SALMON 13

64 13 0
                                        

Istirahat masih berlangsung ketika Yash keluar dari ruang guru.

Lorong sekolah terasa lebih sunyi dari biasanya, padahal siswa lalu-lalang. Beberapa pasang mata melirik ke arahnya ada yang cepat-cepat berpaling, ada yang pura-pura sibuk.

Yash melangkah masuk ke kelasnya.

Ozak dan Baim langsung berdiri begitu melihatnya.

“Yash!” Ozak mendekat cepat. “Gimana? Lo kenapa lama banget?”

Baim menatap wajah Yash lekat-lekat. “Muka lo parah.”

Yash duduk perlahan. Tangannya gemetar sedikit saat membuka botol minum.

“Mereka mau skors gue,” ucapnya datar.

Ozak memaki pelan. “Gila terus?”

“Terus batal.”

“Batal?” Baim melotot. “Kenapa bisa?”

Yash diam sebentar, matanya kosong menatap papan tulis. “Karena anak itu anak bos gue.”

Ozak terdiam. “Bos lo yang… itu?”

Yash mengangguk.

Baim mengusap rambutnya frustasi. “Pantesan mereka langsung ciut.”

“Bukan itu,” Yash menyela. “Mereka baru percaya setelah tahu siapa bapaknya.”

Ozak menelan ludah. “Dan sebelumnya?”

“Sebenernya gue udah bilang,” jawab Yash lirih. “Dari awal.”

Hening menyelimuti bangku pojok itu. Ponsel Yash beegetar, dia membuka pesan yang dikirimkan dari Fox, tangannya memegang erat ponsel tersebut. Pesan yang dikirimkan Fox bukan sekedar pesan biasa melainkan informasi yang begitu berguna, sekilas Yash bergidik, dia telat memasuki sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan di hidupnya.

Yash menarik napas panjang. “Ini belum selesai.”

“Kenapa?” Ozak menoleh.

“Karena Erik udah bawa-bawa anak TK,” ucap Yash pelan. “Dan gue nggak bakal diem.”

Ozak menepuk pundak Yash. “Apapun yang lo butuhin, bilang.”

Baim mengangguk. “Emang brengsek bisa-bisanya dia kepikiran buat kayak gini. Kita di pihak lo.”

Yash akhirnya menoleh ke mereka, ada sesuatu yang menghangat di matanya meski kelelahan masih jelas.

“Makasih,” ucapnya singkat.

Erik masuk kelas dengan langkah tenang bersama kekasihnya Irene meskipun terlihat raut wajahnya masih kesal. Dia menghindari pandangan siapa pun, berniat langsung duduk seolah tak terjadi apa-apa.
Belum sempat dia menarik kursi—

“Pasti lo.”

Suara Yash terdengar jelas, dingin, dan keras bikin kelas langsung hening.

Erik berhenti lalu perlahan menoleh.

“Lo yang nyebarin berita ini,” lanjut Yash, berdiri dari bangkunya. “Jangan pura-pura bego.”

Beberapa murid langsung menoleh. Ozak dan Baim refleks ikut berdiri setengah, waspada.

Erik tertawa kecil, dibuat-buat. “Apaan sih? Jangan nuduh sembarangan, Yash.”

“Foto itu muncul pertama kali dari orang lo,” balas Yash cepat. “Dan lo satu-satunya yang punya motif.”

“Lo punya bukti?” Erik menantang, dagunya terangkat. “Atau cuma ngamuk karena ketauan punya anak?”

Ucapan itu membuat beberapa murid tersentak.

Yash tersenyum tipis. “Gue punya,” katanya pelan.

Erik sedikit kaku. “Omong kosong.”

Yash meraih ponselnya dari saku. Jemarinya bergerak cepat, lalu ia mengangkat layar itu, menghadap langsung ke Erik.

Nama itu langsung bikin kelas bergemuruh kecil.
“Isinya lengkap,” lanjut Yash. “Jam pengiriman foto, nomor pengirim pertama, sama nama orang yang nyuruh nyetak dan nempelinnya.”

Yash melangkah satu langkah mendekat.

“Nama lo ada di situ, Rik.”

Wajah Erik berubah. Senyumnya menghilang, rahangnya mengeras.

“Itu bisa dipalsuin,” kata Erik cepat, tapi suaranya tak lagi yakin.

Yash mencondongkan badan sedikit, suaranya direndahkan cukup buat Erik dengar, cukup buat kelas merasa tegang.

“Bokap anak itu bukan gue. Dan dia nggak perlu palsuin apa-apa buat jatuhin anak SMA.”

Erik menelan ludah.

“Lo tau apa lagi yang dia kirim?” lanjut Yash. “Semuanya.”

Ozak bersiul pelan. “Mati lo.”

“Lo udah kebablasan,” kata Yash, kini suaranya datar tapi berat. “Lo seret anak TK buat nyerang gue.”

Erik mengepalkan tangan. “Terus mau lo apa?”

“Terserah lo mau serang gue,” suara Yash meninggi, bergetar karena amarah yang ditahan sejak pagi, “tapi jangan pernah bawa-bawa Arfan dalam masalah gue dan lo! Dia itu cuma anak kecil yang nggak tahu apa-apa!”

Beberapa murid tersentak. Kelas benar-benar hening.

Erik mendecak pelan, bahunya terangkat acuh.
“Gue cuma bilang dia anak lo. Bercanda doang.”

Yash tertawa pendek.  “Bercanda?” 

Dia melangkah satu langkah mendekat. “Berita itu udah ke mana-mana, Rik. Sekolah lain. Guru. Orang tua. Lo pikir panjang nggak?”

Erik menyeringai, jelas tidak menyesal.

“Ya udah, namanya juga gosip. Hidup jangan baper.”

“Lakukan apa pun yang lo mau ke gue,” Yash menunjuk dadanya sendiri, matanya merah menyala.

“Fitnah. Jatuhin. Hancurin reputasi gue. Gue tahan.”

Lalu jarinya beralih menunjuk Erik, tajam seperti pisau.

“Tapi anak kecil?” suaranya turun, lebih berbahaya dari teriakan. “Lo seret anak TK buat mainan ego lo?”

Beberapa murid mulai berbisik tidak nyaman.

“Itu childish,” lanjut Yash, nadanya sinis, menghina. “Dan kelakuan lo goblok.”

Erik tersentak. “Jaga mulut lo—”

“Enggak,” potong Yash dingin. “Lo yang harus jaga otak lo.”

“Ini peringatan terakhir gue,” katanya pelan tapi jelas. “Sekali lagi lo bawa nama Arfan bukan gue yang turun.”

Erik menatap balik, rahangnya mengeras. Tapi untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya yang goyah.
Karena Yash tidak mengancam dengan emosi.
Dia bicara seperti orang yang punya kekuatan di belakangnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SALMONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang