sebelas.

28 2 0
                                        

Suasana tempat makan yang Madeline pilih cukup tenang. Madeline memesan ramen kesukaannya, juga tak lupa minuman rasa taro yang tidak pernah ia lewatkan tiap harinya.

Malam yang biasanya Madeline lewati selalu terasa sunyi dan hening, tapi kali ini ada laki-laki yang menatapnya dengan pandangan penuh arti. Ia tak tahu apa yang ada di dalam lubuk hati laki-laki itu.

"Kenapa?" tanya Madeline, ia sedikit salah tingkah diperhatian sebegitunya oleh Marvin.

Marvin hanya menggeleng lalu tersenyum tipis. Kini dia tak lagi heran, kenapa banyak yang menginginkan Madeline jadi pacarnya.

Gadis yang sedang sibuk mengunyah ramen di depannya itu cantik, keren, meskipun dilihat dari sudut mana pun.

"Sepi ya, biasanya di sini penuh banget kadang kalo antrinya telat bisa kehabisan," ujar Madeline yang pipinya dipenuhi mie ramen.

"Emang iya? Bukannya emang tempatnya sepi, ya?" jawab Marvin pura-pura tidak tahu.

Padahal saat baru datang dia meminta pada manager agar tempat itu dikosongkan selama mereka masih makan.

Sementara itu Madeline meletakkan sumpitnya di sisi kanan mangkuk, matanya tanpa sengaja menatap Marvin yang sedang menuangkan air putih dengan gerakan lembut.

"Minum air putih dulu, baru minum rasa taronya," Marvin menyodorkan segelas air putih pada gadis di depannya tatapannya hangat seakan ingin memastikan bahwa Madeline baik-baik saja.

Laki-laki yang dikenal banyak orang dingin, juga kejam ternyata memiliki sisi hangat yang baru ia ketahui.

***

Cuaca pagi cukup dingin, tapi tak membuat Marvin malas untuk menjemput Madeline, kini dia tengah berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.

Padahal semalam tak ada perjanjian kalau pagi Marvin akan menjemputnya.

Madeline baru saja membuka gerbang rumahnya dia tak tahu sama sekali kalau di depan ada Marvin yang sedang menunggunya keluar.

"Selamat pagi," ucap Marvin dengan senyum kikuknya.

Gadis di hadapannya sedikit tertegun, entah apa yang harus ia jawab kepalanya mendadak kosong.

"Berangkat sama siapa?" tanya Marvin karena salam paginya tak terjawab.

"Sendiri," jawab Madeline singkat.

Marvin mengangguk. "Ya udah ayo naik motor gue,"

Madeline mengernyit, baru benar-benar tersadar. "Dari kapan lo berdiri disini?" tanya Madeline ingin memastikan.

"Dari malam, gue gak pulang. Percaya gak?" ujar Marvin.

Madeline berdecak lalu memukul bahu Marvin. "Kenapa gak jadi satpam rumah gue aja?" ujar Madeline.

____

Sesampainya di sekolah Madeline dan Marvin berpisah di parkiran, beberapa murid berlarian menuju salah satu papan mading yang ada di koridor utama.

Mereka berkerumun sambil tertawa puas, menatap Madeline yang berjalan menuju papan mading itu.

Ketika Madeline berhasil menerobos kerumunan murid, dia jelas saja terkejut. Wajahnya terpasang rapi di mading dengan tulisan-tulisan menjengkelkan.

Madeline sasimo, sana-sini mau. Gadis nakal, jangan ditiru.

Setelah membaca salah satu kutipan tersebut jelas saja ia mendidih, ingin sekali dia berteriak tepat di telinga mereka kalau foto tersebut adalah dia dengan kakaknya, Gavin. Tapi rasanya percuma menjelaskan sesuatu pada orang yang memang hanya ingin mempercayai satu sudut pandang saja.

"Heh! Kampung! Lo tuh sebenernya mau sama siapa? Jangan semua lo embat, gila ya! Lubang lo tuh cuma satu, inget!" teriak Stella tepat di depan wajah Madeline.

Tak habis-habis dia mengganggu Madeline.

Madeline berdesis kesal. "Urusan sama lo apa, ya?"

Stella mengibaskan rambut panjangnya hampir saja mengenai hidung mancung milik Madeline. "Susah ya kalo calon gundik, sana-sini mau. Ngomong-ngomong pasang tarif berapa lo?"

Madeline menyibakkan rambutnya, menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan diri dari ucapan Stella yang menyakiti hatinya.

"Kenapa nanya tarif, emang lo mampu bayar?" celetuk Madeline.

Di sisi lain, sebenarnya Marvin tak benar-benar pergi sejak tadi dia memperhatikan Madeline yang sedang adu mulut dengan murid lain.

Gak habis pikir, pada dimana otak mereka, ya? Rasanya pengen gue tampar satu-satu.
Batinnya.

Tak ingin Madeline terkena masalah lebih jauh akhirnya Marvin memberitahu Gavin lewat chat.

[Marvin Pradipta] :
Foto lo sama medlin dipajang dimading @Gavin

[Gavin Byantara] :
Serius? Siapa yang berani pajang? Terus adek gue marah gak?

[Kay William] :
Adek lo? Maksudnya medlin adek lo?

[Archio Alastar] :
Nasib suka keceplosan.

Marvin mengernyit ketika membaca pesan dari Gavin, maksudnya Madeline dan Gavin itu saudara? Dia tidak mengerti sama sekali.

[Marvin Pradipta] :
Jelasin dong gav

[Gavin Byantara] :
Ya udah gitu ceritanya, kita kembar gue duluan jadi gue abangnya.

[Kay William] :
Waw, halo kakak ipar

[Gavin Byantara] :
Kemarin aja lo ngatain

[Kay William] :
Ya maaf, gue kira bukan adek lo. Kalo gitu buat gue aja, ya?

[Archio Alastar] :
Mau jadi yang ke berapa, Kay?

Marvin menggeleng tak lagi mampu membalas isi pesan yang semakin aneh, yang jelas kini teka-teki sudah terpecahkan bawa Madeline tak seburuk yang orang pandang.

Saat melihat ke arah mading suasana sudah mulai tenang, rupanya Madeline memilih pergi daripada meladeni Stella dan teman-temannya, itu membuat Marvin sedikit lega.

____

Saat jam istirahat tiba, Madeline lebih memilih menenangkan diri di perpustakaan. Dia membaca sebuah buku daripada harus adu mulut dengan orang-orang tidak penting.

"Med lo serius gapapa?" tanya Victoria memastikan keadaan sahabatnya baik-baik saja.

Madeline hanya mengangguk sambil menghela nafas, seolah tak memiliki tenaga untuk menjawab.

Tiba-tiba saja Stella dan gengnya kembali datang menganggu Madeline yang jelas tak ingin berurusan dengannya.

"Kampung, jangan sok sibuk." Stella menyiram Madeline dengan tong sampah yang isinya penuh.

Beberapa murid yang sedang membaca di perpustakaan melihat, namun tak berani menegur.

"Lo udah gila, ya!" Teriak Victoria kesal melihat Madeline diperlakukan seperti itu.

Madeline tak tahan lagi dengan hinaan Stella, tangannya gemetar menahan amarah yang sebentar lagi akan meluap, ia menggebrak meja sekuat tenaga.

"Lo ada masalah personal apa sih sama gue!" Madeline meninggikan suaranya, jelas-jelas sudah tak bisa menahan kesalnya.

Merasa berhasil membuat Madeline marah Stella tersenyum.

"Kenapa? Gak suka? Makannya jangan kaya bola, sana-sini direbutin akhirnya apa? Nanti ditendang juga," desis Stella.

Tiba-tiba saja suara berat terdengar dari arah belakang. "Siapa yang berani pasang foto itu di mading?"

Gavin datang dengan wajah menegang, tatapannya menusuk orang yang berada di sekitar.

Beberapa anak yang sedang menonton mendadak mundur setapak, Gavin melangkah ke depan, berdiri tepat di sisi Madeline.

"Berani banget lo ya, ngerecokin dia? Punya nyawa berapa lo, hah!" Gavin hendak menarik kerah baju Stella namun ditahan oleh Madeline.

"Gavin udah! Stop! Jangan pukul cewe, jangan jadi pengecut." Madeline menarik tangan Gavin menjauhkannya dari Stella, dia tak ingin Gavin kelepasan memukul.

TE AMOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang