only you.2

67 4 0
                                        

‎ ‎

cast: park jeongwoo × you
happy reading!

.

.

.

Di malam yang indah ini menjadi malam yang paling membingungkan bagi seorang Park Jeongwoo, bagaimana tidak? Lagi dan lagi ia beri pertanyaan seperti itu oleh kamu yang membuatnya bingung harus menjawab dengan kata kata apa agar kamu dapat berhenti mempertanyakannya.

Ditambah sosok yang seharusnya menjadi support system bagi Jeongwoo dalam menata kehidupannya, malah terus membombardir Jeongwoo dengan makian yang ditujukan untuk calon pasangan hidupnya yang membuatnya semakin dihinggapi dengan kebingungan.

Di satu sisi ia sangat menyayangi ibunya yang sudah melahirkannya dan tak kuasa bila harus terus mengeraskan suara bila beradu argumen dengan beliau, tetapi disisi lain ia pun sangat mencintai kamu dan tidak rela jika harus menerima perjodohan sialan itu.

Harus bagaimana ini? Ia tidak mau terus terusan menjadi anak yang tidak tahu diri yang bisanya hanya melawan dan membantah, tapi ia pun tak ingin kehilangan cinta sejatinya begitu saja dengan mengiyakan keinginan sang ibu.

Rasanya ia ingin menghilang saja untuk sementara waktu, itupun jika ia bisa.

Merasa sudah cukup lama untuk dirinya berada diluar, ia pun segera melangkahkan kakinya ke dalam rumah sakit untuk kembali keruangan mu.

.

.

.

Jeongwoo kira kamu sudah lebih dulu mengarungi alam bawah sadar kamu, nyatanya kini kesayangannya itu tengah menonton acara televisi sambil sesekali tertawa akibat melihat salah satu karakter di film nya.

Ia pun berinisiatif untuk duduk di sebelah kamu dan berniat untuk ikut menyaksikan film yang juga menjadi acara televisi kesukaannya, upin & ipin jaman majapahit.

"Kamu gak tidur bi?"

Karena terlalu asik menonton, kamu hanya menjawab dengan gelengan tanpa menoleh kearah Jeongwoo. "Mau makan gak bi?"

Lagi, gelengan kepala yang ia dapatkan sebagai jawaban, namun setelahnya ia menjawab dengan sebuah kalimat. "Mau ice cream woo, boleh?"

Jeongwoo berfikir sebentar sebelum menjawab. "Boleh, tapi jangan banyak banyak ya?"

"Iyaa!" Sahut kamu senang. "Tapi aku mau ikut belinya woo, boleh?"

Tak mau membuat senyum bahagia di wajah kamu luntur, Jeongwoo pun mengiyakan kemauan kamu dengan wajah yang ikut tersenyum. "Yaudah ayo, tapi pake jaket aku ya pas keluarnya? soalnya diluar dingin."

"Terus kamu nya pake apa kalau jaketnya aku pake?" Tanya kamu.

"Aku kan masih ada kaos ini sayang, yakali aku gak pake apa apa kesananya," Jeongwoo sedikit terkekeh dengan pertanyaan kamu yang membuatnya gemas sendiri itu. "Nurut ya bi sama aku atau kita gak jadi pergi nih?"

"Iya iya deh aku nurut, tapi kalau kedinginan langsung bilang ke aku ya? nanti aku peluk kamu erat erat biar kamu gak kedinginan!"

Karena kepalang gemas terhadap kelakuan kamu, Jeongwoo pun memeluk erat erat pasangannya itu dengan sayang. "Iyaa sayang nanti aku bilang, gemes banget sih heran kesayangan aku ini."

"Sayang Park Jeongwoo banyak banyak!"

"Sayang Park y/n juga banyak banyak!"

Malam yang sebelumnya suram bagi Jeongwoo kini menjadi terang benderang bagi kalian berdua, kalian benar benar menghabiskan waktu bersama dan mengukir kebahagian demi kebahagian di malam itu, melupakan tragedi mencekam tadi siang yang membuat keduanya diliputi rasa canggung.

Jeongwoo senang, setidaknya kamu dan Jeongwoo masih diberikan kesempatan untuk sedikit merasakan kesenangan duniawi yang perlahan lahan akan menghilang dikemudian hari.

Ia pun tak ada henti hentinya mengucapkan terima kasih kepada sang pelukis karena telah menciptakan sebuah mahakarya yang nyaris sempurna dengan kecantikan hati yang tidak bisa disandingkan dengan siapapun kecuali dengan sang penciptanya.

Sungguh hanya kamu, ciptaannya yang membuat Jeongwoo mengerti apa itu arti kehidupan yang sebenarnya.

.

.

.

Seperti kata pepatah, bahwa 'usaha tidak akan mengkhianati hasil' itu nyata terjadi di kehidupan seorang Park Jeongwoo. Setelah banyaknya keringat serta doa yang ia tetap usahakan demi kesembuhan kamu, akhirnya membuahkan hasil yang sangat mereka nantikan selama bertahun tahun lamanya.

Kanker yang menggerogoti tubuhmu kini sudah sepenuhnya menghilang di tubuhmu yang membuat kalian sedikit keheranan. Pasalnya penyakit yang diderita mu itu sudah mencapai stadium akhir yang mana sangat sulit sekali peluang untuk bisa normal kembali.

Namun nyatanya takdir berkata lain, kamu dinyatakan benar benar terlepas dari penyakit tersebut yang membuat kalian senang bukan main, bahkan Jeongwoo pun sampai memeluk kamu dengan erat saking bahagianya.

Lagi dan lagi ia sangat banyak banyak berterimakasih kepada sang pencipta karena telah berbaik hati pada Jeongwoo, dan sekarang ia juga sadar bahwa selama ini tuhannya pasti mendengarkan segala keluh kesahnya, maka dari itu di hari ini, semua yang ia keluhkan dapat di hilangkan atas kehendaknya.

Setelah ini ia juga akan meminta agar sang ibu mau merestui keduanya, siapa tau saja lagi lagi permohonannya akan didengarnya dan dikabulkan pada hari itu juga, semoga saja ya.

Setelah hampir setengah jam berkemas, kini keduanya telah siap untuk kembali kerumah dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah keduanya.

Sungguh, ucapan dokter pagi hari tadi bagaikan sebuah kejutan yang tak disangka sangka oleh keduanya, jadi tidak menutup kemungkinan bila mereka akan tersenyum terus menerus disepanjang perjalannya.

Meskipun jika dilihat oleh orang awam mereka akan di sebut sebagai orang yang 'hilang akal' akibat tingkah lakunya tersebut.

Namun belum sempat Jeongwoo memarkirkan kendaraannya dipekarangan rumahnya, seseorang sudah lebih dulu menghentikan kendaraannya yang membuat Jeongwoo harus meletakkan kendaraan bermotor tersebut disembarang tempat.

"Ada apa lagi ma?" Ya tak usah ditebak pun pasti kalian sudah mengetahui siapa yang datang kekediaman keduanya.

"Kamu nanya sama mama ada apa lagi? Serius nanya begitu sama mama? Waras gak kamu woo?" Balas mama Park berapi api.

Jujur, Jeongwoo muak dengan sang ibu, mendatanginya hanya untuk memaksanya mengiyakan keinginannya. Harus dijelaskan dengan bahasa apa lagi agar ibunya mengerti? Bahwa dirinya tak mau menerima apa yang tak ia suka.

"Jeongwoo gak mau ma."

"Kamu harus mau woo, kamu harus mau, ini bukan tempat kamu nak, kamu gak pantes buat tinggal di tempat sampah kayak gini nak, ayo pulang!"

"Ini memang bukan tempat Jeongwoo, tapi mulai sekarang dan seterusnya, ini akan menjadi tempat Jeongwoo dan yang harus mama inget ini tuh rumah, bukan tempat sampah!" Jawabnya tak mau kalah namun dengan intonasi suara yang enak didengar.

"Please woo, kali ini tolong dengerin omongan mama sekali aja nak, ini semua demi kebaikan kamu!"

Seakan tak menyerah, sang ibu terus saja membujuk anaknya agar mau pergi bersamanya dan meninggalkan mu. Namun lelaki Park itu juga tetap bersikeras untuk mempertahankan segalanya hanya untuk bisa terus bersamamu.

"Jeongwoo tegaskan sekali lagi ya ma, kalau sampai kapanpun Jeongwoo gak akan pernah meninggalkan y/n!"

tbc.

don't skip vote and comment after reading this stories, thank you!

ー april 23, 2026.

[ii] treasure imagine Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang