kesenjangan

624 41 26
                                        

Ane kasih agak panjangan nih!

🐶⚔️🐸

"Ini bener alamatnya?"

"Lu udah tua gak bisa baca ler?"

"Tulisannya kecil anjir!"

"Bukan tulisannya yang kecil, mata lu yang kecil!"

"Gue lempar angkot mulut lo sini!"

"Bisa nanti dulu gak berantemnya? Pantat gue udah kebas dudukin besi ini."

Ini keadaan siang bolong, matahari diatas ubun-ubun, ditambah tiga pemuda yang malah bertengkar di atas motor vario. guess who? of course Diko, Hendra dan Mahesa; siapa lagi yang langganan bonceng tiga pake vario selain mereka.

Fyi sebenarnya bisnis jual beli online Joshua itu masih jalan sampai sekarang walau gak segiat dulu, karna owner-nya sendiri lagi di tahap hidup dan mati buat ngerampungin skripsi yang dari kapan hari gak beres-beres. Terus hubungan sama tiga krucul ini, mereka jadi tukang paket dadakan Joshua. Buat daerah yang sekiranya sekitar komplek atau ke komplek sebelah aja kok yang mereka antar.

Akal-akalanya Diko itu, dia gabut aja pengen ada kegiatan yang bisa memberikan manfaat buat sekitar dan buat dia juga. Lumayan kok imbalan yang di tawarkan Joshua buat jajan di angkringan, makanya Hesa sama Hendra juga mau.

Dan ini adalah paket terakhir mereka yang harus mereka antar ke daerah perumahan yang Diko sendiri tau kalo ini adalah kawasan perumahan elit. Makannya Hendra tadi mastiin benar atau nggak alamatnya, karena heran aja dia; ada orang kaya beli kenalpot? Cod lagi! makes sense gak? Mana mereka udah sampai gerbang komplek yang besar dan berdiri kokoh, Hendra rasa portal komplek kost mereka cuma recehan dari dana pembuatan gerbang ini.

"Udah di bilang bener ini alamatnya! Lagian gak mungkin bang Joshua ngasih alamat yang salah." Diko turun karna dia yang posisinya duduk paling belakang, jadi doi ngedudukin besi karna gak kebagian jok tempat duduk. Rada kebas pantatnya.

Hendra ngedorong badan Hesa buat munduran dikit dan langsung noleh ke belakang lihatin Diko. "Eh! Lagian orang kaya bentukan gimana yang mau beli kenalpot ginian Dik?! Kalo yang kayak Hesa baru percaya gue."

"Maksud?!" Mahesa langsung melotot. Kenapa harus dia lagi yang kena:)

Diko tertawa cukup keras lihat kegaduhan yang terjadi antara Mahesa sama Hendra, sampai satpam yang berjaga di pos nyamperin mereka karna udah hampir 30 menit malah ribut di depan dan gak pergi-pergi. Keamaan di perumahan elit satu ini memang gak main-main karna rata-rata pemilik rumah itu orang terpandang dan sangat berada. Gak suuzon ya, tapi kalo kelakuan trio ini gak jelas kan malah di sangka punya niat aneh. Ya mereka memang aneh sih.

"Permisi dek. Kalian nyasar atau sedang mencari alamat? Karna dari tadi saya lihat kalian tidak berenjak, takut mengganggu kenyamanan lalu lalang pemilik rumah di sini."

Nah loh, tawa Diko yang tadinya lengking langsung kicep. Doi benerin posisi helm nya dan sempatnya ngasih hormat ke satpam di depan mereka. Hendra langsung tutup muka. Malu.

"Siang pak! Saya Diko dan teman-teman saya, Hendra serta Mahesa. Maksud dan tujuan kami mau ngantar paket atas nama...," Diko ngerebut kenalpot yang ada di tangannya Hesa dan ngebaca siapa penerimaannya. "-Yudha."

Satpam itu mengerutkan keningnya. "Yudha? Keluarga Dharmansyah bukan?" Kata Satpam tersebut sambil menunjuk Mahesa.

"Saya dari klan Antmaja pak, bukan Dharmansyah." Balas Mahesa di sertai cengiran sampai gigi taringnya kelihatan.

Hendra menggelengkan kepalanya dan menghela napas. Makin tua makin gak bener isi kepala temennya ini.

"Saya tidak bertanya itu. Sudah sana kalian pergi kalu tidak ada kepentingan. Atau kalian mau berbuat jahat di sini! Kalian komplotan perampok kan?!"

THE DARSO SQUAD [Seventeen]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang