Setelah memastikan Arfan masuk ke gerbang sekolah dengan aman, Yash melirik jam tangannya. Belum terlambat.
Begitu sampai, belum sempat Yash parkir, matanya langsung bertemu dengan sosok yang sudah familiar siapa lagi kalau bukan Erik, berdiri santai dengan dua orang temannya, lengkap dengan senyum sinis yang menyebalkan.
Tapi senyum Erik langsung memudar saat melihat Yash turun dari motor dengan seragam rapi.
“Lo... ngapain di sini?” tanya Erik, suaranya agak naik setengah tak percaya.
“Sekolah. Emangnya lo pikir gue bakal ngilang?” jawab Yash datar, nada suaranya santai tapi matanya menatap tajam.
Erik tertawa kering. “Gue denger lo di penjara."
Yash menyandarkan motor, lalu berdiri menghadap Erik. “Gue udah beresin semuanya."
Dia pun melangkah pergi, meninggalkan Erik yang masih berdiri terpaku, bingung karena bagaimana bisa Yash bebas hari ini.
Erik mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Dengan langkah lebar, dia menyusul Yash yang baru saja duduk di bangku kelas paling pojok dekat jendela.
"Jangan berlaga sok keren lo," cetus Erik sambil berdiri di samping meja Yash, suaranya cukup keras hingga beberapa siswa menoleh penasaran.
Yash menoleh pelan, matanya setenang permukaan air. "Gue cuma duduk, Rik. Nggak ngerti bagian mana yang keren dari itu."
"Lo pikir lo jago? Balik ke sekolah kayak pahlawan kesiangan. Cuma karena bisa beresin satu masalah, lo kira semua orang bakal percaya lo suci?" Erik membentak, nadanya naik setengah nada.
“Gue nggak peduli dianggap apa, Rik. Lo masukin gue ke penjara dan gue bebas sekarang! Itu udah jadi bukti kuat kalau gue gak bersalah!" balas Yash sinis.
Erik mencondongkan tubuhnya, nadanya lebih rendah tapi tajam. “Gue bisa bikin lo nyesel. Gue obrak-abrik hidup lo!"
Yash menatapnya, kali ini dengan senyum tipis yang tidak menyenangkan. “Udah pernah nyoba, dan gagal. Mau ulang? Silakan. Tapi kali ini lo yang bakal nyesel.”
Sebelum Erik bisa membalas, guru masuk dan suasana kelas langsung berubah. Para siswa buru-buru duduk, dan Erik terpaksa melangkah mundur, gigi terkatup rapat.
Baim Dan Ozak mencolek pundak Yash, dia menoleh ke dua sahabatnya itu.
"Kenapa wajah lo babak belur gitu?" Tanya Ozak penasaran.
Baim mendekat. "Serius, ini beneran lebam. Lo abis ribut lagi ya?"
"Enggak. Gue cuma ngelindungi anak kecil." Yash mengangkat bahu.
Ozak langsung duduk di sebelahnya, sok dramatis. "Anak kecil? Gila, Yash. Lo superhero apa pengasuh PAUD sih sekarang?"
Yash ketawa kecil, tapi matanya masih menyimpan kelelahan. “Bocah ini beda, Zak."
Baim dan Ozak saling melirik lalu serempak nyeletuk, “Jangan-jangan lo punya anak diam-diam?”
“Bukan anak gue!” potong Yash cepat. “Dia anak bos."
"Ada sangkut pautnya lo babak belur gini sama tuh anak?" tanya Baim curiga.
"Okinawa serang gue di jalan," Yash menceritakan semua yang dialaminya.
"Sialan si Erik! Kita balas aja dia! Gue Enggak takut. Bodo amat sama ucapan bokap gue yang suruh berteman bail sama Si Erik. Gue dipihak lo!" ucap Baim mengebu-ngebu.
"Gue Enggak Ada waktu buat urus si erik," tukas Yash.
"Btw serious lo jadi babysitter?" tanya Ozak menaikan sebelah alisnya.
"Begitulah, anak kecil kemarin yang suruh gue anterin itu anak bos gue," kata Yash kemudian sedikit mendekat. "Dan gue bisa bebas karena bos gue juga," Sambung Yash pelan.
"Pantesan lo Melindungi dia banget," ucap Ozak mengangguk.
"Taruhannya nyawa," balas Yash.
KAMU SEDANG MEMBACA
SALMON
RandomYash tidak seberuntung kebanyakan orang. Di saat SMA, dia terlibat taruhan besar karena dijebak. Taruhan tersebut memaksanya nekat melamar sebagai bodyguard anak kecil keluarga konglomerat. "Yash! Gue gak nyangka Lo udah punya anak!" "Hah?"
