cast: watanabe haruto × you
happy reading!
.
.
.
"Haruto, mau sampai kapan kamu kasar sama aku? Aku itu istri kamu loh!"
Haruto yang mendengarnya itu langsung menyunggingkan senyum khas nya dengan sorot matanya yang penuh akan kebencian. "Istri? Lo lebih pantes disebut sebagai pembunuh daripada dipanggil istri."
"Karena sampai kapanpun gue gak bakalan sudi buat nganggep lo sebagai istri gue!"
.
.
.
Mama mertua mu menghela nafas panjang yang terasa memilukan untuk didengar. Maniknya menatapmu dengan rasa iba. Pikirnya kini sibuk mencari solusi untuk semua permasalah yang tak kunjung mendapat jawaban.
Andai saja waktu itu suaminya tak menjodohkan kamu dengan Haruto yang sama sekali tak memiliki rasa, pasti tidak akan begini akhirnya.
Mama mertua mu selalu mendapati kamu menangis, terluka dan tersiksa karena ulah Haruto. Anak kandungnya sendiri.
Namun mau bagaimana lagi? Ia tak bisa berbuat apapun selain menguatkan mu dengan kata kata sederhana. Ya walaupun itu semua jelas sama sekali tidak memberikan pengaruh besar bagi kehidupan mu.
Semuanya masih terasa sama hari hari berikutnya. Tiada suara canda tawa dan kebahagian, yang ada justru hanyalah suara siksaan dan juga tangisan yang bergema di seluruh ruangan. Setiap detik, menit, jam, dan tentu saja. Setiap hari.
"Maafin mama ya sayang? Gara gara mama, hidup kamu jadi menderita," ucapnya nyaris berbisik seakan tak kuat lagi bila harus melihatmu seperti itu.
Seperti mayat yang diberi nyawa. Tetap hidup walaupun jiwanya telah redup.
"Mama jangan nyalahin diri sendiri terus yah? Ini semua bukan salah mama," balasmu tak kalah pelan dengan suara mama mertua mu. "Tapi takdir aku emang begini..."
Mama mertua mu jelas tau kalau itu bukanlah suratan takdir, melainkan nasib yang sengaja dirubah hanya untuk kepentingan pribadi, kepentingan bisnis. Dan itu jelas membuat menantu nya tersiksa bahkan frustasi diwaktu yang bersamaan.
"Mama gak salah kok," kamu tersenyum, berusaha menguatkan, padahal keduanya sama sama terluka.
Mama mertua mu terluka karena anak kandungnya.
Dan kamu yang terluka karena suami mu sendiri.
"Jadi berhenti buat minta maaf ya?" lanjut kamu. "Karena yang buat aku bisa bertahan sejauh ini ya cuma mama."
"Jadi berhenti buat nyalahin diri sendiri ya? Karena mama tuh berarti banget buat aku," ucap mu lagi seraya membawa mama mertua mu ke pelukanmu. "Makasih ya ma? Aku bener bener sayang sama mama."
"Mama yang harusnya bilang makasih, makasih karena udah bertahan sejauh ini."
"Iya mah sama sama," jawab mu. "Sekarang kita pulang ya ma? Udah sore soalnya."
"Iya, ayo."
Keduanya berjalan berbarengan sembari melihat matahari yang sebentar lagi akan menghilang dari pandangan.
Sesekali keduanya berbicara mengenai hal hal random, sampai sampai mereka tak sadar bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang semakin merusak kehidupan mu kedepannya.
"Setelah ini mama mau makan apa? biー y/n AWAS!"
Bagai petir disiang bolong, semuanya tak bisa terhindarkan, bahkan untuk memejamkan mata pun tak bisa. Seakan semuanya terhenti begitu saja tanpa tau siapa yang memberhentikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[ii] treasure imagine
Fiksi Penggemarhanya hasil tulisan yang di pindahkan dan didaur ulang disini. hope u like it! ー slow update & random typing ! ー sorry for typo(s)! don't plagiarisme please!
![[ii] treasure imagine](https://img.wattpad.com/cover/353137793-64-k115872.jpg)