengungkapkan perasaannya lagi dengan cara yang lebih intim. Revan menatap mata Fawnie, manik milik Revan bertemu dengan manik milik Fawnie dan dalam sekejap, dunia di sekelilingnya seolah menghilang, seperti Hanya ada mereka berdua.
Revan merasakan ketegangan di udara, seolah ada magnet yang menariknya untuk lebih dekat. Ia bisa merasakan detak jantungnya yang semakin cepat, dan ia yakin bahwa saat itu adalah momen yang tepat. Dengan perlahan, Revan memeluk pinggang Fawnie, membuat tubuh mereka menjadi lebih dekat. Ia bisa melihat jelas kilau di mata Fawnie, dan itu membuatnya semakin yakin untuk melakukannya.
Namun, rasa takut juga menyelimuti hatinya. Revan khawatir jika Fawnie akan menolak, atau jika tindakan itu akan merusak hubungan mereka. Terlebih lagi ia mengetahui bahwa gadis yang ada dihadapannya ini baru merasakan cinta. Tapi saat Fawnie menatapnya dengan penuh perhatian dan mengalungkan kedua tangannya pada bahu Revan, semua keraguan itu seolah menguap. Revan mengumpulkan keberanian, Tatapannya yang begitu lekat dan dengan lembut telapak tangannya menyentuh pipi Fawnie, merasakan kehangatan kulitnya membuat jantung Fawnie berdegup lebih kencang. Fawnie merasakan seperti ada sesuatu yang bergerak layaknya kupu-kupu bertebrangan didalam perutnya.
Seakan paham apa yang akan terjadi selanjutnya, Fawnie memejamkan kedua matanya ketika Revan menangkupkan kedua pipinya dengan telapak tangannya yang hangat. Dengan hati berdebar, Revan mendekatkan wajahnya ke wajah Fawnie. Ia bisa merasakan deru napasnya yang lembut, dan saat itu, semua yang ada di pikirannya hanyalah keinginan untuk mencium gadis yang dicintainya. Revan menutup matanya sejenak, membiarkan perasaan itu mengalir. Dalam detik-detik yang terasa seperti selamanya, ia akhirnya memberikan sebuah ciuman lembut yang penuh rasa cinta dan harapan pada Fawnie.
Saat bibir mereka bersentuhan, baik Revan maupun Fawnie, mereka sama-sama merasakan aliran energi yang luar biasa. Muncul sebuah rasa kebahagiaan yang tak terlukiskan. Ciuman itu bukan hanya sekadar ungkapan cinta, tetapi juga janji untuk saling mendukung dan menjalani perjalanan bersama.