Arin sedang berada di sebuah kafé bersama dengan dua sahabatnya. Sudah cukup lama mereka tidak melakukan kegiatan hangout bertiga, yang benar-benar hanya mereka bertiga saja dan ia benar-benar kesal terhadap dua sahabatnya itu yang selalu menggodanya perihal status hubungan percintaan.
"Kalian nyebelin banget. Tau gitu, gue nggak nge-iyain ajakan kalian."
Tiffany dan Jessica saling menatap, lalu terbahak bersama.
"Gue udah mau dinikahin sama Yuki, lo sama Wandi gimana?" tanya Jessica. Sedari tadi wanita satu itu memamerkan cincin pertunangannya. Padahal, dua sahabatnya juga sudah tahu kalau ia sudah dilamar resmi oleh Yuki, kekasihnya.
Arin menghela napas panjang. "Gue nunggu dia lulus dan dapet gelar dulu. Gue nggak mau ngehalangin dia buat raih mimpinya. Jadi, ya, udah. Nggak mau buru-buru juga, kasihan dia," jawabnya sambil mengaduk-aduk minuman strawberry smoothie nya.
"Pokoknya dia serius sama lo, sih, jadi kita sebagai sahabat juga nggak mau lo-nya diajak main-main sama brondong lo itu," sahut Tiffany.
"Dia serius, kita serius sama hubungan ini. Emang udah sama-sama sepakat biar dia fokus sama kuliahnya dulu. Gue sama dia juga udah ngebahas masalah mau tinggal di mana nanti kalau udah nikah."
Ketiganya terdiam beberapa saat, saling fokus dengan ponsel masing-masing. Sekadar ingin mengabari pasangan mereka saja.
Jessica melihat sekeliling kafé. Namun, ketika matanya menatap ke arah luar kafé, ia melihat seseorang yang tampak tidak asing. "Eh, itu bukannya pacar lo, Rin. Kayak si Wandi," ucapnya sambil menepuk heboh lengan Arin. "Cewek depannya itu siapa?" lanjutnya bertanya dengan penasaran.
Yang ditepuk sedikit mengaduh, lalu matanya mengarah ke luar kafé yang memang bisa leluasa melihat ke arah luar karena desain mereka yang rata-rata menggunakan kaca sebagai pembatasnya.
Bukan si Gyan. Siapa itu cewek, monolog Arin dalam hati. Ia mengubah posisi duduknya menjadi terlihat lebih angkuh dari sebelumnya. Bersandar pada kursi dengan kedua tangannya yang disilangkan depan dadanya.
"What the f..." umpat Tiffany dan Jessica bersamaan saat melihat wanita di hadapan Wandi dengan berani mencium pipi kekasih sahabatnya itu.
Tiffany dan Jessica langsung menoleh ke arah Arin, lalu keduanya saling melempar tatapan satu sama lain yang terdapat pesan tersirat dalam tatapan mereka.
"Eh, mau ke mana?" tanya Jessica ketika melihat Arin berdiri dan membawa tasnya.
"Balik. Gue mau istirahat," jawab Arin singkat tanpa melihat kedua sahabatnya yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Sementara itu, mata Arin masih mengawasi dua wanita di depan kafe tersebut.
Tanpa memedulikan Tiffany dan Jessica, Arin berjalan keluar kafe dengan langkah cepat.
Keadaan di luar kafe pun cukup tegang karena Arin yang menatap tajam kekasihnya dan Wandi yang menatap kejut ke arah Arin.
"Mba Arin..." panggil Wandi lirih
Arin tak bereaksi. Ia hanya berlalu melewati Wandi.
Melihat sikap Arin, tentu membuat Wandi panik bukan kepalang. Ia yakin pasti kekasihnya itu melihat kejadian beberapa saat lalu, yang tiba-tiba saja pipinya dikecup oleh temannya. Ya, hanya teman, tidak lebih. Namun, sepertinya temannya itu memilikki perasaan lebih padanya.
"Mba Arin, wait!" panggil Wandi yang tak didengarkan oleh Arin. "Hey, Babe, listen to me, please," mohon Wandi masih mengejar Arin yang sudah masuk ke dalam mobil.
BRAK!
Suara keras itu berasal dari pintu mobil Arin yang ditutup kencang oleh sang pemilik. Hal itu cukup membuat Wandi terkejut beberapa detik. Setelahnya, Wandi mendekat dan mencoba mengetuk jendela mobil Arin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mba Pacar [WENRENE]
FanfictionWandini Soekmadjaja, mahasiswi umur dua puluh tiga tahun yang mendadak mendapatkan "Jackpot" tak terduga. Arindi Brahmana, seorang wanita karier berumur tiga puluh tahun yang memilih "Dare" ketika bermain bersama kawan-kawannya dan berakhir mengenca...
![Mba Pacar [WENRENE]](https://img.wattpad.com/cover/350393704-64-k552582.jpg)