Suasana berangsur mereda, bisik-bisik masih terdengar namun sudah tak ada yang berani mengusik.
Gavin sejak tadi memperhatikan Madeline yang sedang main bola basket sendirian, seperti meluapkan amarah yang sejak tadi dia redam.
"Med lo pake baju siapa?" tanya Gavin karena tiba-tiba Madeline sudah berganti pakaian.
Madeline membelakanginya, menunjukan nama di punggungnya.
Gavin mengangguk, ternyata Gallen yang meminjami adiknya baju jersey itu.
Ponsel milik Madeline sejak tadi terdengar berbunyi karena penasaran akhirnya Gavin membukanya.
[Marvin Pradipta] :
Lo dimana?
Gavin tersenyum kecut membaca pesan itu, sejak kapam Marvin peduli dengan sesama manusia?
[Madeline] :
Gue Gavin. Anaknya lagi main basket sendirian di lapang, kesini dah ajakin yang lain juga.
Madeline duduk di samping Gavin yang sedang lesehan di kursi tribun. Keringat bercucura di pelipisnya, tapi tak dapat menghilangkan kekesalannya pada kejadian hari ini sedikit pun.
"Lo baca apaan di Hp gue?" tanya Madeline ketika melihat Gavin memegang ponsel miliknya.
"Ada pesan dari Marvin," jawab Gavin singkat.
Madeline berdecak kesal, kemudian merebut ponselnya dari tangan Gavin. "Iseng deh, suka main bales aja," omelnya.
Gavin menatapnya sejenak, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Lo gak suka sama Marvin, ya?" celetuk Gavin tiba-tiba saja.
Madeline terdiam sejenak. "Nggak ada yang bisa suka secara tiba-tiba," ucapnya pelan nyaris tak terdengar.
Gadis itu menghela nafas kasar. "Sebenernya gue itu suka Archio," sambungnya lagi.
Gavin berdecak sebal kemudian menjitak kepala adiknya itu. "Gaya lo, katanya gak ada yang suka tiba-tiba," ujarnya sebal.
Madeline meringis memegang kepalanya. "Ih! Sakit," omelnya.
Suasana mendadak hening sebentar, Gavin tak menyangka Archio yang telah berhasil merebut hati adiknya. Archio memang karismatik, diamnya itu bisa membuat para gadis terpikat namun sampai sekarang dia tidak pernah berpacaran.
"Susah kayanya kalo lo sukanya Archio," ujar Gavin pelan sekali nyaris bergumam.
Madeline melirik ke arahnya. "Kenapa? Dia sukanya cowo?"
"Sembarangan, pokoknya susah gue gak bisa jelasin detailnya."
Mendengar jawaban Gavin yang mendadak menghentikan obrolan mereka, Madeline tak mau mengotot meminta penjelasan lebih.
Ketika suasana mulai hening, Marvin, Archio dan juga Kay datang menghampiri mereka di lapangan basket yang sedang sepi itu.
Kay berjalan mendahului Archio dan Marvin, kemudian tangannya mengulur pada pada Madeline yang sedang duduk di kursi tribun. "Salam kenal, kalo lo adeknya Gavin berarti lo adek gue juga," ujarnya ringan.
Madeline ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya menerima uluran itu.
"Salam kenal juga, Madeline," balas Madeline pelan.
Archio tersenyum kecut. "Modusnya dapet banget si Kay," ucapnya separuh mengejek.
Gavin yang sejak tadi memperhatikan buru-buru menepis tangan Kay dari Madeline.
"Udah, jangan pegang-pegang," protesnya dengan wajah masam.
Kay hanya terkekeh seolah menikmati reaksi Gavin yang sedang kesal. Sementara Madeline mengelap dahinya yang bercucur keringat, sedikit kikuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
TE AMO
Teen FictionMadeline awalnya tidak tahu kalau murid laki-laki yang dia bonceng itu adalah Marvin Pradipta dalang dan otak dari kengerian pembulian di sekolah barunya.
