Tak ada yang benar-benar siap menjadi bahan pembicaraan satu sekolah. Termasuk Medlin.
Pagi itu, suasana koridor sekolah berbeda. Bukan karena langit mendung atau jam masuk yang lebih awal dari biasanya. Tapi karena sebuah tweet. Sebuah potret diam yang tersebar ke ribuan mata, dipenuhi asumsi, bumbu-bumbu liar, dan kalimat penuh prasangka. Foto itu menunjukkan Medlin berjalan bersama seorang laki-laki ke arah sebuah gedung apartemen. Tidak bergandengan, tapi cukup dekat untuk menimbulkan tanda tanya. Terlalu dekat, menurut banyak orang.
“Cewek sama cowok kalau udah masuk apartemen itu ngapain guys,” tulis akun sender base sekolah, lengkap dengan emoji sok polos dan tangan berdoa, seakan tidak tahu apa-apa, padahal dengan sengaja menyalakan api.
Beberapa komentar buruk ditinggalkan orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang dia dan Gavin.
Sesuai kesepakatan mereka tak mau mengumumkan kebenaran soal mereka adik kakak yang kembar.
Sementara di sisi lain, grup chat Estrella kembali ramai menyoroti postingan akun base yang nyeleneh itu.
[Kay William] :
Baru juga mau nyicip udah keduluan Gavin haha
[Archio Alastar] :
Maksud lo?
[Gavin Pradipta] :
Maksud lo apaan Kay?
[Kay William] :
(Sebuah tautan terkirim)
[Gavin Pradipta] :
Siapa yang foto itu anjing!!
[Kay William] :
Giliran gue dong, masa gak mau gantian?
[Archio Alastar] :
Kay ketikan lo sampah banget, bisa diem gak?
[Kay William] :
Kalo diem dikasih medlin gak sama gavin?
Marvin hanya membaca.
Dia juga sebenarnya ingin tahu lebih, apa hubungan Gavin dan Madeline yang sedang ramai diperbincangkan. Akan tetapi, dia masih punya batas dan tidak ingin melewatinya apa lagi ikut berasumsi yang dapat menyakiti hati Madeline dan Gavin.
**
Waktu pagi sudah mulai bergilir siang, Madeline duduk sendirian di depan ruang seni. Koridor sekolah sudah mulai sepi para murid memilih menghabiskan waktu istirahat di kantin.
Ponselnya tergeletak begitu saja disampingnya, suara notifikasi terus terdengar. Beberapa komentar buruk masih terngiang di kepalanya, seharusnya dia tak perlu repot membacanya.
Katanya dia berulah lagi, katanya dia sana-sini mau. Ah, sialnya mereka tidak tahu apa-apa asumsi sampah mereka hanya menunjukan kualitas hidup mereka yang mudah termakan isu palsu.
"Lo suka waffle, kan?"
Suara itu datang dari arah kanan, pelan tapi Madeline tahu siapa.
Madeline mendongak, terlihat Marvin sedang berdiri sambil memegang dua waffle yang ditawarkannya.
Madeline menatapnya sebentar kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Lo ngapain disini?" tanyanya.
"Nyamperin lo," jawab Marvin ringan kemudian duduk disamping Madeline tanpa diminta.
Keheningan seketika menemani mereka berdua, hanya suara samar-samar ribut para murid dari kejauhan.
"Kalo bikin kesal gak usah dibaca," kata Marvin.
Madeline melirik padanya. "Enggak, kenapa gue harus kesal?"
"Kirain, baguslah kalo lo enggak begitu peduli sama asumsi orang."
Madeline menghela nafas, orang lain mungkin bisa dia bohongi tapi tidak hatinya sendiri. Sejujurnya, beberapa komentar pedas membuatnya sedikit terluka.
"Iya."
Marvin kembali menawarkan waffle yang sejak tadi dia pegang. "Serius gak mau?"
Tanpa basa-basi lagi Madeline mengambilnya dari tangan Marvin.
Sikap Marvin yang ambigu seperti ini membuat Madeline mempertanyakan apa maksudnya, apa Marvin menyukainya? Atau ... Madeline hanya sekedar salah satu gadis yang Marvin permainkan.
Sebaiknya begitu, karena Madeline tak ingin Marvin menyukainya. Perasaannya saat ini jatuh pada Archio Alastar.
KAMU SEDANG MEMBACA
TE AMO
JugendliteraturMadeline awalnya tidak tahu kalau murid laki-laki yang dia bonceng itu adalah Marvin Pradipta dalang dan otak dari kengerian pembulian di sekolah barunya.
