~~𝗛𝗮𝗽𝗽𝘆 𝗿𝗲𝗮𝗱𝗶𝗻𝗴 𝗴𝘂𝘆𝘀~~
......
Sepuluh menit berlalu semenjak Alicia yang kembali pingsan karena menghirup asap rokok yang entah dari mana berasal. Chio pun saat itu sudah dilarikan ke UGD bersamaan dengan Alicia.
"Gimana keadaan Alicia?" Hendra yang bertanya pada Tasya yang sudah lebih dulu sampai di sana.
"Alicia baik om, kata dokter setelah infusnya habis udah bisa pulang."
Hembusan nafas lega terdengar dari Hendra dan Linda yang sebelumnya terlihat sangat khwatir dengan kondisi putrinya.
"Terus Chio gimana kabarnya?" Tanya Linda.
Sebenarnya Alicia tidak pernah menceritakan perihal Chio di depan orang tuanya, bahkan tentang Chio yang menjemput dan mengantarnya pun Alicia tidak pernah bercerita sedikitpun. Tapi mereka tetap tau bahwa Alicia selalu bersama Chio.
"Kondisinya lumayan parah tan, tapi udah langsung ditanganin dokter kok," Tasya cukup terkejut dengan pertanyaan yang Linda ucapan padanya.
"Tasyaa, gimana keadaan inces gue?" Claire yang berlari menghampiri Tasya yang saat itu sedang berbincang dengan Linda bundanya Alicia.
"Eh tante... " Ia langsung menyalimi tangan Linda setelah sadar bahwa ada orang tua Alicia disitu.
"Alicia gimana?" Claire kembali menanyakan kondisi Alicia yang belum sempat Tasya jawab.
"Aman kok, bentar lagi sadar,"
"Baguslah kalo kaya gitu, biar gue gak lama-lama disini.
"Jadi kalo Alicia harus rawat inap lo gak mau nemenin gitu?"
"Eh.. Gak gitu... gak ya, " Claire bingung menjelaskannya kepada Tasya yang sangat suka membuat kesimpulan yang konyol.
"Ke kantin yok, gue lapar." Rio yang dari tadi perutnya berbunyi karena lapar.
"Gass!" Sahut Devan, Arfa, dan Alvin bersamaan. Sepertinya mereka sudah menderita kelaparan sejak lima belas menit yang lalu.
"Eh, lo ikut gak?" Ajak Devan kepada Varo yang masih duduk diam.
"Gue disini aja," Varo yang tampak ingin tetap duduk menunggu sebelum ia diperbolehkan masuk menemui Chio di dalam ruangan.
"Yaudah, kita ke kantin dulu." Ucapan mereka hanya dibalas anggukan oleh Varo.
Satu jam berlalu, tidak ada tanda-tanda adanya perwakilan dari keluarga Chio untuk menjenguknya. Dewandra pun sudah dikabari oleh pihak rumah sakit, tapi sampai sekarang belum datang. Apakah Chio tidak ada artinya bagi papanya?
Varo yang melihat seorang perawatan yang terlihat panik saat keluar dari UGD saat itu.
"Mbak, temen saya kenapa?" Tanya Varo dengan tubuh lemasnya saat melihat perawat itu panik.
"Pasien mengalami penghentian detak jantung mas." Perawat itu langsung masuk diikuti dengan dokter yang membawa peralatan medisnya.
Detik itu juga Varo yang awalnya berdiri langsung terduduk lemas di lantai rumah sakit. Perasaan bersalah dan menyesal pertama kali muncul di benaknya saat mendengar perkataan perawat yang berlari memanggil dokter tadi. Ia menyesal karena tidak ikut dengan Chio saat bertemu dengan brigez untuk menyelamatkan Alicia.
"Chio kenapa?" Alvin dan Arfa berlari dari kejauhan karena melihat Varo terduduk di lantai tidak berdaya. Melihat Varo lemas membuat Alvin dan Arfa semakin panik dengan kondisi Chio di dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE STORY [Dewjane]
Dragoste"Oyy, lo napa dari tadi ngeliat ke cewek itu terus?" . . "Bentar, lo kemarin ngapain liatin gue gak selesai-selesai?" Ucap Alicia yang terlanjur penasaran. Sial, bearti dari kemarin gue ketauan lagi liatin dia dong -batin Chio "Ada yang salah ya...
![LOVE STORY [Dewjane]](https://img.wattpad.com/cover/358291295-64-k677813.jpg)