Arfan kecil berlari dan menabrak Zaro yang sedang asyik mengaduk susu di dapur. Susunya nyaris tumpah, tapi Zaro hanya tertawa pelan. Dia tahu, anaknya itu sudah mengamatinya diam-diam dari tadi.
"Kenapa, Papan?" tanya Zaro sambil mengelus rambut si kecil.
"Papa jangan buang Yash ya. Papan suka sama Yash. Dia nggak letoy, baik, dan enak buat disuluh-suluh," jawab Arfan dengan mata bulat dan nada serius.
Zaro menahan tawa. "Enak buat disuluh-suluh? Kamu pikir Yash itu api unggun?"
"Bukan! Tapi dia diem aja kalo Papan suluhin. Teman yang baik itu harus kuat," jawab Arfan mantap.
Zaro terkekeh. "Jadi kamu suka Yash karena dia tahan dipukul?"
Arfan mengangguk cepat. "Iya. Tapi yang boleh pukul cuma Papan. Yang lain nggak boleh! Apalagi si Elik itu—suruh dia jangan ganggu Yash, dong, Pa!"
Zaro mengangguk sambil tertawa. "Siap, Jenderal. Papa lindungi Yash biar tetap jadi bodyguard spesialnya Papan."
Arfan bersorak girang. Dia tidak akan membiarkan Yash dipukuli lagi seperti kemarin. Otak kecilnya langsung memutar ide—dia harus minta tolong ke Om-nya untuk mengajarkan Yash bela diri. Yash harus jadi lebih kuat.
Tiba-tiba muncul suar dari belakang.
"Permisi, Tuan."
Yash datang sambil tersenyum, lalu memberi hormat dengan gaya ala pengawal sejati kepada dua bos kecil dan besar di dapur. Zaro sudah menyuruhnya untuk mengantar Arfan ke sekolah hari ini.
"Papan, hari ini kamu berangkat sekolah bareng Yash ya," kata Zaro sambil menyerahkan kunci mobil ke Yash.
Namun Yash menunduk malu. "Maaf, Tuan. Saya... saya belum bisa menyetir mobil."
"Naik motor aja! Biar anginnya kena muka, seru!" Seru Arfan penuh semangat.
Zaro memandang mereka berdua dan menggeleng sambil tertawa kecil. “Asal jangan bawa motor kayak dikejar ninja, ya.”
Arfan tertawa paling keras. “Kalau ninja yang ngejal, tinggal suluh Yash kejal balik!”
Mereka berdua pun berangkat naik motor matic. Yash memastikan helm Arfan terpasang rapat sebelum menyalakan mesin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yash menyetir motor dengan kecepatan sedang—penuh hati-hati, seperti sedang membawa harta karun. Sesekali ia menengok ke belakang, memastikan tangan kecil Arfan masih melingkar di pinggangnya.
"Papan pernah naik motor?" tanya Yash mencoba mengajak si bos kecil mengobrol.
"Iya!" sahut Arfan cepat.
"Pegangan terus ya, jangan dilepas," kata Yash, separuh waspada, separuh khawatir.
"Oke!" jawab Arfan mantap, suaranya nyaris tenggelam oleh angin jalanan.
Tapi ketenangan itu tak bertahan lama.
Di tengah perjalanan, tiga motor tiba-tiba muncul dari belakang dan mulai mengepung mereka. Salah satu pengendara menoleh ke arah Yash, matanya menyipit penuh niat buruk.
"Berhenti lo!" hardiknya.
Dengan napas tertahan, Yash segera menepi ke pinggir jalan. Hatinya mulai mengumpat—bukan karena takut, tapi karena Arfan ada bersamanya. Kalau sendiri, mungkin lain ceritanya.
Yash menoleh ke belakang, memastikan Arfan masih memeluknya. "Tenang, Papan. Jangan takut ya."
"Bayar utang taruhan lo!" seru Okinawa dengan nada tajam.
Yash tetap tenang. "Gue bakal bayar... tapi nggak sekarang. Gue lagi usaha."
Okinawa tertawa mengejek. "Usaha apaan? Erik bilang lo udah pegang duitnya kemarin."
KAMU SEDANG MEMBACA
SALMON
DiversosYash tidak seberuntung kebanyakan orang. Di saat SMA, dia terlibat taruhan besar karena dijebak. Taruhan tersebut memaksanya nekat melamar sebagai bodyguard anak kecil keluarga konglomerat. "Yash! Gue gak nyangka Lo udah punya anak!" "Hah?"
