waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, namun Ryuha dan Jaena masih duduk diam di balkon kamarnya masing masing. tanpa ada interaksi, hanya memandang langit yang penuh dengan bintang bintang kemerlap.
''na, apa kamu nggak kedinginan?.'' tanya Ryuha saat angin menerpa wajahnya.
''dingin, tapi masih mau disini nemenin una.'' ujarnya.
''masuk na, nanti kamu sakit.''
''kalau aku sakit, una juga pasti sakit. begitupun sebaliknya, iya kan.'' mendengar ucapan manis saudara kembarnya Ryuha tertegun.
Ryuha mengangguk, lalu dengan cepat menghapus air matanya.
''jika seperti itu, kenapa kamu menganggapku sebagai musuh dan saingan?.''
''aku nggak mau menjadi peran antagonis di cerita kamu, una. aku bukan duri di kehidupanmu.''
''bukan salah aku bunda pilih kasih di antara kita, bukan salahku Jeno memilih aku sebagai pendamping hidupnya. bukan salah aku una.'' tangisannya pecah. Jaena meluapkan semua rasa yang terpendam begitu lama.
nafas Ryuha tercekat, rasanya susah sekali untuk bernafas. matanya pun ikut memanas menahan tangis.
''nana.'' lirih Ryuha.
''tapi itu semua juga bukan salah kamu, kamu berhak bahagia. jadi stop pikirin kebagahagian orang lain, dan carilah kebahagiaanmu sendiri.''
''kalian belum tidur?.'' suara yang menggema itu membuat saudara kembar itu sedikit kaget.
Jaena yang terlebih dahulu bangkit dari duduknya untuk mencari sumber suara yang ia yakini milik ayahnya, lalu diikuti Ryuha yang juga keluar dari kamarnya masing masing.
''ayah.... bunda....'' teriak Jaena berjalan perlahan menuruni tangga. sedangkan Ryuha hanya mengamati sekitar, sambil langkahnya mengikuti kemana langkah Jaena berpijak.
Rumah yang nampak megah itu terlihat sangat sunyi kala malam tiba, hanya ada suara jam tua yang masih berdetak di ruang tengah mansion.
''na, lebih baik kita kembali, aku takut suara itu bukan milik ayah.'' ucap Ryuha yang merasa takut oleh keadaan yang sedikit mencekram.
''tenang lah, disini aman tidak ada hantu ataupun sejenisnya.'' ujar Jaena mantap, seperti tau ketakutan apa yang Ryuha rasakan.
siluet mata Ryuha melihat adanya cahaya yang berkedip di taman belakang mansion, hal itu membuat bulu kuduk Ryuha meremang. entahlah, untuk hal mistik dan sejenisnya Ryuha sangat penakut, berbeda dengan Jaena yang tampak santai mengitari mansion nakamoto.
''na, kita ke kamar ayah aja yuk, aku beneran takut.'' pinta Ryuha, sedikit memelas.
''tapi aku
belum kelar Jaena berucap, Ryuha menunjuk kearah taman belakang, yang dimana cahaya itu masih saja berkedip.
Jaena memang berani, tidak ada yang anak itu takutkan. bukannya berlari kedalam kamar, Ryuha justru semakin bersemangat, langkah kakinya semakin lebar melangkah. membuat Ryuha mau tak mau mengikuti kembarannya itu.
''siapa disana ?.'' teriak Jaena yang sudah berdiri di batas antara mansion dan halaman belakang, yang terhalang oleh kaca tebal.
diam, tidak ada balasan sama sekali. justu kini ada suara seperti barang yang sengaja di jatuhkan.
''HEI.... jangan macam macam ya di mansion Nakamoto.''
karna tidak ada balasan, Jaena pun tanpa pikir panjang langsung membuka kava penghalang.
betapa kagetnya saat melihat keluarga tengah berkumpul melihat kearahnya , sambil membawa bunga dan balon bewarna putih.
''suprise.'' teriak semua keluarga Nakamoto.
KAMU SEDANG MEMBACA
Consort ( Jung's royal)
Fanfictioncinta dan kejujuran saja tidak cukup untuk membuat suatu hubungan berjalan dengan lancar. #jaeyong #jaeren #jungfams #nafams
