Erik terus memperhatikan gerak-gerik Yash dari kejauhan hingga ponselnya bergetar di tangannya.
Sebuah foto masuk.
[Kata lo dia gak punya adik. Terus anak ini siapa?]
Pesan itu dari Okinawa.
Erik memperbesar foto tersebut.
Yash, dengan seragam sekolah, memeluk seorang anak kecil. Posisi tubuhnya protektif, wajah bocah itu menempel di dada Yash, seolah merasa aman di sana.
Senyum Erik terbit perlahan.
“Ketemu juga celahnya.”
Tanpa buang waktu, Erik menyusun rencana licik di kepalanya. Dia tidak tahu Yash bekerja menjaga anak itu. Tapi dia tahu bocah itu masih TK—dan justru itulah senjata terbaik.
Hari itu juga, foto tersebut menyebar.
Bukan cuma di grup chat sekolah, tapi ke mana-mana. Erik menyuruh orang-orangnya mencetak foto itu dan menempelkannya di beberapa sudut sekolah dekat kantin, tangga, papan pengumuman.
Caption-nya singkat, tapi mematikan.
Ini anak Yash!
Jam istirahat berubah jadi ajang gosip.
“Seriusan dia punya anak?”
“Masih TK… gila sih.”
“Pantesan masuk penjara kayaknya dia hamilin anak orang terus gak tanggung jawab."
“Anaknya siapa? Ibunya ke mana?”
Kata-kata makin liar. Cerita makin dipelintir. Karena Erik anak orang kaya, berita itu merambat cepat menyeberang ke sekolah lain, dibumbui asumsi, diulang tanpa pikir panjang.
Nama Yash kembali jadi bahan gunjingan.
Tak sampai satu jam kemudian, Yash dipanggil.
“Yash, ikut saya ke ruang guru. Sekarang.”
Nada staf TU dingin dan tegas.
Begitu masuk ke ruang guru, suasananya langsung menekan. Beberapa guru sudah menunggu. Wali kelas Yash berdiri dengan tangan menyilang, ekspresinya keras. Kepala sekolah duduk di kursi utama. Di meja, tergeletak beberapa lembar foto yang sama.
“Kamu tahu kenapa kamu dipanggil?” tanya wali kelas tanpa basa-basi.
Yash menelan ludah. “Karena foto itu.”
“Bagus,” sahut Bu Netty cepat. “Sekarang jujur. Anak itu siapa?”
“Bukan anak saya,” jawab Yash tegas.
Wali kelas, Bu Juli mendengus. “Jangan muter. Foto itu jelas kamu peluk anak kecil dan masih TK.”
“Dia anak yang saya jaga.”
Beberapa guru saling pandang, lalu tertawa kecil bukan geli, tapi meremehkan.
“Alasan klasik,” ucap salah satu guru. “Kalau bukan anak kamu, kenapa kamu kelihatan sedekat itu?”
“Kamu tahu dampaknya apa?” potong kepala sekolah.
“Nama sekolah tercoreng. Berita ini sudah sampai ke sekolah lain.”
Yash mengepalkan tangan. “Itu fitnah, Pak.”
“Fitnah atau fakta?” Bu Juli mendekat. “Kamu punya riwayat. Pernah bermasalah hukum. Sekarang ada anak kecil terlibat. Jangan harap kami langsung percaya.”
“Anak itu masih TK,” suara guru BK meninggi. “Kamu sadar betapa tidak pantasnya situasi ini di mata orang tua?”
“Dia bukan anak saya!” Yash membalas lebih keras, emosinya mulai retak.
KAMU SEDANG MEMBACA
SALMON
RandomYash tidak seberuntung kebanyakan orang. Di saat SMA, dia terlibat taruhan besar karena dijebak. Taruhan tersebut memaksanya nekat melamar sebagai bodyguard anak kecil keluarga konglomerat. "Yash! Gue gak nyangka Lo udah punya anak!" "Hah?"
