Di antara keheningan malam mungkin hanya isi kepalanya yang berisik mencari-cari alasan kenapa dia begitu peduli pada gadis bernama Madeline.
Ada perasaan semacam tidak tertahankan ketika melihatnya bersama orang lain juga perasaan ingin memiliki.
Marvin mengusap wajarnya kasar kemudian menggeleng.
“Gue suka Madeline? Gue?” katanya menunjuk diri sendiri.
Pada waktu yang sama, Madeline justru mengkhawatirkan bagaimana keadaan Archio setelah kejadian saling baku hantam kemarin.
Setelah bolak-balik dari menu ke whatsapp akhirnya dia memberanikan diri untuk menanyakan keadaan Archio.
[Madeline] :
Muka lo gapapa kan?
Beberapa detik kemudian Archio membalasnya.
[Archio] :
Haha, gue kirim papnya kemarin tau.
Madeline menghela nafas singkat, pasalnya dia sengaja tak membalas karena bingung harus mulai dari mana.
[Madeline] :
Haha, sorry ya. Sekarang gimana muka lo? Apa masih bonyok?
[Archio] :
Tenang aja, lo gak perlu tau juga. Btw, lo gapapa rame di akun base?
Dibilang gak apa-apa juga enggak, Madeline jelas saja kesal dan ingin melabrak satu-satu akun yang mengetik sembarangan. Tapi, diam di saat benar juga tidak ada salahnya.
[Madeline] :
Biarin aja, entar juga mereka malu sendiri kalo tau kebenarannya.
Kebenaran kalau Madeline dan Gavin kembar sejak kemarin Gavin memang menempel pada Madeline bahkan menginap di rumahnya.
Mereka menghabiskan waktu bersama, bermain game bersama seolah menebus waktu mereka yang telah lama berpisah karena kedua orang tuanya bercerai.
Madeline beranjak dari kasurnya ketika mendengar suara bel dari pintu depan, dia tak langsung membukanya hanya melihat dari jendela rupanya tukang pizza.
"Buat saya? Sebanyak ini? Dari siapa?" tanyanya beruntun kala menerima makanan itu.
"Maaf saya cuma disuruh kasihin aja mbak, permisi." Kurir makanan itu melengos pergi seperti tak ingin basa-basi dengannya.
Dari siapa malem-malem gini ngirim makanan? Gue juga lagi diet.
Madeline memberikan semua pizza itu pada pegawai rumah tangganya, tak peduli siapa yang mengirimnya.
Gadis itu kemudian kembali ke kamarnya tanpa ingin tahu lebih siapa dibalik pengirim pizza, namun tiba-tiba ponselnya mendapat pesan dari seseorang. Seseorang yang bukan dia mau.
[Marvin] :
Selamat makan.
[Madeline] :
Ih parah, sebanyak itu buat apaan?
[Marvin] :
Buat lo yang lagi sedih, kalo lagi sedih gak usah diet.
[Madeline] :
Tau darimana?
[Marvin] :
Dari hati.
Gadis itu lebih memilih untuk tidak membalas pesan yang baru saja Marvin kirim, entah dia kirim dalam keadaan sadar atau tidak.
Sementara itu grup geng Estrella kembali bersuara setelah tragedi baku hantam beberapa hari yang lalu.
[Kay William] :
Club gue, sekarang. Lupain masalah kemarin kita senang-senang.
[Archio Alastar] :
On the way.
[Gavin Byantara] :
Gas
[Marvin Pradipta] :
Iya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TE AMO
Teen FictionMadeline awalnya tidak tahu kalau murid laki-laki yang dia bonceng itu adalah Marvin Pradipta dalang dan otak dari kengerian pembulian di sekolah barunya.
