Chapter 21

8 2 0
                                        

Hari minggu kali ini memberikan cuaca hujan, itu sangat mendukung kemalasan Chio di pagi ini.

Walaupun ia hari ini tinggal di rumah bersama papanya, ia tidak akan dimarahi seperti saat ada mamanya dulu. Toh papanya tidak mungkin peduli dengan dirinya, ia hanya memperdulikan pekerjaannya sepanjang hari.

Trettt trettt trettt

Baru saja Chio bermimpi tentang sesuatu yang indah, sudah ada yang merusaknya. Ponselnya berbunyi dengan nyaring, menampilkan nama seseorang yang Chio tak sempat melihatnya.

"Halo, subuh begini siapa yang nelpon coba," Ucap Chio saat mengangkat telpon itu.

"Subuh!? Ini udah jam 7 Chio!!" Sahut Alicia dari sambungan telfon itu.

Chio yang mendengar itu reflek menjauhkan ponsel dari telinganya, ia tidak menyangkan bahwa itu Alicia. Selain itu ia lupa akan rencana jogging pagi dengan Alicia.

"Astaga! Gue belum siap siap lagi, tunggu bentar nanti gue jemput, bye." Chio menutup panggilan telepon itu dengan kepanikan, karena ia tau bentuk Alicia saat marah itu seperti apa.

"Gue tau lo belum sarapan, gue bawain roti nih, titipan dari bunda," Ucap Alicia saat mereka istirahat duduk di kursi yang ada di taman.

Chio yang mendengar itu langsung mengambil wadah berisi roti bakar yang Alicia berikan, "enak banget kayaknya, makasih ya! ". Alicia terkekeh heran, Chio sangatlah bersemangat pagi hari ini.

"Gue jadi kangen masakan mama, ga kerasa udah lumayan lama ya mama ninggalin gue sendiri," Chio teringat tentang memori ia dan mamanya saat masih ada, mungkin dulu ia hanya merasa itu adalah hal yang biasa, tapi sekarang itu menjadi hal yang paling indah dan hanya bisa ia kenang tanpa merasakannya lagi.

Alicia tersenyum, "minggu depan nanti ke rumah gue ya, kita makan siang sama keluarga gue,"

"Emang boleh?" Tanya Chio sambil memberikan senyuman bahagia.

Mereka sudah menyelesaikan jogging paginya, dan sendari tadi Chio hanya melamun sambil melihat sesuatu yang indah. Itu Alicia.

......

"Woii! Ada yang mau gado-gado ga?" Rio berteriak sambil mengangkat plastik gado-gado yang ia bawa.

Varo menatapnya, "minimal steak daging kek, ini malah gado-gado,"

"Yeu! bearti lu gausah dikasih gado-gadonya," Rio yang menarik kembali plastik itu, lalu menyembunyikan di belakang badannya.

"Bercanda aja gue, jangan dimasukkan ke ginjal plis," Sepertinya kali ini Varo sangat lapar, tidak biasanya ia memohon seperti ini.

"Di mana-mana itu jangan dimasukkan ke hati, kagak ada di ginjal. Lagian siapa juga yang mau masukkin omongan lu ke ginjal, ginjal gue aja gabisa dibuka." Rio heran dengan temannya sendiri, ia merasa sepertinya ia yang paling waras diantara yang lain.

"HEHEHEHE" mendengar perkataan Rio, Varo tertawa dan langsung mengambil plastik yang berisi gado-gado tanpa meminta itu terlebih dahulu.

DUAR

Terdengar suara dobrakan pintu masuk markas yang telah dikunci sebelumnya. Menampilkan beberapa orang yang sepertinya menggunakan baju yang sama.

"DIMANA CHIO!!" Ia berteriak sambil menendang kursi yang ada disana.

Varo tersenyum, "hai bro, jangan buru-buru dulu dong. Lepas dulu itu helm nya" berjalan mengarah ke lelaki itu.

"Sialan Lo!"

"Apaan sih ribut-ribut, orang lagi enak makan gado-gado juga," Rio yang berjalan mendekati sumber suara tanpa melihat siapa yang ada di sana.

Saat Rio melihat siapa yang ada di sana, ia mundur perlahan. "Duh, gue gamau berdebat sama kalian," Ucapnya sambil menekan ponsel genggam untuk menelpon Chio.

"Chio mah gaada disini bro, dia lagi diluar sama calon pacarnya," ucap Varo sambil sedikit bercanda, percayalah saat ini ia sangat panik.

"SIALAN, BISA BISANYA UDAH AMBIL MAMA GUE DAN DIA MAU AMBIL PEREMPUAN ITU JUGA!?" Ia menendang semua yang ada di depannya sambil meninggalkan tempat itu.

"Mama dia?" Arfa yang baru datang dan tak sengaja mendengar perkataan terakhir orang itu.

Varo mulai mendekati Arfa, dengan bingung, "maksudnya apa yang Mahesa bilang?".

Arfa menggelengkan kepalanya, arti bahwa ia sama tidak tau apa yang dimaksud oleh Mahesa. Beribu-ribu pertanyaan yang ada dibenaknya saat ini, dan tidak ada yang terjawab satu pun.

Rio menepuk pundak Arfa yang sejak tadi tak berhenti melamun, ia berfikir Arfa masih mencerna apa yang Mahesa katakan saat mendobrak markas siang tadi.

"Kata gue, lo jangan banyak pikiran deh. Kalo Lo setres, entar yang bantuin ngerjain pr gue siapa?" Varo datang secara tiba-tiba dari arah belakang.

"Yeu kocak, belajar makanya!" Sahut Rio dengan nada emosi.

"Siapa suruh otak gue oon, gue belajar ini yang gue inget itu," Entahlah apakah ini curhatan hati seorang Varo, tidak ada yang tau akan hal itu.

Rio menampilkan wajah muak, "yang bikin otak lo oon kan lo sendri."

Arfa tiba-tiba berdiri, ia berjalan mengarah ke arah parkiran. Ia berfikir bahwa ia harus mencari tau, mungkin ini ada keterkaitan dengannya.

Haloo guys, maaf baru up ya
Maapin plis:)
Sorry typo and thank you🌷

LOVE STORY [Dewjane]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang