tiga belas.

37 1 0
                                        

Siang sudah berganti malam, kesabaran Madeline yang setipis tisu itu habis sudah. Ia membanting blazernya yang berwarna abu-abu ke sembarang arah kemudian merebahkan dirinya di kasur.

"Emang seberapa jauh perjalanan dari tempat ramen itu ke rumah gue?" gumam Madeline mengacak rambutnya yang sudah dia catok dengan rapi.

Seharusnya dia pergi sendiri ke tempat itu, tidak perlu menunggu Marvin yang jelas-jelas tidak datang untuknya.

Suara tek! terdengar samar karena Madeline sedang memutar musik keras, dia kemudian mematikan musiknya. Suara itu terdengar kembali, dia melihat ke arah jendela sebuah kerikil kecil melayang, menghantam jendela kaca kamar Madeline.

Dari luar, Marvin sedang berdiri sambil memegangi kerikil kecil yang siap dia lempar kembali kalau Madeline tak membuka kaca jendelanya.

Gadis yang sudah kehilangan selera makan itu membuka kaca jendelanya. "Apa?" tanyanya dingin, bola matanya memutar malas.

Marvin tersenyum tanpa rasa bersalah, dia lega Madeline membuka kaca jendela untuknya. "Ayo makan ramen," teriak Marvin dari bawah sambil mendongak.

"Udah nggak laper, makasih," jawab Madeline dari atas.

Entah karena terlalu lama menunggu atau karena kesal rasa laparnya mendadak hilang, hanya amarah yang ingin meluap tersisa.

"Masa? Suara perut keroncongan lo kedengeran dari sini," balas Marvin lagi.

Madeline menatap ke bawah, memandang Marvin yang berdiri di sana dengan rambutnya yang tersapu angin malam, entah kenapa seperti menambah daya tarik laki-laki itu.

"Lo pulang aja, gue udah gak mau makan ramen lagi." Dia menutup kaca jendelanya.

Sementara itu Marvin masih berdiri di bawah sana, meneleponnya berkali-kali namun Madeline tolak berkali-kali juga.

Beberapa saat Madeline mengintip di jendela, Marvin baru saja pergi dari sana. Bukannya lega, ada rasa bersalah karena membiarkan Marvin berdiri untuk beberapa saat.

Bibirnya mengecurut, padahal dia yang mengusir laki-laki itu tapi kenapa dia kecewa Marvin pulang?

"Iya, ya. Kenapa juga gue harus sekesel ini?" gumamnya sambil kembali merebahkan diri di kasur berukuran besarnya.

Seharusnya malam ini bisa dilewati dengan nyaman, apa lagi setelah makan ramen kesukaannya tapi semuanya jadi kacau karena Marvin mendadak hilang kabar, hingga larut malam. Ponselnya mati tidak bisa dihubungi.

Dia mengirim pesan pada Victoria berharap kekesalannya dapat didengar oleh seseorang.

"Tidur belum lo?" ketik Madeline, wajahnya masam sekali.

Sedetik kemudian Victoria membalas. "Belum, kenapa lo? Galau, ya?"

Membaca balasan Victoria Madeline berdecak sebal. "Masa si Marvin ngajak makan ramen dari pulang sekolah baru dateng malam begini?" balasnya.

Victoria tersenyum geli membaca pesan yang baru saja Madeline kirim padanya. Itu namanya lo suka, cuma belum sadar aja.

"Seharusnya lo nggak semarah ini, kalau lo gak suka Marvin," balas Victoria.

Madeline terdiam untuk beberapa saat, berpikir kenapa dia harus sekesal ini hanya karena tidak jadi makan ramen?

Atau ini bukan hanya soal tidak jadi makan ramen?

Ponselnya kembali berbunyi, Victoria mengirim pesan lagi. "Mulai naksir ya?"

Dengan secepat kilat Madeline membalas. "ENGGAK YA! NGERI BEGITU!." Tak lupa dengan huruf kapital seolah memberi peringatan kalau dia tidak akan jatuh cinta pada laki-laki bernama Marvin Pradipta itu.

Sementara itu Marvin masih tak menyangka kalau Madeline semarah itu padanya, dia memang tidak berniat membatalkan janji dengannya. Ada urusan yang sulit dia tinggalkan. Dia tersenyum kecut. Bagus sih buat pengalaman pertama gue, diusir cewe. Madeline sebenernya lo cewe spesies apa sulit banget ditebaknya?

______

Suasana hati Madeline masih belum membaik, dia tidak mau banyak bicara begitu juga pada asisten-asisten rumah tangganya.

"Non ada den Gavin di luar," ujar salah satu asistennya ketika melihatnya menuruni anak tangga.

Madeline buru-buru melangkah keluar, tidak biasanya Gavin menjemputnya sepagi ini. Pasti ada niat yang terselubung, pikirnya.

Motor Gavin sudah terparkir di halaman rumahnya, seolah menunggu dia untuk berangkat bersama. Laki-laki yang lahirnya lebih 5 menit darinya itu tersenyum lebar ketika melihatnya membuka pintu.

"Selamat pagi tuan putri," sapa Gavin dengan wajah sok polosnya.

Mendengar sapaan itu Madeline menyeringai sebal, kedengarannya sama sekali tidak ada ketulusan di dalamnya. "Apa sih pagi-pagi!" omel Madeline.

Gavin mengambil helm yang sengaja dia bawa dari apartemennya untuk Madeline, kemudian memasangkannya di kepala adiknya.

"Ayo berangkat, adikku." Ajaknya dengan hati-hati, padahal dia juga merasa kalau suasana hati Madeline sedang tidak baik.

Madeline sama sekali tidak membantah, dia memilih naik motor Gavin tanpa banyak mengomel.

"Masih lagi muka lo udah kusut kaya lap yang belum dicuci sebulan aja," ujar Gavin menoleh pada kaca spion.

"Udah deh, jujur aja ada apa lo jemput gue pagi-pagi?" Madeline mendelik di kaca spion yang dapat dilihat jelas oleh Gavin.

Mendadak nyalinya menciut kala melihat ekspresi adiknya yang seperti itu. "Iya, iya. Gue sebenernya mau minta nomor Victoria, temen lo itu,"

Mendengar jawaban itu replek Madeline memukul kepala Gavin, untung saja Gavin memakai helm jadi kepalanya sedikit aman.

"Sinting lo, ya? Lo gak inget pernah siram dia pake air es?" omel Madeline.

Meskipun memakai helm tetap saja suara omelan Madeline terdengar memekik di telinganya. Matanya melotot, jantungnya seolah akan berhenti detik itu juga. "Anjirlah, emang itu Victoria?"

Gavin sama sekali tidak ingat kalau gadis yang pernah dia rundung adalah gadis yang sekarang dia sukai, karma indah bukan?

"Ternyata ini salah satu cara Tuhan membalas perbuatan lo, udah jangan ngarep disukain balik! Makannya jangan jadi cowo jahat!" ujar Madeline puas.

____

Madeline berjalan beriringan dengan Gavin melewati parkiran, beberapa siswa berbisik-bisik namun samar untuk didengar.

Dari lantai atas gedung sekolah, seseorang sempat memotret pemandangan yang menurutnya kalau dia unggah akan menarik perhatian.

Suadara kembar itu tak menyadarinya, beberapa saat kemudian foto mereka suka ada di akun base, entah ulah siapa di baliknya.

Tak lupa dengan caption yang dapat memacing perhatian para murid sekolah.

Non sasimo, hari ini jalan sama Gavin. Besok jalan sama siapa ya, ada yang bisa nebak?

Singkat namun mengundang komentar-komentar liar yang tak bertanggung jawab.

Madeline yang baru saja sampai di kelas, merasa ada yang aneh karena sejak tadi beberapa pasang mata memperhatikannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Med, lo dateng sama Gavin?" tanya salah satu teman sekelasnya.

Gadis itu menggaruk tengkuknya, berpikir beberapa saat. Ada yang salah kalau dia datang bersama saudaranya?

"Lihat deh akun base," sambung temannya sambik menyodorkan ponsel miliknya.

Madeline menatap layar itu, kemudian menggulirkannya dengan telunjuknya, dapat terlihat jelas beberapa komentar negatif tentangnya.

Dia meremas ujung bajunya menahan kekesalan, kenapa setiap hari selalu ada saja drama di sekolah, pikirnya.

TE AMOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang