Hari itu cerah sekali, secerah senyuman Wandi ketika sedang bertukar pesan dengan sang kekasih. Hingga tak menyadari kalau ia diperhatikan oleh seseorang yang saat itu berdiri tepat di hadapannya.
"Lagi chat-an sama Kak Arin, ya," interupsi seseorang itu yang tak lain dan tak bukan adalah sang adik. "Kak Wan, ayo ajak main Kak Arin ke rumah..." lanjutnya merengek manja sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Wandi melirik sang adik.
Pengganggu, ucapnya dalam hati.
"Nantilah, Dek."
"Nggak mau, maunya sekarang. Hari libur, lho, ini, masa Kak Arin juga kerja, sih," dumel Yemi cemberut.
Karena tak ingin membuat masalah kembali, Wandi pun menghela napasnya pasrah dan menjanjikan Arin untuk mengunjungi rumah mereka pada Yemi. Biar cepat juga katanya.
"Iya, iya. Kak Wan telfon Mba Arin dulu."
Ucapan kakaknya itu otomatis mengubah mood Yemi dengan sangat cepat. Wajahnya semringah dan terlihat senang.
"Yeayy! Yemi tunggu, ya, Kak!"
"Ya," jawab Wandi malas.
Sepeninggalannya sang adik, Wandi pun langsung menelepon sang kekasih. Berharap kekasihnya itu punya waktu luang.
"Ada apa, Wan?"
"Kamu hari ini lowong, kah? Bisa mampir ke rumah?"
"Kayaknya lowong, sih. Eh, kebetulan banget tadi aku sempet kepikiran juga mau main ke rumahmu. Yemi di rumah, kan?"
Wandi menghela napas sebelum menjawab.
"Ya, dia di rumah. Malah dia yang nyariin kamu, minta kamu main ke rumah. Dia kangen, tuh," jawab Wandi dengan nada datar.
Terdengar suara gelak tawa dari seberang telepon Wandi dan dia cukup kesal akan hal itu.
"I miss her too. Nanti aku main ke rumah, ya. Agak siang, ya, sayang, soalnya aku masih beres-beres apartemen dulu."
"Kamu nggak kangen aku? Bisa-bisanya kangen sama makhluk ajaib macam Yemi, pacarnya nggak dikangenin. Parah kamu, mah," ucap Wandi merajuk.
"Kamu lagi haid, ya? Kenapa iri sama adek sendiri, sih. Nanti mau dibawain apa?"
"Nggak usah, kedatanganmu udah lebih dari cukup."
"Heleh, bisaan. Udah pinter ngegombal sekarang. Yaudah, aku tinggal beres-beres dulu, biar nggak kesorean ke rumah kamunya. Aku juga pengan peluk kamu."
"Masa kamu doang yang bisa ngegombal. Aku juga mau pelukan sama kamu, nanti aku masakin kukis, ya. See you in hours, Babe. Bye, I love you."
"Asik dimasakin kukis sama pacar! Okay, Hon. See ya, love you too, so much! Bye, Sayang. Muach!"
Wandi tersenyum menatap layar ponselnya yang menampilkan wallpaper foto dirinya dan Arin. Terkadang, ia tak habis pikir dengan tingkah sang kekasih yang seperti anak kecil itu. Padahal, kalau di angka umur, masih lebih 'senior' Arin daripada Wandi. Namun, yang lebih sering manja justru Arin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mba Pacar [WENRENE]
FanfictionWandini Soekmadjaja, mahasiswi umur dua puluh tiga tahun yang mendadak mendapatkan "Jackpot" tak terduga. Arindi Brahmana, seorang wanita karier berumur tiga puluh tahun yang memilih "Dare" ketika bermain bersama kawan-kawannya dan berakhir mengenca...
![Mba Pacar [WENRENE]](https://img.wattpad.com/cover/350393704-64-k552582.jpg)